Layanan SIM Keliling Polresta Yogyakarta


pelayanan2bsim2bkelilingBagi Anda warga DIY yang bekerja di sekitaran Kota Yogyakarta, jika ingin memperpanjang SIM, kini tidak harus datang ke Polres, cukup melalui Bus SIM Keliling yang ditempatkan di beberapa titik tertentu. Sebagai catatan, pelayanan SIM keliling yang dibuka pukul 09.00 WIB hingga 12.00 WIB ini hanya menerima perpanjangan SIM A dan SIM C. Warga yang mengurus hanya diminta membawa persyaratan: fotokopi KTP yang masih berlaku dan fotokopi SIM masing masing rangkap tiga serta Surat Keterangan Kesehatan Dokter.
  • Senin, Pelayanan di depan Balai Kota Yogyakarta (09.00 s/d 12.00)
  • Selasa, Pelayanan di depan Balai Kota Yogyakarta (09.00 s/d 12.00) 
  • Rabu Pelayanan di Purawisata mulai pukul (09.00 s/d 12.00) 
  • Kamis, Pelayanan di depan Puro Pakualaman (09.00 s/d 12.00) 
  • Jumat, Pelayanan di Purawisata (09.00 s/d 12.00) 
  • Sabtu Pelayanan di Depan Pos Teteg Malioboro (19.00 s/d 21.00)

Ilmu


amal tanpa ilmu seperti pohon tanpa akar

sedangkan ilmu tanpa amal seperti pohon yang tidak berbuah

SD INTIS School Yogyakarta Berburu Turis


IMG_2525SD INTIS School Yogyakarta telah menyelenggarakan acara berburu turis yang diadakan di Candi Prambanan Yogyakarta pada hari Senin (28/3). Acara ini merupakan acara tahunan bagi SD INTIS School Yogyakarta yang bertujuan untuk mengasah kemampuan berbahasa Inggris siswa khususnya dalam berbicara dengan turis asing. Acara berburu turis ini biasa dikenal dengan ‘Tourist Hunting Event’. Berlangsungnya acara ini dengan membagi siswa menjadi beberapa kelompok dan di masing-masing kelompok didampingi oleh dua orang educator sebagai pemandu. Pada pukul 08.30 WIB acara dimulai dengan briefing di depan pintu masuk candi. Seusai briefing, masing-masing kelompok dipersilakan mengelilingi pelataran Candi Prambanan, mencari turis asing untuk dijadikan sebagai narasumber dalam berbincang menggunakan bahasa Inggris. Mr Zen sebagai salah satu pemandu Tourist Hunting Event mengatakan, “Siswa sangat antusias dalam berburu turis karena siswa menganggap event ini sebagai ajang kompetisi untuk mendapatkan turis sebanyak-banyaknya untuk diwawancarai. Kelompok yang mendapatkan turis terbanyak akan menjadi pemenang. Mereka sangat percaya diri dalam bercincang dengan para turis.”

Ibarat Teko


tekoManusia ibarat teko, ia tak kan bisa menuangkan air jika ia tak punya air.

Manusia yang tak punya ilmu,  ia tak kan bisa berbagi ilmu.

Mari jadilah kita seperti teko yang berisi sepenuh air manfaat,

sehingga kita selalu bisa berbagi ilmu  di manapun kita berada.

Semakin banyak ilmu yang kita bagi, semakin banyak ilmu yang kan kita dapat.

Ingat sabda Rasulullah SAW, “Menuntut ilmu wajib bagi setiap muslim.” (HR. Muslim)

Tanpa Pamrih


kubantu teman

Hari ini saya belajar dari murid saya yang satu ini. Ia tanpa pamrih membantu temannya menalikan sepatu. Ia begitu sigap begitu melihat temannya kesulitan menalikan sepatu. “Nak, semoga kelak engkau jadi orang dermawan yang hanya selalu mengharapkan ridha Allah SWT, aamiin..”:)

Orang Dewasa Tidak Adil!


Hari ini saya menegur beberapa murid saya yang melanggar aturan sekolah, yaitu harus memakai sandal atau sepatu ketika bermain atau berada di area play ground. Tak seperti biasanya. Ketika saya minta mereka untuk membaca istighfar karena pelanggaran tersebut, ada salah satu murid saya yang berkaca-kaca, lalu menangis menyendiri. Tiba-tiba ia mendatangi saya dengan muka marah, matanya  memerah, mengeluarkan air mata, tangannya mengepal di samping badan, lalu berkata dengan nada tinggi, “Orang dewasa tidak adil! Mengapa orang dewasa selalu menghukum anak-anak yang melanggar aturan, sementara kalau orang dewasa yang melanggar aturan, mereka tidak diberi hukuman yang sama?!” Saya pun terdiam, kaget mendengar kata-kata tajam meluncur dari murid saya yang satu ini. Ia selama ini saya kenal sebagai anak yang cute, ceria, dan lucu, ternyata bisa semarah ini dan mengeluarkan kalimat yang sangat menohok. Lalu murid saya itu saya ajak ngobrol dan berakhir dengan kesepakatan bahwa orang dewasa yang ada di sekolah juga harus saya minta istighfar ketika melanggar aturan tidak memakai alas kaki di area play ground.

Setelah saya renungkan, ada benarnya juga kata-kata murid saya itu.. kadangkala kita sebagai orang dewasa menuntut anak disiplin, sementara diri kita sering membuat permakluman atas kesalahan yang kita perbuat. Padahal, perbuatan kita menjadi contoh bagi anak-anak dan murid-murid kita. Astaghfirullaah.. Terima kasih muridku, kau telah memberikan secercah cahaya untuk evaluasi diri gurumu yang banyak berbuat salah ini. Semoga kelak engkau menjadi pelita bagi kegelapan di manapun engkau berada, aamiin..

 

Assalamu’alaikum :)


Assalamu’alaikum, Sahabatku semuanya… Bagaimana kabarnya? Sehat kan? Semoga demikian adanya.. Sudah lama sekali ya saya tak menyentuh blog ini. Posting terakhir pada bulan April 2014. Wah, ternyata sudah 9 bulan :O Apa ya kesibukan saya sampai-sampai tak sempatkan urus blog ini? Hmm.. lebih tepatnya sok sibuk kali ya.. hehe
Btw, kabar baiknya, mulai hari ini saya ingin hidupkan kembali blog ini dengan postingan-postingan yang insyaAllah bermanfaat.. kalau dirasa tak ada manfaatnya tak usah dibaca dan kasih tau saya ya.. Oke?! Terima kasih:) [.]

UFO Super


ufo super

ufo super sedang latihan karate

Perkenalkan salah satu murid saya di SD Intis School Yogyakarta. Ufo merupakan nama panggilannya. Nama lengkapnya Khairu Aufa Dharma. Dia sekarang duduk di kelas L2 Ibnu Rusyd. Ayahnya seorang dokter dan juga dosen Fakultas Kedokteran UII, sedangkan ibunya adalah seorang pengusaha pernak-pernak dan pehobi desain interior.

Ufo anaknya lucu. Ia punya teman akrab, namanya Hadyan. Ketika mereka berdua ketemu, mereka seperti punya dunia sendiri. Hadyan yang pendiam jadi banyak bicara jika bersama dengan Ufo. Ufo sangat suka dipanggil Ufo Super. Ufo baru saja pindah rumah. Rumah baru Ufo sangat unik. Tata letak interiornya tak terduga. Banyak lemari, banyak tangga, banyak pintu, dan semua perabot berbahan kayu di rumah barunya adalah buatan sendiri. Saya berkesempatan berkeliling melihat-lihat interior rumah baru Ufo saat menjenguk Ufo di rumah barunya.

Dialog Perang Lawan Korupsi


Oleh: ROMLI ATMASASMITA (Guru Besar Emeritus Universitas Padjadjaran)

Pertanyaan pertama dalam dialog perang melawan korupsi adalah apakah situasi Indonesia dalam pemberantasan korupsi berada dalam keadaan perang atau damai (penegakan hukum)?

Jawaban yang tepat bahwa saat ini kita tengah berada dalam situasi perang, bukan penegakan hukum. Dari mana diketahui hal ini? Jawabannya dari cara KPK melakukan tugas dan wewenangnya yang luar biasa karena hasil penyelidikan KPK entah melalui sadapan atau rekaman pembicaraan atau karena laporan pengaduan masyarakat dengan cepat KPK dapat menetapkan seseorang menjadi tersangka.

Bagaimana dengan hak orang yang telah ditetapkan sebagai tersangka, dengan cepat KPK selalu mempersilakan menggunakan hak tersangka berdasarkan KUHAP, tapi hanya untuk tersangka, bukan saksi, dan kalau tersangka bertanya apa kesalahannya sehingga ia ditetapkan sebagai tersangka, KPK akan menjawab, silakan saja hak tersangka untuk bicara apa saja nanti dibuktikan di pengadilan.

Dalam hukum perang ada ketentuan yang disebut “just war” yaitu setiap negara boleh menyatakan perang terhadap negara lain asal dilakukan dengan jujur dan terbuka. Kedua, tidak boleh memerangi mereka yang disebut non-combatant (yang tidak ikut perang atau penduduk sipil) kecuali mereka yang disebut kombatan atau pelaku korupsi.

Analog dengan ketentuan hukum perang, apakah KPK telah melakukan semua ketentuan“ hukumperang”? Jawabannya belum karena dengan kewenangannya yang luar biasa tersebut KPK melalui operasi tertangkap tangan (OTT) terhadap siapa saja yang berada pada locus dan tempus delicti tertentu dan sering mengklaim seseorang diduga telah melakukan tindak pidana korupsi, dan dengan UU TPPU juga ada orang lain (non-combatant) yang diduga terlibat (menikmati hasil) korupsi.

Pernyataan KPK sering tanpa ada keterbukaan penuh kepada publik mengenai bagaimana dan mengapanya, kecuali keterangan juru bicara KPK yang mengatakan bahwa hak tersangka untuk bicara apa saja, tetapi KPK telah menemukan bukti kuat yang nanti dibuktikan di pengadilan. ***

Semua perkara korupsi yang ditangani KPK merupakan keberhasilan yang patut diapresiasi tinggi. Semua itu karena menggunakan doktrin perang terhadap korupsi (war on corruption), bukan penegakan hukum terhadap korupsi (law e n fo r c e – m e n t against corruption).

Ini disebabkan memang desain UU KPK sejak awal adalah untuk memerangi korupsi, bukan untuk menegakkan hukum an sichterhadap korupsi. Pertanyaan berikutnya, lalu untuk apa semua hak pembelaan diri tersangka dan untuk apa ada pengadilan tipikor?

Jawabannya, hak membela diri adalah sesuai ketentuan KUHAP dan prinsip praduga tak bersalah. Tetapi, hak tersebut tidak ada artinya dalam perang terhadap korupsi karena yang utama adalah “musuh telah dilumpuhkan” dengan berbagai cara antara lain membuka aib tersangka kepada masyarakat luas jauh sebelum tersangka yang bersangkutan ditetapkan bersalah oleh pengadilan tipikor.

Pertanyaan berikut, untuk apa pengadilan tipikor jika halnya demikian. Pengadilan tipikor dibentuk sebagai wadah menuntaskan pemberantasan korupsi agar fokus dan diadili oleh hakim-hakim khusus memahami UU Korupsi. Dalam praktik beberapa hakim Majelis Pengadilan Tipikor justru bertindak sebagai “algojo” terhadap para terdakwa tipikor, bukan memeriksa dan mengadili berdasarkan ketentuan KUHAP dan keyakinan seyakin-yakinnya dalam perkara korupsi.

Ini terjadi karena, pertama, ada pra-anggapan pada mereka bahwa terdakwa korupsi yang dihadapkan KPK adalah 1000% benar dan 2000% tidak pernah tidak bersalah. Kedua, sejalan dengan hukum perang, jika kami tidak menembak duluan, kami akan menjadi korban duluan.

Siapa “musuh” majelis hakim pengadilan tipikor saat ini yaitu Komisi Yudisial dan sebagian terbesar masyarakat yang pro- KPK, didukung oleh pers bebas, dan siap untuk tunjuk hidung para hakim tipikor sebagai “pengkhianat” (negara) jika putusan bebas atau ringan. Jika hal itu yang terjadi, habislah karier mereka apalagi untuk promosi. ***

Dalam konteks dialog ini saya mengingat pernyataan GeorgeWBush, mantanpresiden AS ketika peristiwa pemboman Gedung WTC, “I know that some people question if America is really in a war at all. They view terrorism more as a crime, a problem to be solved mainly with law enforcement and indictments. …

But the matter was not settled. The terrorist were still training and plotting in other nations, and drawing up more ambitious plans. After the chaos and carnage of September the 11h, it is not enough to serve our enemies with legal papers. The terrorist and their supporters declared war on the United States, and war is what they got”.

Coba terjemahkan pernyataan di atas dengan mengganti kalimat teroris dengan koruptor, dan perhatikan kalimat, “it is not enough to serve our enemies (corruptors, sic) with legal papers”. Sejalan dengan bunyi pernyataan Bush terhadap terorisme, kondisi situasi korupsi saat ini sama dengan perang melawan terorisme di mana tujuan menghalalkan cara, yang sejatinya dilarang dalam proses penegakan hukum dan bertentangan secara diametral dengan prinsip “due process of law”.

Dalam praktik peradilan tipikor, hampir 90% nota pembelaan tidak diperhatikan apalagi dipertimbangkan sungguhsungguh oleh majelis hakim tipikor. Hakim pengadilan tipikor tidak pernah bertanya pada jaksa KPK bagaimana semua barang bukti dan alat bukti diperoleh dalam penyidikan dan juga 99,99% penasihat hukum tidak pernah bertanya mengenai hal tersebut, apalagi mengajukan eksepsi yang memadai dalam pembelaan mereka.

Akurasi fakta hasil penyadapan KPK, 1000% tidak terbantahkan apakah juga semuabuktilainjugamengandung persentase yang sama, belum sungguh-sungguh diuji secara materiil baik oleh hakim tipikor maupun oleh para penasihat hukum.

Jika kondisi peradilan sedemikian, tentu para ahli hukum yang masih memiliki nalar dan nurani yang jernih akan bertanya-tanya bahkan menyarankan tinjau ulang ketentuan hukum acara khusus untuk pemberantasan korupsi jika kedaulatan hukum akan ditegakkan atau biarkan keadaan perang terus berlanjut tanpa reserve. Qua vadis?

Sumber: http://www.koran-sindo.com/node/340637