Arsip untuk ‘Inspirasi’ Kategori

“Setelah Kemenangan Barack Hussein Obama”

November 18, 2008

Banyak orang menyambut gembira kemenangan Barack Hussein Obama. Apakah mungkin seorang Obama akan mampu mengubah kebijakan terhadap Israel semacam ini? Baca Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian Husaini ke-248

Oleh: Adian Husaini

Rabu (6 November 2008) siang waktu Indonesia, Barack Hussein Obama akhirnya jadi Presiden Amerika Serikat ke-44. Dunia gembira. Sorak sorai di mana-mana. Tak sedikit yang mengucurkan air mata. Anak imigran berkulit hitam keturunan Afro-Amerika berhasil menjebol tembok rasialis yang kokoh tertanam 232 tahun sejak Amerika merdeka, 1776.

Tak terkecuali di Indonesia. Sejumlah stasiun TV menayangkan saudara-saudara dan kawan-kawan Obama yang bersuka cita, bangga, berurai air mata bahagia menyambut kemenangan Obama. Dia pun dapat julukan mentereng: ’anak Menteng’. Syahdan, dia pernah tinggal 3,5 tahun di Indonesia.

Ya, Obama membuat sejarah. Di Amerika dan di dunia. Umat Islam pun turut gembira. Sejumlah tokoh yang biasa muncul di media mengumbar kata-kata penuh harap. Obama akan beda dengan pendahulunya, George Bush, yang sering dijuluki sang pengumbar angkara. Obama akan mau bicara; bukan hanya mengumbar senjata.

Obama muncul ketika dunia sedang sakit. Amerika sakit. Eropa sakit. Indonesia juga sakit. Krisis ekonomi, kerusakan lingkungan, perang yang tiada henti, semakin membuat banyak penduduk bumi frustrasi. Cara apalagi yang bisa digunakan untuk menyulap dunia menjadi rumah damai? Banyak yang kemudian putus asanya. Patah arang.

Padahal, dunia sedang merindukan obat mujarab untuk keluar dari krisis. Dan Obama muncul pada saat yang tepat. Penampilannya luar biasa. Pidatonya menyihir milyaran umat manusia. Dia mengawali pidato dengan kata-kata memukau: “If there is anyone out there who still doubts that America is a place where all things are possible, who still wonders if the dream of our founders is alive in our time, who still questions the power of our democracy, tonight is your answer”.

Luarrr biasa! Jika ada yang masih ragu bahwa di Amerika segala sesuatu bisa terjadi, kata Obama, maka dia sudah membuktikannya! Dia bisa jadi Presiden Amerika dalam usia belia. Keturunan warga kulit hitam yang ratusan tahun dijadikan sebagai budak dan diinjak-injak, justru kemudian membalik sejarah. Dia menjadi pemimpin negara adikuasa. Itu Obama bin Hussein!

Jangan terlalu berharap!

Kemenangan Obama tentu menyiratkan harapan besar. Setidaknya, masih ada yang bisa diharap. Tapi, untuk mengubah kebijakan luar negeri AS, bukanlah perkara mudah. Mantan pejabat Deplu Amerika, William Blum, dalam bukunya Rouge State: A Guide to the World’s Only Superpower (2002), pernah mengajukan resep untuk mengakhiri kemelut internasional dan menciptakan rasa aman bagi warga AS: (1) minta maaf kepada semua janda dan anak yatim, orang-orang yang terluka dan termiskinkan akibat ulah imperialisme AS, (2) umumkan dengan jiwa tulus ke seluruh pelosok dunia, bahwa intervensi global AS telah berakhir (3) umumkan bahwa Israel tidak lagi menjadi negara bagian AS yang ke-51 (4) potong anggaran belanja pertahanan AS, sekurangnya 90 persen.

Kata Blum, itulah program tiga harinya di Gedung Putih, andaikan dia diangkat menjadi Presiden AS. Hanya saja, katanya, “On the fourth day, I’d be assassinated.”

Blum menggambarkan betapa peliknya problem politik luar negeri AS. Sifat ofensifnya sudah sangat mencengkeram dunia. Tidak mudah bagi Presiden siapa pun untuk mengubah tradisi imperialistik semacam itu. Film JFK garapan Oliver Stone menggambarkan bagaimana terbunuhnya John F. Kennedy juga tak lepas dari benturannya dengan ’kepentingan besar’ tersebut. Mampukah Obama membuat sejarah baru dalam hal ini? Kita tunggu saja! Toh, dia sudah berpidato: ”America is a place where all things are possible.”

Rumus serupa juga pernah disampaikan perumus teori dependensia dan strukturalisme, Prof Johan Galtung, dalam wawancaranya dengan harian Kompas di Jakarta (17/11/2002). Ketika itu, Galtung ditanya tentang penyelesaian soal peristiwa 11 September 2001 dan program perang melawan terorisme yang dipimpin Amerika Serikat (AS). Jawab Prof. Galtung: “Dibanding serangan yang pernah dilakukan teroris, terorisme negara yang dilakukan AS jauh lebih berbahaya karena menggabungkan fundamentalisme agama dan fundamentalisme pasar. Serangan AS terhadap Afganistan memenuhi kriteria tindakan teroris.”

Penerima Right Livelihood Award tahun 1987 ini mengaku berulangkali menjawab pertanyaan soal serangan 11 September 2001: “Tangkap pelakunya dan ubah kebijakan luar negeri AS!” Ia juga berkirim surat kepada Presiden AS George W Bush – yang isinya meminta AS mengubah politik luar negeri, mengakui negara Palestina, meminta maaf karena sering mencampuri urusan negara lain, melanggar hukum internasional, dan tidak menghormati Islam. Tapi, suratnya, memang tidak digubris. “Saya tidak tahu apakah Bush membaca surat itu. Tetapi, yang dilakukan justru sebaliknya,” ujarnya.

Imperialisme Barat yang melahirkan kezaliman global, seperti yang dinyatakan Blum bukanlah isapan jempol belaka. Mengutip pendapat Prof. Noam Chomsky, dalam bukunya, Year 501: The Conquest Continues, Ketua Just World Trust (JUST) Malaysia, SM Mohammed Idris menulis:

“Penaklukan bagi Dunia Baru, dalam sejarah peradaban, telah berakibat pada dua katastrofi demografik yang sangat luas, yang tidak saling berkaitan: pemusnahan yang sungguh-sungguh atas penduduk susku-suku asli yang tinggal di kawasan Barat dan penghancuran bangsa-bangsa Afrika dengan memperbudak penduduknya dan memperjualbelikannya dalam ekspansi besar-besaran demi memenuhi keserakahan para penakluk… Ketika keadaan telah berubah, tema fundamental dari penaklukan tetap bertahan dalam vitalitas dan daya lentingnya, dan akan terus berlanjut sedemikian sehingga dalam kesadaran tentang sebab-sebab ketidakadilan nan ganas yang betul-betul dikemukakan secara jujur dan terbuka.” (Lihat, Candra Muzaffar dkk., Human’s Wrong: Rekor Buruk Dominasi Barat atas Hak Asasi Manusia, (Yogya: Pilar Media, 2007), hal. 446).

Untuk mempertahankan hegemoninya, berbagai instrumen – politik, ekonomi, budaya, ideologi, militer – digunakan. Hingga kini, meskipun didesak sebagian besar negara-negara dunia, AS dan sekutunya tetap enggan melepas hak istimewa ’veto’ di PBB. Hak istimewa atas penguasaan persenjataan nuklir juga terus dipertahankan. Sebab, AS dan sekutunya memang memposisikan diri sebagai ”malaikat” dan musuh-musuh mereka diposisikan sebagai ”poros setan” (axis of evil). Dalam kasus dunia Islam, hak istimewa Negara Yahudi Israel tetap dilindungi, meskipun laporan kebiadaban dan pelenggaran HAM Israel telah menumpuk di markas PBB. Setiap Presiden AS – baik dari Partai Demokrat atau Republik – masih tetap menjalankan politik luar negeri yang tidak masuk akal dalam membela negara zionis tersebut.

Literatur yang mengupas hubungan spesial antara AS dan Israel sangat melimpah. Bernard Reich, misalnya, dalam artikelnya berjudul ‘The United States and Israel: The Nature of a Special Relationship (yang dimuat dalam buku The Middle East and The United States: A Historical and Political Reassessment (ed. David W. Lesch), Westview Press, 1996), menggambarkan tradisi tiap Presiden AS untuk membuat pernyataan berisi komitmen untuk mempertahankan hubungan spesial antara AS dan Israel. Berbagai upaya perdamaian Israel-Palestina pertama kali harus menjamin kepentingan Israel. untuk

Presiden Bill Clinton, misalnya, membuat pernyataan: “In working for peace in the Middle East, a first pillar is the security of Israel.”

Bantuan-bantuan AS terhadap Israel yang sangat fantastis diungkap oleh Paul Findley dalam bukunya Deliberate Deceptions: Facing the Facts about the US-Israeli Relationship. Setiap tahun, negara Yahudi berpenduduk sekitar 6 juta jiwa ini menerima bantuan AS yang jumlahnya melampaui bantuan yang diberikan pada negara-negara lainnya. Sejak tahun 1987, bantuan ekonomi dan militer langsung berjumlah 3 milyar USD atau lebih. Antara 1949 sampai akhir 1991, pemerintah AS telah memberikan dana senilai 53 milyar USD kepada Israel dalam bentuk bantuan maupun keuntungan-keuntungan istimewa. Jumlah itu setara dengan 13 persen dari semua bantuan ekonomi dan militer AS ke seluruh dunia dalam kurun yang sama. Sejak perjanjian damai Mesir-Israel tahun 1979 sampai 1991, jumlah total bantuan AS ke Israel mencapai 40,1 milyar USD, atau setara dengan 21,5 persen dari semua bantuan AS, termasuk semua bantuan bilateral maupun multilateral. Tahun 1992, Senator Robert Byrd dari Virginia Barat, mengungkapkan data-data yang menunjukkan begitu royalnya bantuan AS kepada Israel. Dia katakan: “Kita telah memberikan bantuan luar negeri kepada Israel selama beberapa dasawarsa dengan jumlah dan syarat-syarat yang belum pernah diberikan kepada satu negeri mana pun di dunia ini. Sekutu-sekutu Eropa kita, sebagai perbandingan, hampir tidak memberikan apa-apa.”

Apakah mungkin seorang Obama akan mampu mengubah kebijakan terhadap Israel semacam ini? Hingga kini, tanda-tanda itu belum ada sama sekali! Kondisi internal politik AS, kekuatan lobi Yahudi, dan dinamika politik dalam negeri Israel sendiri, beberapa kali menjadi faktor penghambat pembentukan negara Palestina merdeka. Perjanjian Camp David II di Presiden Clinton berakhir dengan kegagalan. Presiden George W. Bush sempat berkoar akan merealisasikan pembentukan negara Palestina tahun 2005. Tapi, ujungnya juga kegagalan. Memang, secara substansial, Obama diduga akan sama saja dengan pendahulunya. Tapi, apa salahnya berharap ada perubahan. Toh Obama sudah terlanjur bicara: “America is a place where all things are possible.”

Soal Palestina dipandang oleh berbagai kalangan sebagai isu terpenting dalam penyelesaian masalah terorisme. Berbagai pemimpin dunia Islam sudah mengimbau agar AS mengubah kebijakan anti-terornya yang jelas-jelas menganakemaskan Israel. Kelompok perlawanan Hamas dicap sebagai teroris. Sedangkan Israel justru diangkat sebagai sekutu utama dalam pemberantasan terorisme. Bahkan, Prof. Chomsky sendiri tak segan-segan mengkritik negaranya: “We should not forget that the US itself is a leading terrorist state.

Masalahnya lebih pelik ketika isu terorisme bukanlah isu yang harus diselesaikan, tetapi justru isu yang direkayasa untuk memberikan justifikasi keberlangsungan industri persenjataan di AS. Jika tidak ada musuh lagi, peperangan tiada lagi, bagaimana nasib industri senjata? Maka, tidaklah berlebihan, ketika Huntington menulis dalam buku populernya, The Clash of Civilizations and the Remaking of World Order (1996), bahwa keberadaan musuh harus tetap dipertahankan. ”For self definition and motivation people need enemies,” tulis Huntington.

Pasca Perang Dingin, hubungan AS-Dunia Islam bahkan lebih pelik lagi. Strategi preemptive strike (serangan dini) yang dijalankan AS semakin menggencarkan penyebaran paham liberal keagamaan di dunia Islam. AS mengucurkan dana besar-besaran kepada kelompok-kelompok dan kalangan Muslim tertentu untuk membangun apa yang disebutnya sebagai ’Islam progresif’. Isu-isu liberalisasi, kesetaraan gender, pluralisme agama, multikulturalisme, dan sebagainya menjadi isu-isu favorit bagi AS dan LSM-LSM bentukannya.

Dalam masalah ini, AS bertindak lebih jauh dibanding kolonial Belanda dulu. Kebijakan untuk mengubah kurikulum dan pemikiran Islam dijadikan sasaran penting oleh AS dan negera-negara Barat lain. Ini pernah diungkapkan oleh Menhan AS, Donald Rumsfeld. Dengan alasan membendung arus terorisme, Donald Rumsfeld, pada 16 Oktober 2003, meluncurkan sebuah memo: “AS perlu menciptakan lembaga donor untuk mengubah kurikulum pendidikan Islam yang radikal menjadi moderat. Lembaga pendidikan Islam bisa lebih cepat menumbuhkan teroris baru, lebih cepat dibandingkan kemampuan AS untuk menangkap atau membunuh mereka. (Republika, 3/12/2005).

Karena itu, tidak mudah bagi Obama untuk keluar dari ’jaring-jaring kebijakan global’ seperti ini. Banyak pemimpin Barat yang menghendaki umat Islam mengubah pikirannya agar menyesuaikan diri dengan ’dunia modern’. Dan tanpa disuruh pun, sudah banyak kalangan cendekiawan yang sudah menjalankan perintah Barat, karena keberhasilan program ’cuci otak’. Maka tidak heran, jika ekspor paham liberal ke tengah-tengah umat Islam tampaknya akan berjalan terus. Apalagi, Partai Demokrat pun memiliki kebijakan moral dan agama yang lebih liberal dibanding Republik. Bisa-bisa, politik belah bambu akan terus dijalankan: kelompok-kelompok liberal di Indonesia akan semakin diangkat ke atas, dan kaum non-liberal semakin diinjak.

Identitas keislaman Obama bisa menjadi batu sandungan psikologis bagi dirinya. Tudingan bahwa dirinya akan lebih mendekat ke Islam, malah bisa membuat dia ingin menunjukkan sikap sebaliknya. Setidaknya, Obama akan bersikap jauh lebih hati-hati dalam soal Islam. Maka, dalam kaitan ini, Obama diduga tidak akan banyak berbeda dengan pendahulunya. Politik Islam AS tetap berpegang pada norma internasional: diabdikan untuk kepentingan nasionalnya sendiri. Jadi, tidaklah realistis berharap terlalu banyak pada Obama. Hanya saja, sekali lagi, boleh-boleh saja berharap sedikit. Toh, Obama sudah terlanjur berkata, di Amerika, segala sesuatu mungkin saja terjadi: “America is a place where all things are possible.”

Jadi, dalam situasi yang berat tersebut, umat Islam sebaiknya tidak terlalu berharap serius pada seorang Obama. Kemenangan Obama adalah sebuah drama (tontonan) yang menarik. Ibarat obat sakit kepala, Obama bisa meringankan pusing sejenak. Nantinya, entahlah! Tentu, lebih menarik andaikan tontonan ini dilanjutkan ke babak berikutnya: Obama bin Hussein bertemu dengan Osama bin Ladin. Dua tokoh puncak dunia bertemu. Dunia mungkin akan segera damai. Pabrik senjata gulung tikar. Tentara AS pulang kandang. Ini memang mimpi. Tapi, bukankah kata Obama, di AS semua bisa terjadi dan AS juga dibangun oleh mimpi para pendirinya?

Maka, tidak ada salahnya, kita bermimpi di atas mimpi. Toh mimpi masih bebas pajak di negara Republik Indonesia. [Depok, 7 November 2008/www.hidayatullah.com]

Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian Husaini adalah hasil kerjasama antara Radio Dakta 107 FM dan www.hidayatullah.com

Diambil secara utuh dari www.hidayatullah.com edisi Senin, 10 November 2008.

Dakwah Tauhid Tidak Up To Date Lagi?

Mei 14, 2008

Assalamualaikum

Membaca jawaban tentang ‘apakah ustad anti wahabi?’ apakah betul ustad bahwa dakwah tauhid sudah tidak up to date lagi. bukankah yang menjadi prioritas utama para nabi adalah tauhid, baru yang lain.

Saya pernah membaca tulisan syaikh al-albani bahwa dakwah tauhid adalah prioritas pertama dan utama. lantas bagaimana dengan berpartai ustad apakah ada landasannya. terimakasih sebelumnya ustad

Dwi Mardani
dwi.mardani@gmail.com

Jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Mungkin kita perlu bedakan cara kita memandang masalah ini. Istilah dakwah tauhid sudah tidak ‘up to date‘ harus dilihat pengertianya secara luas, bukan dicari-cari celah kelemahannya.

Maksudnya tentu bukan mengecilkan upaya untuk membenahi tauhid umat Islam. Sama sekali tidak. Sebab dalam struktur kehidupan, tauhid landasan hidup kita. Di mana tanpa tauhid yang benar, jelas sekali kita tidak bisa masuk surga.

Akan tetapi yang kami maksud dengan istilah ‘up to date’ sungguh jauh dari pengertian ini. Up to date sesuai dengan makna yang sering kita gunakan, adalah sesuatu yang paling baru dan berkembang di tengah masyarakat.

Misalnya, ada mode pakaian yang up to date, artinya mode pakaian itu baru saya diluncurkan dan menjadi trend pada saat ini. Begitu juga dengan jenis handphone, begitu berlomba para produsen untuk mengeluarkan produk terbaru, dengan fasilitas terbaru, dengan harga terbaru juga tentunya, sehingga dikatakan handphone itu ‘up to date’.

Istilah ‘up to date’ mengesankan adanya dinamika dan perubahan terus menerus, dari sebelumnya ke yang sudahnya. Yang tadinya up to date, seiring dengan berjalannya waktu, berubah menjadi usang dan kuna, karena ditinggalkan oleh orang. Dan karena sudah ada lagi produk terbaru yang lebih ‘up to date’.

Nah, permasalahan umat sejak dari masa nabi yang di masa lampau juga selalu berganti. Dan kalau kita perhatikan, permasalahan itu berbeda-beda pada tiap nabi.

Misalnya, urusan mengenal Allah (ma’rifatullah) dari bertuhan yang banyak, kasusnya lebih dominan dalam kisah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Bahkan beliau sendiri terlibat dalam pencarian sosok Allah SWT. Setelah sebelumnya beliau beranggapan bahwa bintang, bulan dan matahari adalah Allah SWT.

Nabi Luth

Tema besar Nabi Luth ‘alahissalam adalah masalah homoseksual dan lesbianisme. Kaumnya, Sodom, adalah penemu pertama prilaku liar yang bahkan binatang sekali pun tidak pernah melakukannya.

Kalau kita perhatikan, maka kaum ini kemudian dihancurkan karena pelanggaran masalah syariah yang satu ini. Bukan karena mereka meramal, datang ke dukun, atau karena berpaham asy’ariyah dan maturidiyah. Mereka tidak pernah meributkan urusan kalam Allah, apakah makhluq atau bukan makhluq. Mereka dihancurkan karena melakukan perbuatan homoseksual.

Salah besar kalau ada yang beranggapan dihancurkannya kaum Sodom karena syirik kepada Allah. Tema besar kaum ini bukan pada urusan syirik. Kenapa harus dipaksa-paksa harus syirik.

Kutukan Menjadi Kera

Sedangkan dosa penduduk yang tinggal di pinggir laut di masa Bani Israil adalah karena melanggar larangan bekerja di hari Sabtu. Allah SWT telah menetapkan bahwa hari Sabtu adalah hari ibadah, di mana mereka wajib meninggalkan semua urusan duniawi, masuk ke dalam shauma’ah (tempat ibadah orang yahudi) untuk ibadah kepada Allah.

Namun mereka melakukan pelanggaran dan berkilah dengan beragam teknik agar tetap bisa menangkap ikan di hari Sabtu.

Maka atas pelanggaran ini, Allah SWT mengutuk mereka menjadi kera yang hina. Dan kisah mereka diabadikan di dalam Al-Quran Al-Kariem.

Dan sesungguhnya telah kamu ketahui orang-orang yang melanggar di antaramu pada hari Sabtu, lalu Kami berfirman kepada mereka, “Jadilah kamu kera yang hina.” (QS. Al-Baqarah: 65)

Coba perhatikan, apakah kasus mereka ini kasus pelanggaran tauhid dan akidah? Ataukah pelanggaran masalah syariah?

Kalau pikiran kita terang, tidak mungkin kita bilang bahwa pelanggaran ini termasuk kasus aqidah. Jelas sekali pelanggaran yang mereka lakukan adalah pelanggaran fiqhiyah. Pelanggaran untuk tidak bekerja di hari Sabtu.

Mereka tidak dihukum dan dikutuk menjadi kera karena datang ke dukun, atau tukang ramal, atau karena melakukan bid’ah, atau karena ikut kelompok paham akidah tertentu yang sering dituduh sesat. Tidak, sama sekali tidak. Mereka melanggar larangan bekerja di hari Sabtu, yang tidak ada kaitannya dengan tema akidah.

Apakah kita masih mau paksakan untuk mengubah sejarah yang sudah terjadi?

Nabi Isa

Tema besar dakwah Nabi Isa ‘alaihissam juga bukan masalah tauhid. Yang kita ketahui tema besarnya justru masalah dunia pengobatan dan penyembuhan. Lewat mukjizat dari Allah SWT, Al-Masih itu bisa mengusap orang sakit dan langsung sembuh. Kalau dia mengusap jenazah yang terbujur kaku, maka jenazah itu atas izin Allah SWT, bisa hidup lagi.

Dan aku menyembuhkan orang yang buta sejak dari lahirnya dan orang yang berpenyakit sopak; dan aku menghidupkan orang mati dengan seizin Allah.” (QS. Ali Imran: 49)

Jelas sekali tidak ada urusan masalah tauhid ketika Nabi Isa masih hidup. Urusan masalah tauhid tentang Nabi Isa justru terjadi sepeninggal beliau, ketika orang-orang mulai menjadikan dirinya anak tuhan.

Kesimpulan:

1. Tauhid adalah landasan paling esensial dari struktur keIslaman, di mana semua nabi dan rasul memang mengajarkan dan menanamkan tauhid ini kepada semua kaumnya.

2. Namun tema-tema yang ditetapkan Allah SWT terhadap tiap kaum seringkali beragam. Ada tema tentang sihir, ada tema tentang kekuasaan, ada tema tentang pengobatan, pelangaran hari ibadah, homoseksual dan seterusnya. Ini juga tidak bisa dipungkiri.

3. Maka kita perlu membedakan antara landasan utama keIslaman dengan tema-tema yang telah ditetapkan Allah SWT kepada tiap kaum. Sebab tiap nabi pun ternyata dibekali dengan ’senjata’ yang cocok dengan tema yang sedang ‘up to date’ di masa mereka masing-masing.

4. Seorang juru dakwah tentu perlu mengetahui tema-tema yang sedang berkembang, agar dia memiliki ’senjata’ yang up to date yang bisa sesuai dengan perkembangan yang berlaku. Sehingga dia tidak ditinggalkan kaumnya. Dan kehadirannya menjadi solusi buat kehidupan, bukan malah semakin bikin pusing.

5. Tentang berpartai, kami sudah seringkali kemukakan di rubrik ini bahwa dalam kondisi tertentu, berpartai itu bisa menjadi kemungkaran dan bahkan dosa besar.

Akan tetapi sebaliknya, bisa juga menjadi salah satu alat dakwah yang efektif. Semua tergantung kondisi yang up to date dan kedalaman pandangan kita dalam melihat kondisi yang nyata di tengah kehidupan kita.

Semoga penjelasan ini bisa semakin mendekatkan paradigma yang positif di antara sesama umat Islam.

Wallahu a’lam bishsahwab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

Sumber: eramuslim.com

Apakah Ustad Anti Wahabi?

Mei 8, 2008

Dari jawaban ustad mengenai kegiatan mengelilingi kuburan imam syafii seperti ka’bah ‘tidak bisa diterima’ apakah hanya itu? Bukankah kesyirikan musuh terbesar Allah sejak diutusnya nabi dan rasul, dan Dia hanya ingin disembah seorang diri tanpa tandingan ruh para wali?

Bukankah itu sudah merupakan kesyirikan yang nyata?

Lalu, ustad justru mengritik ulama (wahabi) yang memerangi hal itu.. bukankah tindakan nyata mereka sudah dapat menekan angka ke’syirik’an lebih signifikan dibanding cara ‘menghilangkan kebodohan’ versi ustad yang lebih membutuhkan waktu yang lama??

Dari beberapa jawaban ustad, saya menangkap ustad sangat tidak setuju dg dakwah wahabi, kenapa? Apakah itu yang diajarkan di al-azhar? Lalu ustad menginginkan persatuan umat Islam, tapi justru melegalkan segala jenis perbedaan tumbuh subur di tengah umat Islam, melalui fanatik mazhab dan berpartai? Bukankah justru jauh panggang dari api…?

Mohon penjelasannya…

Ron

Jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Kalau Anda seorang yang membela dakwah Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab, maka sebaiknya kita salaman dulu. Ternyata kita sama, sama-sama berdakwah dan mendukung dakwah yang beliau lakukan. Dan dakwah kita ini sama dengan para tokoh dakwah dalam sejarah, yaitu mengajak orang untuk menjalankan syariat Islam dengan sebaik-baiknya ajakan.

Tapi saran kami, barangkali lebih baik kita tidak mengunakan istilah wahabi dan anti wahabi. Sebab titik pangkal permasalahannya bukan di sana, lagian kita ini tidak akan masuk surga hanya dengan menjadi seorang pendukung wahabi, dan orang tidak akan masuk neraka karena anti wahabi.

Karena Muhammad bin Abdul Wahhab sendiri sebagai orang yang nama ayahnya dipakai untuk istilah wahabi, justru tidak pernah mendakwahkan wahhabiyah. Yang beliau dakwahkan hanya agama Islam. Sama sekali beliau tidak pernah mengajak orang menjadi wahabi.

Dakwah Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab adalah memurnikan sisi aqidah umat. Tentu saja kita tahu bahwa keahlian beliau memang lebih pada sisi masalah tauhid ini. Dan kita mengenal beliau bukan seorang ahli fiqih, ahli ushul, atau ahli hadits.

Beliau tidak punya tulisan tentang hadits, fiqih, atau tafsir, kecuali kitab kecil beberapa lembar dengan judul kitabuttauhid. Dan dalam cabang ilmu tauhid, beliau memang tokoh dan punya karya besar. Namun bukan berarti persoalan dakwah hanya bertumpu kepada dirinya dan seputar masalah tauhid saja.

Permasalahan Dakwah Bukan Hanya Urusan Syirik Saja

Kalau sekarang yang kita ributkan hanya berkutat di masalah syirik saja, maka sebenarnya ada baiknya kita diskusikan lagi.

Benar bahwa masalah utama para nabi dan rasul seputar masalah syirik, tapi juga harus diingat bahwa masalah mereka bukan hanya urusan syirik saja.

Mungkin masalah terbesar dari seorang Muhammad bin Abdul Wahhab di zamannya memang lebih dominan hal yang berbau syirik kuburan, karena yang beliau lihat memang hal-hal hanya demikian itu.

Terutama di Hijaz, tempat di mana beliau hidup dan tinggal. Dari sejarah riwayat hidup beliau, kelihatannya memang beliau tidak pernah berjalan di muka bumi untuk melihat bagaimana keadaan umat Islam di berbagai peradaban lain. Kita tidak punya catatan apakah beliau tidak pernah singgah ke Afrika, Eropa, atau bahkan ke Amerika. Tapi satu hal yang pasti, beliau belum pernah ke Indonesia.

Sehingga secara logika wajar sekali, kenapa seorang ulama selevel Muhammad bin Abdul Wahhab dikatakan hanya mengurusi syirik kuburan saja. Alasan paling logisnya karena memang beliau hidup di wilayah yang tertentu, di mana masalah dominan memang masalah syirik. Dan pertimbangan lain, boleh jadi zaman di mana beliau hidup, yang urusan yang paling ramainya seputar masalah itu.

Walau periode dialog urusan ilmu kalam sudah jauh terlewat. Beliau tidak hidup di zaman perdebatan sengit antara Qadiriyah, Jabariyah, Mu’tazilah. Kecuali beliau mungkin bertemu dengan sisa-sisa dialog itu dalam porsi yang berbeda.

Dan Muhammad bin Abdul Wahhab dalam masalah ini sama sekali tidak salah. Beliau memang hidup di zaman dan wilayah yang ketokohan dan keilmuwan seperti itu memang dibutuhkan.

Yang jadi jadi pertanyaan justru kita ini, yang tidak hidup sezaman Muhammad bin Abdul Wahhab. Pertanyaannya, apakah isu-isu yang diangkat oleh beliau itu masih relevan dengan realitas yang terjadi di masa kita? Atau jangan-jangan, kita malah terperangkap kerangka dan suasana di zaman beliau?

Maka kita perlu lebih banyak membaca dan melihat situasi, agar tidak kurang tajam dalam menangkap permasalahan yang lebih up to date. Selain itu agar kita tidak terlalu jauh menggunakan logika yang terbalik-balik.

Dan agaknya kalau kita perhatikan permasalahan dan tema dakwah pada hari ini, rasanya masa-masa dialog antara mazhab aqidah seperti yang kami sebutkan di atas telah lewat. Hari ini kita sudah tidak kenal lagi ada orang yang mendakwahkan ajaran Qadariyah, Jabariyah, atau Mu’tazilah secara ekstrim dan dengan kekuatan besar. Paling-paling hanya sekedar satu dua mahasiswa usil yang mengangkat tema seperti itu di ruang kuliah.

Masa-masa perdebatan ilmu kalam sebenarnya sudah berlalu. Persoalan umat Islam sebenarnya sudah berganti. Dunia Islam di abad ke-20 mengalami masalah yang sangat berbeda. Misalnya, masalah kolonialisme yang sampai kini dampaknya masih terasa. Atau mengalami kemunduran dari segi ilmu pengetahuan dan teknologi. Juga mengalami kebangkrutan dari sisi ekonomi sehingga ada berjuta umat Islam hidup di bawah standar kemiskinan.

Dan seribu satu persoalan pelik lain, seperti penerapan syariah Islam di dalam negara-negara yang mayoritas berpenduduk muslim.

Dakwah Para Nabi Bukan Hanya Urusan Syirik Saja

Kalau kita membaca sejarah para nabi dan rasul, baik lewat Al-Quran maupun Al-Hadits, sebenarnya agak kurang tepat kalau kita bilang bahwa kendala para nabi dan rasul hanyalah kendala syirik kuburan saja.

Malah tidak ada satu pun ayat Quran yang bicara tentang syirik kuburan. Tema tentang tauhid dan syirik memang banyak dibahas di dalam Al-Quran, tapi kita malah tidak pernah membaca ayat yang menghantam urusan menyembah kuburan.

Ketika kami dahulu kuliah di Universtias Islam Muhammad Ibnu Su’ud, milik Kerajaan Saudi Arabia, bukan di Al-Ahzar Mesir, ilmu-ilmu ke-Islaman yang diajarkan pun juga bukan hanya berkutat tentang kuburan dan syirik saja. Dan sepanjang yang kami tahu, tidak pernah ada yang namanya Fakultas Ilmu Syirik dan Kuburan.

Mungkin karena dakwah agama ini juga tidak hanya urusan itu saja. Bukankah kita mengenal ada ayat tentang warisan, bahkan sampai Rasulullah SAW memerintahkan secara khusus kita belajar warisan. Apakah ada kaitannya warisan dengan syirik kuburan?

Di dalam Al-Quran ada sekian ayat yang menyebutkan hewan yang haram untuk dimakan, juga najis dan berbagai hal terkait dengan hukum hudud, seperti merajam pezina, memotong tangan pencuri, membunuh pembunuh dan seterusnya. Jadi misi para nabi memang bukan hanya urusan syirik, tapi yang lebih luas dan panjang dari itu, adalah bagaimana menjalankan syariah yang Allah perintahkan.

Perbedaan Pendapat

Kalau kita pernah kuliah di fakultas Syariah jurusan Perbandingan Mazhab, maka kita akan tahu bahwa yang namanya perbedaan pendapat itu mustahil dipungkiri, apalagi dibasmi.

Dahulu Imam Malik pernah diminta kesediaannya agar kitabnya, Al-Muwattha’ dijadikan kitab fiqih standar negara. Beliau dengan amat santun dan tawadhdhu’nya menolak dengan halus. Sebab beliau amat menghargai perbedaan pendapat di kalangan para ulama.

Kalau kitabnya itu dijadikan standar negara, maka akan terjadi pemaksaan pendapat, padalah tidaklah muncul perbedaan pendapat itu kecuali karena memang nash-nash Quran dan Sunnah memberi peluang untuk itu.

Maka seorang ahli syariah tentunya sudah punya wawasan yang cukup tentang beda pendapat dalam urusan fiqih. Mulai dari cara wudhu’ sampai cara mati, semua penuh dengan perbedaan pandangan.

Jadi bagusnya sih, kita tidak berwawasan sempit dan picik dalam melihat fenomena ini. Perbedaan fiqih yang ada dalilnya saja masih menyisakan beda pendapat, apalagi masalah teknis berdakwah yang kebanyakan selalu improvisasi dan kental dengan perbedaan latar belakang, tentu akan semakin tajam lagi perbedaannya.

Kami cenderung untuk tidak mudah menyalahkan niat baik seseorang dalam berdakwah. Maka kalau ada orang mau dakwah lewat seni, kami cenderung untuk tidak lantas mudah memaki-makinya. Kalau ada yang kurang tepat, kita luruskan saja baik-baik. Dan meluruskan dengan baik-baik itu kan juga perintah Rasulullah SAW juga, bukan?

Dan kalau ada orang mau dakwah lewat partai, kami cenderung juga tidak mudah untuk mencercanya. Dan memangnya kenapa harus dicerca? Kalau ada yang kurang sejalan, setidaknya sampaikan dengan cara yang elegan. Dan bukan lewat tikaman dari belakang yang bernuansa ngambek karena tidak dapat ‘bagian’.

Rasanya terlalu sepi dakwah ini kalau dakwah itu hanya khusus milik majelis taklim saja. Apakah orang-orang tidak boleh mengajak kepada kebaikan dengan kapasitas masing-masing?

Kalau ada masyarakat muslim yang sesat karena melakukan syirik, kami cenderung menganggap mereka sebagai korban. Jadi kami lebih senang mendekati baik-baik dan bicara dari hati ke hari, bukan dengan cara mencaci maki atau memerangi dengan kata yang kasar dan tajam.

Buat apa kita terlihat gagah di podium, tapi orang malah semakin menjauh, dakwah malah tidak akan berhasil dengan cara seperti itu.

Maka saudaraku, mari kita ajak orang untuk belajar agama ini secara mendalam dan dengan cara baik-baik. Sekedar mencaci maki, belum pernah terbukti melenyapkan syirik dari muka bumi. Percayalah.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

Sumber: eramuslim.com

Ayat-Ayat Hitam Talmud

Februari 18, 2008

Talmud merupakan kitab suci kelompok Zionis-Yahudi di seluruh dunia. Seluruh tindak-tanduk Zionis-Israel mengacu pada ayat-ayat Talmudisme. Bahkan Texe Marrs, investigator independen Amerika yang telah menelusuri garis darah Dinasti Bush selama enam tahun, menemukan bukti bahwa keluarga besar Bush, termasuk Presiden AS George Walker Bush, merupakan sebuah keluarga yang sangat rajin mendaras dan mempelajari Talmud.

“Dinasti Bush adalah dinasti Yahudi dan mereka menjadikan Talmud sebagai kitab sucinya. Adalah salah besar menyangka mereka sebagai keluarga Kristiani. Mereka menunggangi kekristenan untuk menipu warga Kristen dunia. Padahal, mereka merupakan keluarga Talmudis yang taat, ” demikian Texe Marrs.

Kita tentu sudah banyak mendengar tentang Talmud. Namun belum banyak yang mengetahui apa saja ayat-ayatnya. Berikut kami tampilkan sejumlah ayat-ayat Talmud yang menjadi dasar segala tindakan kaum Zionis terhadap orang-orang non-Yahudi (Ghoyim atau Gentilles), dan darinya Anda akan bisa “memahami” mengapa kaum Zionis selalu saja mau menang sendiri, selalu mengkhianati perjanjian, dan sebagainya. Inilah ayat-ayat suci mereka:

“Hanya orang-orang Yahudi yang manusia, sedangkan orang-orang non Yahudi bukanlah manusia, melainkan binatang.” (Kerithuth 6b hal.78, Jebhammoth 61a)

“Orang-orang non-Yahudi diciptakan sebagai budak untuk melayani orang-orang Yahudi.” (Midrasch Talpioth 225)

“Angka kelahiran orang-orang non-Yahudi harus ditekan sekecil mungkin.” (Zohar II, 4b)

“Orang-orang non-Yahudi harus dijauhi, bahkan lebih daripada babi yang sakit.” (Orach Chaiim 57, 6a)

“Tuhan (Yahweh) tidak pernah marah kepada orang-orang Yahudi, melainkan hanya (marah) kepada orang-orang non-Yahudi.” (Talmud IV/8/4a)

“Di mana saja mereka (orang-orang Yahudi) dating, mereka akan menjadi pangeran raja-raja.” (Sanhedrin 104a)

“Terhadap seorang non Yahudi tidak menjadikan orang Yahudi berzina. Bisa terkena hukuman bagi orang Yahudi hanya bila berzina dengan Yahudi lainnya, yaitu isteri seorang Yahudi. Isteri non-Yahudi tidak termasuk.” (Talmud IV/4/52b)

“Tidak ada isteri bagi non-Yahudi, mereka sesungguhnya bukan isterinya.” (Talmud IV/4/81 dan 82ab)

“Orang-orang Yahudi harus selalu berusaha untuk menipudaya orang-orang non-Yahudi.” (Zohar I, 168a)

“Jika dua orang Yahudi menipu orang non-Yahudi, mereka harus membagi keuntungannya.” (Choschen Ham 183, 7)

“Tetaplah terus berjual beli dengan orang-orang non-Yahudi, jika mereka harus membayar uang untuk itu.” (Abhodah Zarah 2a T)

“Tanah orang non-Yahudi, kepunyaan orang Yahudi yang pertama kali menggunakannya.” (Babba Bathra 54b)

“Setiap orang Yahudi boleh menggunakan kebohongan dan sumpah palsu untuk membawa seorang non-Yahudi kepada kejatuhan.” (Babha Kama 113a)

“Kepemilikan orang non-Yahudi seperti padang pasir yang tidak dimiliki; dan semua orang (setiap Yahudi) yang merampasnya, berarti telah memilikinya.” (Talmud IV/3/54b)

“Orang Yahudi boleh mengeksploitasi kesalahan orang non-Yahudi dan menipunya.” (Talmud IV/1/113b)

“Orang Yahudi boleh mempraktekan riba terhadap orang non-Yahudi.” (Talmud IV/2/70b)

“Ketika Messiah (Raja Yahudi Terakhir atau Ratu Adil) dating, semuanya akan menjadi budak-budak orang-orang Yahudi.” (Erubin 43b)

Inilah sebagian kecil dari ayat-ayat hitam Talmud. Inilah landasan ideologis kaum Zionis dalam hidupnya. Setiap hari Sabtu yang dianggap suci (Shabbath), mereka mendaras Talmud sepanjang hari dan mengkaji ayat-ayat di atas. Mereka menganggap Yahudi sebagai ras yang satu-satunya berhak disebut manusia. Sedangkan ras di luar Yahudi mereka anggap sebagai binatang, termasuk orang-orang liberalis yang malah melayani kepentingan kaum Zionis.(rizki)

Sumber: eramuslim.com

“Hikmah Kasus Ahmadiyah”

Januari 30, 2008
ahmadiyah2.jpg

Umat Islam tentu berhak membela aqidahnya dari “serangan” kaum Ahmadiyah dan para pendukungnya. Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian Husaini ke-221

Oleh: Adian Husaini

Ratusan tahun lalu, Nabi Muhammad saw sudah mengingatkan: “Tidak akan terjadi Kiamat sehingga muncul tiga puluh dajjal (pendusta); semuanya mengaku bahwa dirinya adalah utusan Allah; (dalam satu riwayat disebutkan Nabi SAW bersabda) Aku adalah penutup para Nabi dan tidak ada nabi lagi sesudahku.” (HR Abu Dawud dan Tirmidzi).

Hadits-hadits Rasulullah yang menjelaskan bahwa tidak ada nabi lagi sesudah Nabi Muhammad saw begitu banyak. Majelis Tarjih Muhammadiyah, dalam fatwanya tentang kedudukan Nabi Muhammad saw sebagai nabi terakhir, juga mengutip hadits Rasulullah SAW yang menyatakan: ”Di antara umatku akan ada pendusta-pendusta, semua mengaku dirinya nabi, padahal aku ini penutup sekalian nabi.” (HR Ibn Mardawaihi, dari Tsauban).

Karena peringatan Rasulullah saw tentang kenabian itu sangat jelas dan gamblang, maka seorang Muslim tidak berani main-main dalam soal ini. Sehebat apa pun kualitas ketaqwaan dan kewalian seorang Muslim, maka dirinya tidak akan mengaku sebagai nabi atau mengaku mendapatkan wahyu dari Allah. Jika ada yang mengaku seperti itu, pasti sesat. Ini rumusan pokok dalam ajaran Islam.

Kita tahu, di pentas sejarah, nabi kaum Ahmadiyah, yakni Mirza Ghulam Ahmad, termasuk deretan orang yang mengaku sebagai nabi dan melaknat orang Muslim yang tidak mau mengakuinya sebagai nabi. Dalam kitab Tadzkirah, Mirza Ghulam Ahmad mengaku mendapat wahyu seperti ini: Anta imaamun mubaarakun, la’natullahi ‘alalladzii kafara (Kamu – Mirza Ghulam Ahmad – adalah imam yang diberkahi dan laknat Allah atas orang yang ingkar/Tadzkirah hal. 749). Ada lagi wahyu versi dia: “Anta minniy bimanzilati waladiy, anta minniy bimanzilatin laa ya’lamuha al-khalqu. (Kamu bagiku berkedudukan seperti anak-Ku, dan kamu bagiku berada dalam kedudukan yang tidak diketahui semua makhluk/Tadzkirah, hal. 236).

Karena merasa mendapat wahyu dan berkedudukan seperti “anak-Tuhan”, maka Mirza Ghulam Ahmad memandang dirinya lebih hebat dari para sahabat Rasulullah saw dan para wali. Dr. Ihsan Ilahi Zhahir telah menulis sebuah buku yang sangat komprehensif tentang Ahmadiyah berjudul “Al-Qadiyaniyyah: Dirasat wa Tahlil” (Diindonesiakan tahun 2006 oleh Pustaka Darul Falah dengan judul “Mengapa Ahmadiyah Dilarang?”). Buku ini memaparkan data-data menarik tentang sosok Ghulam Ahmad berdasarkan sumber-sumber dokumen Ahmadiyah. Simaklah sejumlah petikan ucapan Mirza Ghulam Ahmad berikut:

“Tidak diragukan lagi bahwa dilahirkan di tengah-tengah umat Muhammad, shallallaahu alaihi wa sallam, beribu-ribu orang wali dan orang-orang pilihan, tetapi tak seorang pun sama denganku.”

Juga, katanya: “Mereka marah kepadaku karena aku mengutamakan diriku sendiri atas diri Husain, padahal dia tidak disebut namanya di dalam Al-Quran.”

Ghulam Ahmad pun berkata: “Mereka mengatakan tentang diriku bahwa aku hanya mengutamakan diriku sendiri atas diri Al-Hasan dan Al-Husain. Maka kukatakan, Benar, aku mengutamakan diriku atas keduanya dan Allah akan menunjukkan keutamaan ini.”

Seorang pengikut Ahmadiyah menulis: “Dimana posisi Abu Bakar dan Umar jika dibandingkan dengan Ghulam Ahmad? Keduanya tidak berhak untuk dibawakan kedua sandalnya.”

Padahal, tentang Hasan dan Husain, Rasulullah saw bersabda: “Dua penghulu para pemuda ahli surga adalah Hasan dan Husain.” (HR Tirmidzi, Ibn Majah dan Ahmad). Banyak sekali hadits Rasulullah saw yang menyebutkan keutamaan Sayyidina Abu Bakar dan Umar bin Khathab r.a. Betapa pun hebatnya kedua sahabat Nabi tersebut, mereka tidak sampai mengaku sebagai nabi. Tetapi, Mirza Ghulam Ahmad yang mengaku sebagai nabi, merasa lebih hebat dari keduanya. Terhadap sahabat Nabi yang lain pun, Mirza Ghulam Ahmad juga berani merendahkan. Dia menyatakan: ”Sungguh, Abu Hurairah adalah orang bodoh. Dia tidak memiliki pengetahuan yang benar.”

Mirza Ghulam Ahmad juga berani mencerca Nabi Adam a.s., dengan menyatakan:

”Sungguh Alah telah menciptakan Adam dan menjadikannya tuan yang sangat ditaati, pemimpin yang bijaksana atas semua orang. Sebagaimana jelas dalam kata-kata-Nya, ”Sujudlah kalian semua kepada Adam”, kemudian dia disesatkan oleh syetan dan akhirnya dikeluarkan dari syurga. Kembalilah kebijakan itu kepada syetan sehingga Adam menjadi manusia hina dan dikecilkan… Lalu Allah menciptakanku agar aku mengalahkan syetan. Dan hal ini adalah apa yang dijanjikan di dalam Al-Quran.”

Surat kabar Al Fadhl, 18 Juli 1931, pernah memuat ucapan Mahmud Ahmad, putra Mirza Ghulam Ahmad:

”Ayahku berkata bahwa dirinya lebih utama daripada Adam, Nuh, dan Isa. Karena Adam dikeluarkan oleh syetan dari surga, sedangkan dia memasukkan anak Adam ke dalam surga. Sedangkan Isa disalib oleh orang-orang Yahudi sedangkan dia menghancurkan salib itu. Dia lebih utama daripada Nuh karena anaknya yang paling besar tidak mendapatkan hidayah, sedangkan anaknya masuk ke dalam hidayah.”

Dalam ucapannya yang lain, nabi kaum Ahmadiyah ini menyatakan: ”Telah datang para nabi yang banyak, tetapi tidak ada yang lebih maju daripadaku dalam hal ma’rifatullah. Dan setiap apa yang diberikan kepada semua nabi juga diberikan kepadaku dengan lebih sempurna.” Bahkan, Mirza Ghulam Ahmad juga membuat pernyataan yang mengerikan: ”Al-Masih itu minum khamar bisa jadi karena suatu penyakit atau karena tradisinya yang lama.”

Meskipun mengaku sebagai pelanjut risalah Nabi Muhammad saw, Mirza Ghulam Ahmad pun berani menyatakan: ”Sungguh, Nabi Shallallaahu alaihi wa sallam memiliki tiga ribu macam mukjizat, tetapi mukjizatku lebih dari sejuta macam mukjizat.”

Seorang anaknya yang juga khalifahnya kedua, berkata:

”Sesungguhnya ketinggian batin imam kita adalah lebih daripada nabi yang mulia Shallallaahu alaihi wa sallam, karena zaman sekarang ini sudah jauh lebih maju daripada zaman ketika itu dari sisi kebudayaan. Inilah dia keutamaan yang parsial yang dicapai oleh Ghulam Ahmad daripada Muhammad Shallallaahu alaihi wa sallam.”

Para pengikut Mirza Ghulam Ahmad pun percaya akan kelebihan imam mereka. Surat kabar milik Ahmadiyah, Badar, 25 Oktober 1902, memuat pujian yang sangat hebat kepada Mirza Ghulam Ahmad:

”Sungguh Muhammad turun sekali lagi di hadapan kita, padahal dia lebih agung daripada ketika diutus untuk yang pertama. Siapa saja yang hendak menatap Muhammad dalam bentuknya yang paling sempurna, maka hendaknya memandang Ghulam Ahmad di Qadiyan.”

Meskipun mengaku Al-Quran sebagai kitab sucinya, Mirza Ghulam Ahmad dan para pengikutnya membuat tafsir Al-Quran yang berbeda dengan umat Islam lainnya. Ghulam Ahmad pernah menyatakan:

Akulah yang dimaksud dalam firman-Nya, ”Dan tiadalah Kami mengutus kamu melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (al-Anbiya:107).

Sepeninggal Ghulam Ahmad, sang anak, Basyir Ahmad, melanjutkan pengakuan-pengakuan Ghulam Ahmad. Surat kabar al-Fadhl, 19 Agustus 1916, pernah memuat ucapan Basyir Ahmad:

”Sesungguhnya yang diberi kabar gembira kerasulan adalah Ghulam Ahmad dan bukan Nabi Allah Muhammad. Itulah yang dimaksud dalam firman-Nya Ta’ala: ’…Dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad.” (Ash-Shaf:6). Karena Nabi Allah bernama Muhammad dan bukan Ahmad. Oleh sebab itu, yang dimaksud haruslah bukan Muhammad. Dengan demikian, yang dimaksud haruslah Ghulam Ahmad dan bukan Muhammad.”

Tentang kedudukan ”wahyu” yang katanya dia terima dari Allah, Ghulam Ahmad menyatakan:

”Demi Allah Yang Mahaagung, aku beriman kepada wahyu yang diberikan kepadaku sebagaimana aku beriman kepada Al-Quran dan Kitab-kitab lain yang diturunkan dari langit.”

Seorang pembesar Ahmadiyah, Jalaluddin Syams, menulis: ”Sesungguhnya martabat wahyu Ghulam Ahmad sama persis dengan martabat Al-Quran, Injil dan Taurat.” Khalifah Ahmadiyah, Mahmud Ahmad, juga membuat pernyataan yang meletakkan derajat hadits Rasulullah saw di bawah kata-kata Mirza Ghulam Ahmad:

”Semua ungkapan Ghulam Ahmad dapat dipertanggungjawabkan bisa dijadikan dasar. Sesungguhnya hadits-hadits itu tidak kita dengar langsung dari lisan Rasulullah, sedangkan ungkapan Ghulam kita mendengarnya dari mulutnya secara langsung. Karena itu tidak mungkin sebuah hadits shahih akan bertentangan dengan apa-apa yang diungkapkan oleh Ghulam Ahmad.” (Surat Kabar al-Fadhl, 29 April 1915).

Sudah bukan rahasia lagi, Ghulam Ahmad juga berulangkali menyatakan secara terbuka kesetiaannya kepada penjajah Inggris dan menggiring umat Islam untuk mengikuti jejaknya. Dia berkata:

”Kuhabiskan mayoritas masa hidupku untuk memberikan dukungan kepada pemerintah Britania dengan menentang ajaran jihad. Aku masih terus berupaya demikian itu hingga kaum Muslimin menjadi setia dengan ikhlas kepada pemerintah ini.”

Inilah sosok dan ucapan-ucapan Mirza Ghulam Ahmad, nabi kaum Ahmadiyah, sebagaimana dihimpun oleh penulis terkenal, Dr. Ihsan Ilahi Zhahir. Dengan itu kita bisa membayangkan, sosok seperti apakah Mirza Ghulam Ahmad ini?! Dengan ini pula kita paham, mengapa kaum liberal di Indonesia dan berbagai kekuatan kebatilan lainnya begitu gigih membela Ahmadiyah dan habis-habisan menyerang Islam.

Dalam Surat Edaran Jemaat Ahmadiyah Indonesia tanggal 25 Ihsan 1362/25 Juni 1983 M, No. 583/DP83, perihal Petunjuk-petunjuk Huzur tentang Tabligh dan Tarbiyah Jama’ah, dinyatakan:

“Harus dicari pendekatan langsung dalam pertablighan. Hendaknya diberitahukan dengan tegas dan jelas bahwa sekarang dunia tidak dapat selamat tanpa menerima Ahmadiyah. Dunia akan terpaksa menerima Pimpinan Ahmadiyah. Tanpa Ahmadiyah dunia akan dihimpit oleh musibah dan kesusahan dan jika tidak mau juga menerima Ahmadiyah, tentu akan mengalami kehancuran.”

Apa pun bukti-bukti kita sodorkan, faktanya pemerintahan Presiden SBY tetap eggan bersikap tegas terhadap Ahmadiyah. Rapat Bakorpakem di Kejagung, 15 Januari 2008, malah meluluskan 12 butir pernyataan Jemaat Ahmadiyah Indonesia yang sama sekali tidak menolak kenabian Mirza Ghulam Ahmad dan memuat sejumlah kebohongan. Anehnya, kebohongan itu justru “diketahui” oleh sejumlah profesor terkenal yang pintar-pintar dan piawai bicara tentang Islam.

Kita yakin, semua ini adalah ujian dari Allah SWT. Kita tidak perlu risau. Barangkali ini isyarat dari Allah agar kita lebih giat dan lebih profesional lagi dalam berdakwah. Kita yakin, banyak umat Islam sendiri – bahkan mungkin juga para pejabat — yang masih belum paham apa itu Ahmadiyah dan siapa sebenarnya Mirza Ghulam Ahmad. Maka, ke depan, kita harus memberikan penjelasan secara maksimal tentang hal ini.

Yang jelas, kaum Muslim di mana pun, pasti tidak akan rela Nabi Muhammad saw dilecehkan; sahabat-sahabatnya direndahkan martabatnya; dan Al-Quran diacak-acak. Umat Islam tentu berhak membela aqidahnya dari serangan kaum Ahmadiyah dan para pendukungnya. [Depok, 18 Januari 2008/ www.hidayatullah.com]

Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian Husaini merupakan hasil kerjasama antara Radio Dakta 107 FM dan www.hidayatullah.com

Diambil secara utuh dari www.hidayatullah.com edisi Sabtu, 19 Januari 2008.

Masalah Khilafiyah, Bagaimana Harus Bersikap?

Desember 4, 2007

Ustadz Menjawab :: bersama Ust. H. Ahmad Sarwat, Lc.

Assalamu’alaikum wr. wb.

Dalam bermasyarakat, sering kita temui perbedaan pendapat ustadz. Tidak terkecuali di tempat saya. Misalnya dalam shalat, menjaharkan basmalah atau tidak, memakai qunut atau tidak, dan lain-lain. Kadang masalah ini bisa menjadi masalah yang besar jika tidak secara arif menanggapi. Masing-masing pihak saling mempertahankan pendapatnya sendiri-sendiri. Karena masing-masing mempunyai dalil sendiri-sendiri yang sama-sama kuat. Sering saya dengar bahwa ini adalah masalah khilafiyah, tidak perlu dibesar-besarkan. Yang ingin saya tanyakan ustadz:

1. Apa yang dimaksud dengan khilafiyah?

2. Apa saja yang termasuk masalah-masalah khilafiyah ini?

3. Bagaimana cara kita bersikat dalam menghadapi masalah-masalah khilafiyah yang ada?

Demikian ustadz yang ingin saya tanyakan. Atas jawabannya diucapkan. Jazakumullah khoiron katsiro.

Wassalamu’alaikum wr. wb.

Adi Yahya
ayes_2bfriend

Jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Masalah khilafiyah adalah masalah yang hukumnya tidak disepakati para ulama. Terkadang ketidaksepakatan itu hanya pada tataran yang sempit, bahkan seringkali hanya perbedaan penggunaan istilah. Tapi tidak jarang pula tataran perbedaannya luas, yaitu antara halal dan haram.

Munculnya perbedaan pendapat tentang hukum suatu masalah sebenarnya hak para ulama saja. Sebab mereka itulah yang punya alat dan otoritas untuk menyimpulkan sebuah hukum agama. Kita sebagai orang awam, tentu tidak punya perangkat dan alatnya, juga tidak punya spesifikasi yang minimal untuk melakukan pengambilan kesimpulan hukum.

Sayangnya, seringkali perbedaan pendapat itu justru dilakukan oleh mereka yang tidak punya kapasitas keilmuwan khusus dalam istimbath hukum.

Seringkali orang yang tidak mengerti ilmu kecuali hanya sekedar bertaklid kepada seorang tokoh, tiba-tiba dengan beraninya mencaci-maki para ulama sambil menuduh mereka ahli bid’ah. Padahal dia sendiri tidak paham apa yang sedang dikatakannya.

Tidak jarang orang-orang awam itu hanya punya ilmu sebatas apa yang gurunya sampaikan, akan tetapi seolah-olah dia berlagak seperti ulama betulan, sambil menyalahkan semua hal yang sekiranya tidak sama dengan pendapat gurunya. Orang seperti ini tidak lain adalah muqallid yang jahil serta tidak punya tata adab sebagai ulama.

Bahkan perlu diketahui, tidak semua orang yang pernah belajar agama, memiliki kapasitas di bidang menarik kesimpulan hukum. Orang yang sekedar mempelajari ilmu tafsir misalnya, tentu punya ilmu yang luas dalam masalah makna ayat-ayat Al-Quran, namun bukan berarti dia punya kemampuan dalam menarik kesimpulan hukum. Demikian juga orang yang mendalami ilmu kritik hadits, tentu piawai untuk menilai keshahihan suatu hadits, akan tetapi kepiawaiannya itu bukan pada bidang metode pengambilan kesimpulan hukum. Apalagi orang yang belajar sastra arab dan bidang tata bahasa (ilmu nahwu), tentu bukan bidangnya bila harus menarik kesimpulan hukum dari Al-Quran dan As-Sunnah.

Ilmu dan metodologi dalam menarik kesimpulan hukum itu adalah ilmu yang dipelajari oleh mereka yang belajar di fakultas syariah. Dengan berbagai disiplin ilmu pendukung seperti ilmu fiqih sendiri sebagai dasar, ilmu ushul fiqih sebagai metodologi, ilmu mantiq sebagai logika, ilmu qawa’id fiqhiyah sebagai penunjang. Selain itu mereka pun harus memahami ilmu tafsir, ilmu hadits, ilmu lughah arabiyah dengan beragam cabangnya.

Sebab tugas mereka adalah menelusuri semua dalil dan berserakan lalu membangunnya menjadi sebuah hujjah dan menarik kesimpulan hukumnya. Jadi memang perlu memiliki banyak cabang disiplin ilmu yang menunjang tugasnya.

Sayangnya, seringkali orang yang bukan pada kapasitasnya itu berdebat tentang masalah yang mereka tidak menguasainya. Akibatnya mudah diterka, masalah akan semakin rumit di tangan orang yang tidak paham.

Sebaliknya, kita bila saksikan bagaimana indahnya para ulama di masa lalu memperbincangkan perbedaan pendapat. Tidak ada caci maki, apalagi saling ejek atau saling tuduh ahli bid’ah. Sebab masing-masing sadar bahwa argumen temannya itu tidak bisa dipatahkan begitu saja. Meski dirinya lebih yakin dengan kekuatan argemumentasi sendiri, tapi tetap saja menaruh hormat yang tinggi kepada pendapat orang lain. Rupanya, semakin tinggi ilmu mereka, semakin tawadhhu’ jiwa mereka.

Yang Termasuk Masalah Khilafiyah

Biasanya perkara yang masuk kategori khilafiyah adalah masalah furu’ atau cabang-cabang agama. Adapun masalah pokok, seperti aqidah yang paling dasar, tauhid yang esensial serta konsep ketuhanan yang fundamental, tidak pernah terjadi perbedaan pendapat.

Demikian juga dengan kerangka dasar ibadah, umumnya para ulama sepakat. Ketidak-sepakatan baru muncul manakala mereka mulai memasuki wilayah teknis dan operational yang tidak prinsipil.

Di antara sebab mengapa suatu perkara bisa menjadi masalah yang tidak disepakati hukumnya antara lain:

  1. Adanya ayat yang berbeda satu dengan lainnya secara zhahirnya. Sehingga membutuhkan jalan keluar yang bisa cocok untuk keduanya. Di titik inilah para ulama terkadang berbeda dalam mengambil jalan keluar.
  2. Adanya perbedaan penilaian derajat suatu hadits di kalangan ahli hadits. Di mana seorang ahli hadits menilai suatu hadits shahih, namun ahli hadits lainnya menilainy tidak shahih. Sehingga ketika ditarik kesimpulan hukumnya, sangat bergantung dari perbedaan ahli hadits dalam menilainya.
  3. Adanya ayat atau hadits yang menghapus berlakunya ayat atau hadits yang pernah turun sebelumnya. Dalam hal ini sebagaian ulama berbeda pendapat untuk menentukan mana yang dihapus dan mana yang tidak dihapus.
  4. Adanya perbedaan ulama dalam menetapkan mana ayat yang berlaku mujmal dan mana yang berlaku muqayyad. Juga dalam menetapkan mana yang bersifat umum (‘aam) dan mana yang bersifat khusus (khaash).
  5. Adanya perbedaan ulama dalam menggunakan metodologi teknik pengambilan kesimpulan hukum, setelah sumber yang disepakati. Misalnya, ada yang menerima syar’u man qablana dan ada yang tidak. Ada yang menerima istihsan dan ada juga yang tidak mau memakainya. Dan masih banyak lagi metode lainnya seperti saddan lidzdzri’ah, qaulu shahabi, istishab, qiyas dan lainnya.

Sikap kita dalam masalah khilafiyah

Sikap terhadap masalah khilafiyah adalah:

  1. Yakin bahwa masalah khilafiyah itu wajar dan tidak bisa dihindari terjadinya. Khilafiyah sudah ada sejak awal mula risalah Islam pertama kali diturunkan di muka bumi.
  2. Yakin bahwa beda pendapat itu bukan dosa, justru sebaliknya kita jadi semakin punya khazanah yang kaya tentang ragam alur hukum.
  3. Yakin bahwa khilafiyah itu bukan persoalan yang harus ditangani dengan sewot dan emosi, melainkan sebuah kewajaran yang manusiawi.
  4. Selama masih ada Quran dan sunnah, sudah pasti muncul perbedaan pendapat. Karena sejak zaman nabi dan shahabat di mana Quran sedang turun dan hadits masih diucapkan oleh nabi, sudah ada perbedaan pendapat di kalangan mereka. Kalau perbedaan pendapat mau dihilangkan, maka hapus dulu Quran dan sunnah dari muka bumi.
  5. Kita diharamkan merasa diri paling benar dengan pendapat kita. Padahal kapasitas kita tidak pernah sampai kepada derajat ulama ahli istimbath hukum.
  6. Kita diharamkan untuk mencaci maki ulama, apalagi sampai menuduh mereka ahli bid’ah, hanya lantaran para ulama itu tidak sama pandangannya dengan apa yang kita pikirkan.
  7. Kita tidak bisa memaksakan manusia untuk berpendapat sesuai dengan pendapat kita sendiri dengan menafikan, mengecilkan atau malah menghina pendapat orang lain. Tindakan seperti ini hanya dilakukan oleh mereka yang jahil dan tak berilmu.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc.

Diambil secara utuh dari www.eramuslim.com edisi Selasa, 13 Jun 06 15:35 WIB.

Benarkah Quran Menetapkan Bahwa Matahari Mengelilingi Bumi?

Desember 4, 2007

Ustadz Menjawab :: bersama Ust. H. Ahmad Sarwat, Lc.

Saya membaca fatwa ulama yaitu Syeikh Utsaimin yang menegaskan bahwa zhahir ayat Quran mengatakan bahwa matahari bergerak mengelilingi bumi. Pandangan ini menurut beliau berdasarkan banyak ayat Quran, sehingga kita tidak boleh berpandangan sebaliknya bahwa bumi-lah yang mengelilingi matahari. Bahkan menurut beliau, suat hari nanti para ilmuwan akan berbantahan tentang benarkan bumi mengitari matahari.

Mohon klarifikasi dari ustadz, benarkah ulama sekelas Syaikh Utsaimin mengatakan hal itu? Dan benarkah memang al-Quran secara tegas menyatakan hal itu.

Terima kasih jazakamullahu khairal jaza’.

Erti Manangku
ertia

Jawaban

Assalamu a’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Setiap ulama tentu berhak untuk mengeluarkan pendapat dan fatwanya. Juga berhak untuk diikuti fatwa dan pendapatnya itu oleh umat Islam.

Namun tidak ada satu pun manusia yang dijamin oleh Allah SWT dan Rasulullah SAW selalu pasti benar dalam segala halnya. Bahkan para shahabat yang mulia dan dijamin masuk surga sekalipun, terkadang tidak saling sependapat dalam banyak masalah antara sesama mereka. Perbedaan pandangan di kalangan shahabat nabi SAW menunjukkan bahwa seseorang bisa saja punya pendapat yang berbeda dengan saudaranya, tanpa harus terjadi permusuhan atau saling ejek di antara mereka.

Para ulama sejak masa salaf dahulu, banyak yang berbeda pendapat. Di antara mereka ada yang benar dalam ijtihad dan di antaranya ada yang salah. Bahkan Imam As-Syafi’i rahimahullah pernah mengoreksi pendapat-pendapatnya yang telah ditetapkan sebelumnya. Sehingga ada dua qaul dalam mazhabnya, yaitu qaul qadim ketika beliau tinggal di Iraq dan qaul jadid ketika beliau tinggal di Mesir.

Bahkan para ulama di level mujtahid mutlak sekalipun tidak pernah mewajibkan manusia untuk hanya berguru kepada dirinya sendiri saja. Bagi mereka, bila ada orang yang ingin berpendapat sebagaimana pendapat dirinya, boleh saja. Tapi bila menolak dan mengambil pendapat ulama lain, mereka ikhlas dan sama sekali tidak sakit hati.

Bila di masa sekarang ini ada pendapat dan pandangan dari ulama tertentu yang barangkali tidak kita sejalan, tanpa mengurangi rasa hormat kepada beliau, boleh saja hal itu ditolak dan tidak berdosa. Asalkan ada pembanding dari pendapat ulama lainnya yang dirasa lebih kuat hujjahnya.

Matahari Mengelilingi Bumi?

Benar bahwa salah satu di antara ulama yang berpendapat bahwa matahari bergerak mengelilingi bumi adalah Syeikh Al-Utsaimin. Keluasan ilmu beliau dan kedalamannya dalam masalah agama, tentu tidak perlu diragukan lagi. Namun bukan berarti beliau harus selalu benar dalam semua pendapatnya.

Apalagi yang beliau sampaikan bukan terkait dengan masalah umurdiniyyah, melainkan tsaqafah umum terkait dengan sebuah fenomena alam yang di dalam Al-Quran disampaikan lewat isyarat. Bukan lewat pernyataan yang bersifat eksplisit. Artinya, kesalahan dalam memahami hal-hal seperti ini tidak berpengaruh pada masalah aqidah dan syariah, namun lebih kepada informasi tentang fenomena alam dan ilmu pengetahuan.

Kalau kita teliti lebih dalam, sebenarnya di dalam Al-Quran tidak pernah ada ayat yang bunyinya secara tegas menyebutkan bahwa matahari bergerak mengelilingi bumi. Penekanannya di sini pada kalimat: mengelilingi bumi. Kalau ayat yang menunjukkan bahwa matahari bergerak dan digerakkan oleh Allah SWT, memang banyak bertaburan di banyak tempat dalam Al-Quran. Akan tetapi tidak ada satupun yang menyebutkan dengan mengelilingi bumi.

Yang ada hanya pernyataan bahwa matahari itu bergerak, beredar, terbit, terbenam, condong, pergi, datang dan sejenisnya. Semua pernyataan itu tentu tidak boleh kita tolak. Namun sekali lagi, Al-Quran tidak pernah menyebutkan bahwa matahari MENGELILINGI bumi. Tidak ada ayat yang bunyinya: asyamsu taduru haulal ardhi.

Walhasil, secara zahir nash tidak ada pernyataan di dalam Al-Quran bahwa matahari mengelilingi bumi.

Kalau pun matahari disebutkan telah bergerak dalam arti terbit, terbenam, condong dan sebagainya, tidak ada seorang muslim pun yang menolaknya. Karena zhahir nash memang mengatakan demikian. Perhatikan ayat-ayat berikut ini:

Dan kamu akan melihat matahari ketika terbit, condong dari gua mereka ke sebelah kanan, dan bila matahari terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri. (QS al-Kahfi: 17)

Namun semua yang terkait dengan informasi matahari itu sangat dikaitkan dengan pandangan subjektif manusia. Di mana Allah SWT memang berfirman untuk umat manusia. Maka boleh saja disebutkan bahwa matahari itu terbit, tentunya dari sudut pandang manusia. Padahal sesungguhnya, matahari tidak pernah pergi menghilang dari wujudnya, dia hanya menghilang dari pandangan mata kita saja.

Untuk lebih jelasnya, silahkan perhatikan ayat berikut ini:

Hingga apabila dia telah sampai ketempat ter benam matahari, dia melihat matahari terbenam di dalam laut yang berlumpur hitam, dan dia mendapati di situ segolongan umat. Kami berkata, “Hai Dzulkarnain, kamu boleh menyiksa atau boleh berbuat kebaikan terhadap mereka.” (QS Al-Kafhi: 86)

Kalau kita lihat zhahir nash ayat ini, jelas sekali disebutkan bahwa ada tempat terbenamnya matahari, di mana matahari bukan hanya terbenam, tapi disebutkan tempatnya masuk ke dalam bumi, yaitu di laut yang berlumpur hitam. Tetapi apakah matahari turun ke bumi dan masuk ke dalam laut? Tentu tidak bukan. Ini hanya pandangan subjektif seseorang yang melihat seolah-olah matahari masuk ke dalam laut. Padahal hakikatnya matahari berjarak 8 menit perjalanan cahaya dari bumi.

Di dalam dalil lainnya yang juga shahih, disebutkan hal yang lebih aneh lagi. Yaitu matahari pergi ke ‘Arsy.

Nabi SAW berkata kepada Abu Dzar ketika matahari terbenam. “Apakah engkau tahu ke mana dia pergi?” Abu Dzar menjawab, “Allah dan rasulnya lebih mengetahui.” Nabi berkata, “Sesungguhnya dia pergi bersujud di bawah Arsy dan meminta izin lalu diizinkan. Dan dia meminta izin dan tidak diizinkan. Kemudian dikatakan, kembalilah ke tempat kamu muncul dan terbenamlah dari arah baratnya.”

Kalau memang hakikatnya matahari pergi pulang ke arsy tiap hari, dalam logika kita manusia di muka bumi, tentu harus ada masa dalam 24 jam bumi tidak mendapat sinar matahari dan juga alam semesta. Namun separuh manusia yang melata di muka bumi ini selalu dalam keadaan melihat matahari. Matahari tidak pernah tenggelam dari pandangan seluruh manusia di bumi.

Matahari hanya kelihatan terbit buat segelintir orang yang kebetulan berada pada posisi matahari terbit. Demikian juga matahari hanya terbenam dalam pandangan manusia yang kebetulan berada di belahan bumi yang sebentar lagi membelakangi matahari. Dan semua itu terjadi bergantian. Tapi sesungguhnya matahari tidak pernah absen dari kita. Yang terjadi sesungguhnya, manusia lah yang absen dari matahari dengan membelakanginya.

Dan karena Al-Quran bukan kitab astronomi, bahkan punya unsur sastra yang tinggi, maka sah-sah saja semua ungkapan yang seolah-olah menggambarkan bahwa matahari melakukan semua gerakan itu. Tanpa harus terjebak untuk menjelaskannya secara astronomi.

Seperti ungkapan indah Al-Quran tentang malam dan siang yang saling berkejaran, apakah kita mau artikan bahwa malam dan siang itu seperti dua anak kecil main kejar-kejaran atau main petak umpet? Tentu tidak, bukan? Ungkapan berkejaran itu adalah gaya bahasa yang indah, tapi jangan dipahami terlalu teknis dan sederhana.

Bahkan di dalam Al-Quran bertabur ayat yang punya gaya ungkapan bahasa yang indah, kadang sampai terasa aneh. Misalnya, uban yang tumbuh di kepala nabi Zakaria, disebutkan dengan ungkapan khas yaitu uban berkobar di kepala. Berkobar itu kan sesungguhnya sifat dari api. Tetapi apakah benar kepala nabi Zakaria itu terbakar? Tentu tidak, bukan?

Ia berkata, “Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah berkobar dengan uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdo’a kepada Engkau, ya Tuhanku.” (QS Maryam: 4)

Kebenaran Ilmu Pengetahuan

Namun lepas dari perbedaan pendapat dalam memahami nash Quran, kita pun harus tahu bahwa kebenaran dalam ilmu pengetahuan pun tidak pernah mutlak. Setiap kali selalu saja ada teori yang tumbang dengan teori baru. Setiap saat selalu saja muncul penemuan dan kebenaran baru, untuk sampai saatnya akan tumbang digantikan dengan yang baru.

Apa yang kita yakini sebagai kebenaran empiris tentang ilmu astornomi, sangat kita yakini suatu hari akan tumbang dengan fakta terbaru.

Wallau a’lam bishshawab wassalamu a’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc.

Diambil secara utuh dari www.eramuslim.com edisi Jumat, 16 Jun 06 14:16 WIB.

“Tuhan Kita: Allah!”

Desember 4, 2007

Kaum Pluralis mengatakan, semua agama menuju Tuhan yang satu. Padahal kelompok-kelompok Kristen berbeda penggunaan nama Tuhan mereka. Baca Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian Husaini ke-162

Oleh: Adian Husaini, MA

Salah satu pandangan yang senantiasa dilempar oleh kaum Pluralis Agama dalam ‘mengelirukan’ pemikiran kaum Muslim, adalah mengatakan, “semua agama adalah jalan yang berbeda-beda menuju Tuhan yang satu”.

Mereka mengatakan, soal nama “Yang Satu” itu tidaklah penting. Yang Satu itu dapat dinamai Allah, God, Lord, Yahweh, The Real, The Eternal One, dan sebagainya. Bagi mereka, nama Tuhan tidak penting. Ada yang menulis: “Dengan nama Allah, Tuhan Yang Maha Pengasih, Tuhan Yang Maha Penyayang, Tuhan Segala agama.”

Kita ingat, dulu, ada cendekiawan terkenal yang mengartikan kalimat syahadat dengan: “Tidak ada tuhan (dengan t kecil), kecuali Tuhan (dengan T besar).

Tradisi yang tidak tahu dan tidak mempersoalkan nama Tuhan bisa kita telusuri dari tradisi Yahudi. Kaum Yahudi, hingga kini, masih berspekulasi tentang nama Tuhan mereka.

Dalam konsep Judaism (agama Yahudi), nama Tuhan tidak dapat diketahui dengan pasti. Kaum Yahudi modern hanya menduga-duga, bahwa nama Tuhan mereka adalah Yahweh. The Concise Oxford Dictionary of World Religions menjelaskan ‘Yahweh’ sebagai “The God of Judaism as the ‘tetragrammaton YHWH, may have been pronounced. By orthodox and many other Jews, God’s name is never articulated, least of all in the Jewish liturgy.”

Karena tidak memiliki tradisi sanad yang sampai kepada Nabi Musa a.s. maka kaum Yahudi tidak dapat membaca dengan pasti empat huruf “YHWH”. Mereka hanya dapat menduga-duga, empat huruf konsonan itu dulunya dibaca Yahweh. Karena itu, kaum Yahudi Ortodoks tidak mau membaca empat huruf mati tersebut, dan jika ketemu dengan empat konsonan tersebut, mereka membacanya dengan Adonai (Tuhan).

Spekulasi Yahudi tentang nama Tuhan ini kemudian berdampak pada konsepsi Kristen tentang “nama Tuhan” yang sangat beragam, sesuai dengan tradisi dan budaya setempat. Di Mesir dan kawasan Timur Tengah lainnya, kaum Kristen menyebut nama Tuhan mereka dengan lafaz “Alloh”, sama dengan orang Islam; di Indonesia mereka melafazkan nama Tuhannya menjadi “Allah”; dan di Barat kaum Kristen menyebut Tuhan mereka dengan “God” atau “Lord”.

Bagi orang Kristen, “Allah” bukanlah nama diri, seperti dalam konsep Islam. Tetapi, bagi mereka, “Allah” adalah sebutan untuk “Tuhan itu” (al-ilah). Jadi, bagi mereka, tidak ada masalah, apakah Tuhan disebut God, Lord, Allah, atau Yahweh. Yang penting, sebutan itu menunjuk kepada “Tuhan itu”. Ini tentu berbeda dengan konsep Islam.

Di Indonesia, dalam beberapa tahun terakhir, muncul kelompok-kelompok Kristen yang menolak penggunaan nama “Allah” untuk Tuhan mereka dan menggantinya dengan kata “Yahwe”. Tahun 1999, muncul kelompok Kristen yang menamakan dirinya Iman Taqwa Kepada Shirathal Mustaqim (ITKSM) yang melakukan kampanye agar kaum Kristen menghentikan penggunaan lafaz Allah. Kelompok ini kemudian mengganti nama menjadi Bet Yesua Hamasiah (BYH). Kelompok ini mengatakan: “Allah adalah nama Dewa Bangsa Arab yang mengairi bumi. Allah adalah nama Dewa yang disembah penduduk Mekah.”

Kelompok ini juga menerbitkan Bibel sendiri dengan nama Kitab Suci Torat dan Injil yang pada halaman dalamnya ditulis Kitab Suci 2000. Kitab Bibel versi BYH ini mengganti kata “Allah” menjadi “Eloim”, kata “TUHAN” diganti menjadi “YAHWE”; kata “Yesus” diganti dengan “Yesua”, dan “Yesus Kristus” diubah menjadi “Yesua Hamasiah”.

Berikutnya, muncul lagi kelompok Kristen yang menamakan dirinya “Jaringan Gereja-gereja Pengagung Nama Yahweh” yang menerbitkan Bibel sendiri dengan nama “Kitab Suci Umat Perjanjian Tuhan ini”. Kelompok ini menegaskan, “Akhirnya nama “Allah” tidak dapat dipertahankan lagi.” (Tentang kontroversi penggunaan nama Allah dalam Kristen, bisa dilihat dalam buku-buku I.J. Setyabudi, Kontroversi Nama Allah, (Jakarta: Wacana Press, 2004); Bambang Noorsena, The History of Allah, (Yogya: PBMR Andi, 2005); juga Herlianto, Siapakah Yang Bernama Allah Itu? (Jakarta: BPK, 2005, cetakan ke-3).

Itulah tradisi Yahudi-Kristen dalam soal penyebutan nama Tuhan. Sayangnya, oleh sebagian kaum Muslim atau orientalis Barat, tradisi Yahudi dan Kristen ini kemudian dibawa ke dalam Islam. Pada berbagai terjemahan Al-Quran dalam bahasa Inggris, kita menemukan tindakan yang tidak tepat, yaitu menerjemahkan semua lafaz Allah dalam Al-Quran menjadi “God”. Dalam konsep Islam, Allah adalah nama diri (ismul ‘alam/proper name)dari Dzat Yang Maha Kuasa.

Maka, seharusnya, lafaz “Allah” dalam Al-Quran tidak diterjemahkan ke dalam sebutan lain, baik diterjemahkan dengan “Tuhan”, “God”, atau “Lord”.

Beberapa terjemahan Al-Quran bahasa Inggris telah menerjemahkan lafaz Allah menjadi God. Misalnya, Abdullah Yusuf Ali – dalam The Holy Qur’an — menerjemahkan “Bismillah” dengan “In the name of God”.

Begitu juga, “Alhamdulillah” diterjemahkan dengan “Praise be to God”, dan “Qul Huwallahu ahad” diterjemahkan dengan “Say: He is God, the One and Only”. Kasus yang sama – penerjemahan nama Allah menjadi God – juga bisa dilihat dalam Terjemah al-Quran bahasa Inggris yang dilakukan oleh J.M.

Rodwell (terbitan J.M. Dent Orion Publishing Group, London, 2002. Terbit pertama oleh Everyman tahun 1909). Harusnya, kata Allah dalam al-Quran tidak diterjemahkan, karena “Allah” adalah nama. Seperti halnya kita tidak boleh menerjemahkan kata “President Bush” dengan “Presiden semak”, atau nama Menlu AS “Rice” dengan “Menteri Nasi”.

Menurut Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas, sesuai dengan konsep Pandangan Hidup Islam (Islamic worldview) yang bersifat otentik dan final, maka konsep Islam tentang Tuhan, juga bersifat otentik dan final. Itu disebabkan, konsep Tuhan dalam Islam, dirumuskan berdasarkan wahyu dalam Al-Quran yang juga bersifat otentik dan final.

Konsep Tuhan dalam Islam memiliki sifat yang khas yang tidak sama dengan konsepsi Tuhan dalam agama-agama lain, tidak sama dengan konsep Tuhan dalam tradisi filsafat Yunani; tidak sama dengan konsep Tuhan dalam filsafat Barat modern atau pun dalam tradisi mistik Barat dan Timur. (Syed Muhammad Naquib al-Attas, Prolegomena to the Metaphysic of Islam, (Kuala Lumpur: ISTAC, 1995).

Bait pertama dalam Aqidah Thahawiyah yang ditulis oleh Abu Ja’far ath-Thahawi (239-321H), dan disandarkan pada Imam Abu Hanifah, Abu Yusuf, Imam Syaibani, menyatakan: “Naquulu fii tawqiidillaahi mu’taqidiina – bitawfiqillaahi: Innallaaha waahidun laa syariikalahu.” Dalam Kitab Aqidatul Awam – yang biasa diajarkan di madrasah-madrasah Ibtidaiyah – ditulis bait pertama kitab ini: “Abda’u bismillaahi wa-arrahmaani—wa bi-arahiimi daa’imil ihsani.” Ayat pertama dalam al-Quran juga berbunyi “Bismillahirrahmaanirrahiimi”, dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Tuhan, dalam Islam, dikenal dengan nama Allah. Lafaz ‘Allah’ dibaca dengan bacaan yang tertentu. Kata “Allah” tidak boleh diucapkan sembarangan, tetapi harus sesuai dengan yang dicontohkan Rasulullah saw, sebagaimana bacaan-bacaan ayat-ayat dalam Al-Quran.

Dengan adanya ilmul qiraat yang berdasarkan pada sanad – yang sampai pada Rasulullah saw – maka kaum Muslimin tidak menghadapi masalah dalam penyebutan nama Tuhan. Umat Islam juga tidak berbeda pendapat tentang nama Tuhan, bahwa nama Tuhan yang sebenarnya ialah Allah.

Dengan demikian, “nama Tuhan”, yakni “Allah” juga bersifat otentik dan final, karena menemukan sandaran yang kuat, dari sanad mutawatir yang sampai kepada Rasulullah saw. Umat Islam tidak melakukan ’spekulasi filosofis’ untuk menyebut nama Allah, karena nama itu sudah dikenalkan langsung oleh Allah SWT – melalui Al-Quran, dan diajarkan langsung cara melafalkannya oleh Nabi Muhammad saw.

Dalam konsepsi Islam, Allah adalah nama diri (proper name) dari Dzat Yang Maha Kuasa, yang memiliki nama dan sifat-sifat tertentu. Sifat-sifat Allah dan nama-nama-Nya pun sudah dijelaskan dalam al-Quran, sehingga tidak memberikan kesempatan kepada terjadinya spekulasi akal dalam masalah ini. Tuhan orang Islam adalah jelas, yakni Allah, yang SATU, tidak beranak dan tidak diperanakkan, dan tidak ada sesuatu pun yang
serupa dengan Dia. (QS 112). Dan syahadat Islam pun begitu jelas: “La ilaha illallah, Muhammadur Rasulullah” — Tidak ada tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah”. Syahadat Islam ini tidak boleh diterjemahkan dengan “Tidak ada tuhan kecuali Tuhan dan Yang Terpuji adalah utusan Allah”.

Kaum Muslim di seluruh dunia – dengan latar belakang budaya dan bahasa yang berbeda – juga menyebut dan mengucapkan nama Allah dengan cara yang sama. Karena itu, umat Islam praktis tidak mengalami perbedaan yang mendasar dalam masalah konsep ‘Tuhan’. Karen Armstrong menulis dalam bukunya:

“Al-Quran sangat mewaspadai spekulasi teologis, mengesampingkannya sebagai zhanna, yaitu menduga-duga tentang sesuatu yang tak mungkin diketahui atau dibuktikan oleh siapa pun. Doktrin Kristen tentang Inkarnasi dan Trinitas tampaknya merupakan contoh pertama zhanna dan tidak mengherankan jika umat Muslim memandang ajaran-ajaran itu sebagai penghujatan.” (Karen Armstrong, Sejarah Tuhan (Terj), 2001), hal. 199-200).

Bagi kaum Pluralis Agama, siapa pun nama Tuhan tidak menjadi masalah, karena biasanya mereka memandang, agama adalah bagian dari ekspresi budaya manusia yang sifatnya relatif. Karena itu, tidak manjadi masalah, apakah Tuhan disebut Allah, God, Lord, Yahweh, dan sebagainya. Mereka juga mengatakan, bahwa semua ritual dalam agama adalah menuju Tuhan yang satu, siapa pun nama-Nya. Nurcholish Madjid, misalnya, menyatakan, bahwa:

“… setiap agama sebenarnya merupakan ekspresi keimanan terhadap Tuhan yang sama. Ibarat roda, pusat roda itu adalah Tuhan, dan jari-jari itu adalah jalan dari berbagai Agama.” (Lihat, buku Tiga Agama Satu Tuhan, (1999), hal. xix).

Seorang Pluralis pendatang baru, juga menulis dalam buku terbarunya, “Semua agama itu kembali kepada Allah. Islam, Hindu, Budha, Nasrani, Yahudi, kembalinya kepada Allah.”

Pandangan yang menyatakan, bahwa semua agama menyembah Tuhan yang sama, yaitu Allah, adalah pandangan yang keliru. Hingga kini, sebagaimana dipaparkan sebelumnya, di kalangan Kristen saja, muncul perdebatan sengit tentang penggunaan lafal “Allah” sebagai nama Tuhan. Sebagaimana kaum Yahudi, kaum Kristen sekarang juga tidak memiliki ‘nama Tuhan’ secara khusus. Kaum Hindu, Budha, dan pemeluk agama-agama lain juga tidak mau menggunakan lafaz “Allah” sebagai nama Tuhan mereka.

Kaum musyrik dan Kristen Arab memang menyebut nama Tuhan mereka dengan “Allah” sama dengan orang Islam. Nama itu juga kemudian digunakan oleh Al-Quran. (Al-Quran memang menyebutkan, jika kaum musyrik Arab ditanya tentang siapa yang menciptakan langit dan bumi, maka mereka akan menyebut “Allah”. (Lihat QS 29:61, 43:87).

Tetapi, perlu dicatat, bahwa Al-Quran menggunakan kata yang sama namun dengan konsep yang berbeda. Bagi kaum musyrik Arab, Allah adalah salah satu dari Tuhan mereka, disamping tuhan Lata, Uza, Hubal, dan sebagainya. Karen Armstrong menyebut, ketika Islam datang, ‘Allah’ dianggap sebagai ‘Tuhan Tertinggi dala keyakinan Arab kuno’. (Lihat, Karen Armstrong, op cit, hal. 190).

Karena itu, dalam pandangan Islam, mereka melakukan tindakan syirik terhadap Allah. Sama dengan kaum Kristen, yang dalam pandangan Islam, juga telah melakukan tindakan syirik dengan mengangkat Nabi Isa sebagai Tuhan. Karena itulah, Nabi Muhammad saw – sesuai dengan ketentuan QS al-Kafirun – menolak ajakan kaum musyrik Quraisy untuk melakukan penyembahan kepada Tuhan masing-masing secara bergantian.

Jadi, tidak bisa dikatakan, bahwa orang Islam menyembah Tuhan yang sama dengan kaum kafir Quraisy. Jika menyembah Tuhan yang sama, tentulah Nabi Muhammad saw akan memenuhi ajakan kafir Quraisy.

“Katakan, hai orang-orang kafir! Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi peyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmulah agamamu, dan untukkulah agamaku.” (QS 109).

QS al-Kafirun ini menjadi dalil bahwa karena konsep Tuhan yang berbeda – meskipun namanya sama, yaitu Allah — dan cara beribadah yang tidak sama pula, maka tidak bisa dikatakan bahwa kaum Muslim dan kaum kafir Quraisy menyambah Tuhan yang sama. Itu juga menunjukkan, bahwa konsep Tuhan kaum Quraisy dipandang salah oleh Allah dan Rasul-Nya. Begitu juga cara (jalan) penyembahan kepada Allah. Karena itulah, nabi Muhammad dilarang mengikuti ajakan kaum kafir Quraisy untuk secara bergantian menyembah Tuhan masing-masing.

Sebagai Muslim, kita meyakini, Islam adalah agama yang benar. Tuhan kita Allah, yang nama-Nya diperkenalkan langsung dalam Al-Quran. Tidaklah patut kita membuat teori-teori yang berasal dari spekulasi akal, dengan menyama-nyamakan Allah dengan yang lain, atau menserikatkan Allah dengan yang lain, sebagaimana dilakukan oleh orang-orang yang mengaku Pluralis Agama. Wallahu a’lam. (Bojonegoro, 15 September 2006/www.hidayatullah.com ).

Catatan Akhir Pekan adalah hasil kerjasama antara Radio Dakta 107 FM dan www.hidayatullah.com

Diambil secara utuh dari www.hidayatullah.com edisi Senin, 18 September 2006.

“Mengajak Jalaluddin Rakhmat Bertobat “

November 21, 2007

Jalaluddin Rakhmat, memanipulasi ayat untuk mendukung gagasan Pluralisme Agama. Cara seperti ini sama saja dengan “menjual minyak babi bercap onta”. Baca Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian Husaini ke 164

Oleh: Adian Husaini

 

Pada tanggal 19 September 2006 lalu, bertempat di kampus Universitas Paramadina Jakarta, saya diundang untuk membahas buku baru dari Dr. Jalaluddin Rakhmat yang berjudul “Islam dan Pluralisme: Akhlak Quran Menyikapi Perbedaan.” Sejak awal, saya sebenarnya enggan melayani perdebatan tentang Pluralisme Agama, karena berdasarkan pengalaman, selama ini, perdebatan seperti itu tidak banyak membawa manfaat.

Tetapi, karena ada pertimbangan khusus, undangan itu saya terima. Beberapa pekan sebelumnya, saya sudah bertemu dengan Jalaluddin Rakhmat, yang biasanya dipanggil sebagai Kang Jalal. Dalam forum tersebut Jalal menyatakan, bahwa “menjadi orang Kristen yang beramal shalih lebih baik daripada menjadi orang muslim yang jahat”. Saya sempat kirim SMS mempertanyakan ucapan dia tersebut.

Dengan niat ingin berdakwah dan menjelaskan kekeliruan pandangan “Pluralisme Agama” tersebut di kampus Paramadina, saya bersedia menghadiri forum tersebut. Ternyata forum itu sangat ramai. Pengunjung berjubel memadati ruangan. Maka, sedapat mungkin, saya mencoba menjelaskan kekeliruan paham Pluralisme Agama, termasuk yang disampaikan oleh Jalaluddin Rakhmat melalui bukunya tersebut. Untuk itu, pada malam itu, saya luncurkan juga buku baru saya yang berjudul “Pluralisme Agama: Parasit bagi Agama-agama”.

Salah satu yang saya kritik keras adalah cara Jalaluddin Rakhmat dalam mengutip dan menafsirkan ayat-ayat Al-Quran yang dia katakan sebagai “ayat pluralis”. Tampak, ada pemutarbalikkan makna ayat-ayat Al-Quran dengan tujuan untuk melegitimasi pandangan Pluralisme Agama, seolah-olah Pluralisme Agama adalah paham yang dibenarkan oleh Al-Quran . Cara seperti ini sama saja dengan “menjual minyak babi tetapi diberi cap onta”. Ayat-ayat Al-Quran ditafsirkan dengan semaunya sendiri untuk membenarkan paham yang salah.

Dalam bukunya tersebut, misalnya, Jalal mengutip, pendapat Rasyid Ridha dalam Kitab Tafsir al-Manar Jilid I:336-338, tentang penafsiran QS al-Baqarah: 62, yang artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Kristen, dan kaum Shabiin, siapa saja yang beriman kepada Allah, Hari Akhir, dan beramal shalih, maka mereka akan mendapatkan pahala dari sisi Allah dan tidak ada ketakutan dan kekhawatiran atas mereka.”

Dalam ayat ini, menurut Jalal yang mengutip Rasyid Ridha, kaum Yahudi dan Kristen akan dapat meraih keselamatan meskipun tidak beriman kepada Nabi Muhammad saw. Jadi, untuk meraih keselamatan, seseorang hanya disyaratkan beriman kepada Allah, iman kepada hari pembalasan, dan beramal saleh – tanpa wajib beriman kepada kenabian Muhammad saw. Bahkan, Jalaluddin Rakhmat juga menyatakan:

“Bertentangan dengan kaum eksklusivis adalah kaum pluralis. Mereka berkeyakinan bahwa semua pemeluk agama mempunyai peluang yang sama untuk memperoleh keselamatan dan masuk sorga. Semua agama benar berdasarkan kriteria masing-masing. Each one is valid within its particular culture. Mereka percaya rahmat Allah itu luas.”

Pendapat semacam ini sudah pernah dikemukakan oleh tokoh Pluralis Agama Prof. Abdul Aziz Sachedina, yang menulis:

Rashid Rida does not stipulate belief in the prophethood of Muhammad for the Jews and Christians desiring to be saved, and hence implicitly maintains the salvific validity of both the Jewish and Christian revelation.” (Terjemahan bebasnya: Rasyid Ridha tidak mensyaratkan iman kepada kenabian Muhammad bagi kaum Yahudi dan Kristen yang berkeinginan untuk diselamatkan, dan karena itu, ini secara implisit menetapkan validitas kitab Yahudi dan Kristen). (Lihat Abdul Aziz Sachedina, “Is Islamic Revelation an Abrogation of Judaeo-Christian Revelation? Islamic Self-identification in the Classical and Modern Age, dalam Hans Kung and Jurgen Moltman, Islam: A Challenge for Christianity, (London: SCM Press, 1994)).

Baik Jalaluddin Rakhmat atau Sachedina sama-sama bersikap manipulatif dalam menampilkan pendapat Muhamamd Abduh dan Rasyid Ridha tentang keselamatan Ahli Kitab. Mereka hanya mengutip Tafsir al-manar Jilid I, dan tidak melanjutkan telaahnya kepada bagian lain Tafsir al-Manar. Jalaluddin Rakhmat bahkan menyimpulkan bahwa Rasyid Ridha seolah-olah merupakan seorang pluralis. Padahal, jika mereka mau menelaah bagian Tafsir al-Manar lainnya, akan dapat menemukan pendapat Mohammad Abduh atau Rasyid Ridha yang sangat berbeda dengan kesimpulan mereka itu.

Dalam forum di Paramadina tersebut, saya bawakan fotokopian Tafsir al-Manar Jilid IV yang membahas tentang keselamatan Ahlul Kitab, yang dengan tegas menyebutkan, bahwa bahwa QS al-Baqarah:62 tersebut adalah membicarakan keselamatan Ahlul Kitab yang dakwah Nabi (Islam) tidak sampai menurut yang sebenarnya kepada mereka, sehingga kebenaran agama Islam tidak tampak bagi mereka. Karena itu, mereka diperlakukan seperti Ahlul Kitab yang hidup sebelum kedatangan Nabi Muhammad saw.

Sedangkan bagi Ahli Kitab yang dakwah Islam sampai kepada mereka, Rasyid Ridha menggunakan QS Ali Imran ayat 199 sebagai landasannya. Kepada mereka ini, untuk meraih keselamatan, maka harus memenuhi lima syarat, yaitu:

(1) beriman kepada Allah dengan iman yang benar, yakni iman yang tidak bercampur dengan kemusyrikan dan disertai dengan ketundukan yang mendorong untuk melakukan kebaikan, (2) beriman kepada al-Quran yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad. (3) beriman kepada kitab-kitab yang diwahyukan bagi mereka, (4) rendah hati (khusyu’), (5) tidak menjual ayat-ayat Allah dengan harta benda dunia.

Abduh mengakui adanya Ahli Kitab yang memenuhi kelima syarat itu, hanya saja jumlahnya sedikit, dan mereka itu merupakan orang-orang pilihan dalam hal ilmu, keutamaan, dan ketajaman penglihatan batin. Mereka tersembunyi dalam lipatan-lipatan sejarah atau di lereng-lereng gunung dan pelosok-pelosok negeri, dan oleh agama resmi mereka malah dituduh sebagai kafir dan pengikut ajaran sesat.

Itulah pendapat Abduh dan Ridha tentang keselamatan Ahli Kitab sebagaimana ditulis dalam Tafsir al-Manar, yang secara gegabah dimanipulasi oleh Abdul Aziz Sachedina dan Jalaluddin Rakhmat. Tindakan memanipulasi pendapat mufassir semacam ini adalah tindakan yang sangat tidak terpuji, apalagi digunakan untuk mendukung paham Pluralisme Agama, yang sama sekali tidak dilakukan oleh Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha. Jika mau mendukung paham Pluralisme Agama, lakukanlah dengan fair dengan membuat tafsir sendiri, baik Tafsir Jalaluddin Rakhmat atau Tafsir Sachedina, tanpa memanipulasi pendapat ulama atau tokoh yang lain.

Dengan logika sederhana kita bisa memahami, bahwa untuk dapat “beriman kepada Allah” dengan benar dan beramal saleh dengan benar, seseorang pasti harus beriman kepada Rasul Allah saw. Sebab, hanya melalui Rasul-Nya, kita dapat mengenal Allah dengan benar; mengenal nama dan sifat-sifat-Nya. Juga, hanya melalui Nabi Muhammad saw, kita dapat mengetahui, bagaimana cara beribadah kepada Allah dengan benar. Jika tidak beriman kepada Nabi Muhammad saw, mustahil manusia dapat mengenal Allah dan beribadah dengan benar, karena Allah SWT hanya memberi penjelasan tentang semua itu melalui rasul-Nya.

Sejak lama Jalaluddin Rakhmat dikenal sebagai pakar dan jago komunikasi massa. Kata-katanya mengalir dan bisa menyihir orang yang mendengarnya. Saya melihat, bagaimana hebatnya dia dalam mempengaruhi orang, apalagi yang tidak sempat mengecek sendiri ayat-ayat atau tafsir Al-Quran yang dikutipnya.

Saya berpikir, alangkah sayangnya, kepandaian dan kehebatan itu jika digunakan untuk menyesatkan manusia. Padahal, jika kepandaian itu digunakan untuk mengajak manusia ke jalan Allah, akan sangat bermanfaat, bagi diri Jalaluddin Rakhmat sendiri, maupun bagi umat Islam secara keseluruhan. Selama ini, Jalaluddin Rakhmat banyak dikenal sebagai penyebar ide-ide Syiah di Indonesia. Entah mengapa, dia sekarang meloncat lagi menjadi penyebar ide-ide Pluralisme Agama, yang amat sangat kacau dan merusak.

Tampilnya Jalaluddin Rakhmat sebagai penyebar ide Pluralisme Agama tentu saja menambah darah baru bagi para pendukung paham ini. Tetapi, jika ditelaah, argumentasi yang digunakan masih seputar itu-itu juga. Ayat-ayat yang dikutip dalam Al-Quran juga dipilih-pilih yang seolah-olah mendukung paham Pluralisme Agama. Tetapi, karena pendukung paham ini kadang begitu pandai dalam mengutip ayat-ayat al-Quran, bukan tidak mungkin akan banyak orang yang tertipu, menyangka ‘’minyak babi’’ yang dijajakan mereka sebagai ‘’minyak onta’’.

Dengan masuknya Jalaluddin Rakhmat ke dalam barisan penyebar paham ini, maka sekarang, bagi umat Islam, sudah makin jelas, di barisan mana Jalaluddin Rakhmat berada. Di akhir presentasi saya, secara terbuka, saya mengajak Jalaluddin Rakhmat untuk bertobat dan kembali ke jalan yang benar, dengan meninggalkan paham Pluralisme Agama dan kembali kepada iman Islam. Saya sudah berusaha sekuat tenaga untuk menjelaskan kekeliruan mereka. Jika mereka tidak mau menerima, tugas saya untuk menyampaikan sudah selesai. Terserah mereka, Jalaluddin Rakhmat dan pendukung Pluralisme Agama lainnya, untuk mengambil sikap.

Di atas semua itu, sebagai Muslim, kita patut merenungkan firman Allah SWT:

Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian lainnya perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu.” (QS Al-An’am:112)

Mudah-mudahan, sebagai Muslim yang mengimani kebenaran Islam, kita tidak termasuk ke dalam barisan musuh para Nabi. Amin. (Jakarta, 29 September 2006/www.hidayatullah.com).

Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian Husaini adalah hasil kerjasama antara Radio Dakta 107 FM dan www.hidayatullah.com

Diambil secara utuh dari www.hidayatullah.com edisi Sabtu, 30 September 2006.