Ujian Pendadaran


Suatu episode kehidupan yang masih menjadi impian bagi para mahasiswa yang tengah menyusuri long journey mengerjakan skripsi. Apalagi yang sekarang masih cari ide, cari judul, atau menyusun proposal. Ya, skripsi memang unik, khas dan penuh lika-liku bagi pelakunya. Meski tak semua, namun sebagian besar mahasiswa (sarjana) punya pengalaman yang tiada duanya soal yang satu ini.

Ada seorang kakak angkatan yang gemar ikut berbagai ikut lomba karya tulis. Mulai dari esai, artikel, karya tulis ilmiah, program kreativitas mahasiswa, debat, hingga mahasiswa berprestasi. Tapi sampai kini ia tak lekas merampungkan skripsinya. Katanya sih karena cari hiburan :) Keasyikan menghibur diri sampai lupa mengerjakan skripsi. Ketika ditanya sampai mana skripsinya, “Belum diapa-apain lagi..” Tapi, alhamdulillah ada kabar yang tersiar bahwa ia sebentar lagi akan menjalani ujian penceplokan, eh pendadaran dink.. :D

Ada seorang teman tetangga fakultas yang merampungkan skripsinya dalam waktu sepekan saja. Ia memenjarakan dirinya di kamar, menyingsingkan lengan baju, memasang ikat kepala, lembur siang malam, maraton mengerjakan skripsi, dan akhirnya rampung juga. Ia beruntung karena punya teman-teman yang rela menjadi panitia penggarapan skripsinya. Ada yang membantu mencarikan camilan, makanan, minuman, bahkan ‘dopping‘. Ada yang membantu mencari referensi, ada yang membantu mengetik, ada yang bantu mijitin (*lebay.com :P), pokoknya disupport teamwork yang komplit and solid lah.. Inilah gunanya teman.. (*jadi ingat iklan produk tertentu :D)

Nah, ada pula seorang mahasiswa yang dari dulu kalau ditanya skripsinya sampai mana, jawabnya, “Masih nyusun proposal..” Nyusun proposal kok nggak rampung-rampung? Sampai teman-teman sekelas, seangkatan bahkan adik-adik angkatannya lulus satu per satu.. Hiks T.T nelangsa tenan anak yang satu ini.. Sampai suatu ketika, teman satu tim penelitian dengannya tiba saatnya untuk menjalani ujian pendadaran. Ia pun diundang dan datang menghadirinya. Ini adalah kali pertamanya ia menyaksikan secara live (*bukan siaran ulang :P) ujian pendadaran.. Nah lho?! Selama ini ke mane aje???

Temannya yang sedang menjalani ujian pendadaran duduk di depan kelas (yang biasanya untuk kuliah genetika lanjut) menghadap layar LCD sebuah komputer jinjing dengan wajah yang tegang. Di hadapan sang teruji duduk empat orang dosen, satu dosen pembimbing, dan tiga dosen penguji. Selisih dua deret kursi di belakang para dosen itu duduk berjejer-jejer dua shaf kursi teman sekelas sang teruji. Suasana hening, hanya suara ketukan keyboard laptop yang dipijit-pijit sang teruji, suara angin yang bertiup masuk ke sela-sela jendela, serta hembusan nafas manusia di ruang kelas itu yang terdengar. Saksi ujian tak kalah tegang dengan yang sedang diuji..

Sampai tiba sesi tanya jawab, “Dag.. dig.. dug.. Dag.. dig.. dug..” Jantung berdegup kencang, lain dari biasanya. Napas tertahan, telinga dipasang lebar-lebar, para saksi ‘eksekusi’ menanti-nanti pertanyaan yang meluncur dari mulut para ‘eksekutor’. “Pada judul Anda terdapat kata ‘xyz’, apa yang Anda maksud dengan ‘xyz’?”

Yang diuji berpikir (keras) sejenak, menghela napas, lalu menjawab dengan agak terbata-bata. Para saksi nampak ikut merasakan bagaimana tegangnya menjawab pertanyaan dosen penyuji. Pikiran anak itu melayang, ia membayangkan kalau dirinya di posisi yang sedang ujian sekarang, mungkin ia tidak bisa menjawabnya.   ……   Alhamdulillaah, yang diuji bisa menjawab pertanyaan para dosen penguji meski dengan jawaban yang berputar-putar. Sepertinya jawaban tak seperti yang diinginkan penguji. Penguji pun memancing dengan pertanyaan lain yang inti pertanyaannya sama, tapi yang diuji masih bersikukuh, jawabannya tidak berbeda dengan yang sebelumnya. Membuat dosen penguji tersenyum-senyum ‘gemes’. Kata demi kata dikupas, data demi data yang tersaji dipertanyakan, metode penelitian dikorek-korek, mengapa memakai uji ini, mengapa kesimpulannya seperti ini sementara data Anda seperti itu. Huft!  Sungguh menegangkan..

Hingga suatu waktu ketika adzan ashar berkumandang. Para dosen penguji bergegas mengakhiri ujian pendadaran di siang yang mendung itu. Dosen pembimbing yang juga moderator ujian pun mengumumkan bahwa terdadar telah lulus ujian ‘dengan revisi’. Lega… Haru campur bahagia tersirat dari wajah yang diuji. Satu per satu dosen di hadapannya ia salami sambil membungkukkan badan, lalu teman-teman sekelasnya satu persatu menyalami, memeluk terharu, sambil mengucapkan selamat..

Air mata anak itu tertahan di kelenjarnya, tak sampai menetes, hampir berkaca-kaca. Ia bergegas keluar kelas. Langit mendung, gelap, pertanda hujan akan segera datang. Dalam perjalanannya menuju ndalem Notorahardjan hujan pun turun, ia berdo’a di waktu yang makbul itu agar skripsinya segera tuntas..

Toragan, 15 Mei 2011 @22:07 WIB

One response to “Ujian Pendadaran

  1. jadi yang pendadaran temannya? :D

    zen:
    hehe :D iya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s