Catatan dari 11 Kota


Catatan perjalanan 11 hari Dr. Syamsuddin Arif di seluruh Jawa menunjukkan, paham liberal menjadi masalah terbesar yang dihadapi umat Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian Husaini ke-233

Oleh: Adian Husaini

Mulai hari Sabtu, 19 April 2008 lalu, saya menemani Dr. Syamsuddin Arif untuk sebuah perjalanan panjang mengunjungi sejumlah kota di Pulau Jawa. Program utama kami ialah rangkaian acara bedah buku Dr. Syamsuddin Arif yang berjudul ”Orientalis dan Diabolisme Pemikiran”. Acara dimulai dari Gedung Gema Insani Press di Depok. Hadir juga sebagai pembicara di sini Adnin Armas MA, direktur eksekutif INSISTS.

Esoknya, Ahad, 20 April, acara bedah buku digelar di Masjid Salman ITB. Berturut-turut, selama 9 hari berikutnya, acara bedah buku dan diskusi seputar tantangan pemikiran Islam diadakan di Masjid Agung Cirebon, Al-Irsyad Tegal, Al-Irsyad Pekalongan, Universitas Diponegoro Semarang, Masjid Kampus UGM Yogya, Universitas Muhammadiyah Surakarta, Institut Studi Islam Darussalam Gontor Ponorogo, Masjid Kampus Universitas Brawijaya Malang, FISIP Universitas Airlangga, dan Masjid Kampus ITS Surabaya.

Banyak yang menarik dan tak terduga dalam perjalanan di 11 kota ini. Di Cirebon, misalnya, kami diberi kabar, bahwa kaum Muslim di sana sedang menghadapi serbuan secara masif ide-ide liberal dari sejumlah agen penyebar liberalisme. Dengan dukungan dana yang sangat besar dari negara dan LSM-LSM Barat, para pengecer ide liberal di kota ini terus-menerus menjejali umat Islam dengan gagasan-gagasan yang merusak aqidah dan syariah Islam. Berbagai media, seperti radio, buku, bulletin Jumat, dan sebagainya, digunakan sebagai sarana. Alhamdulillah, di kota ini ada sebagian kalangan umat Islam yang aktif menghadang penyebaran paham liberal.

Di kota Tegal, kami diminta menjelaskan tentang paham sekularisme, Pluralisme, dan Pluralisme Agama. Sekitar 300 orang memenuhi aula SMP al-Irsyad Tegal. Di Pekalongan, sekitar 400 kaum Muslim juga hadir dalam acara dengan tema yang sama. Sejalan dengan pesatnya perkembangan media informasi, isu liberalisasi Islam memang bukan lagi merupakan konsumen masyarakat Jakarta dan kota besar lainnya. Kaum Muslimin di pelosok-pelosok pun kini harus bersentuhan langsung dengan ide-ide liberal yang dijajakan melalui berbagai kemasan.

Kita sudah paham, bahwa liberalisasi agama adalah masalah terbesar yang dihadapi umat beragama di era modern ini. Bukan hanya umat Islam, tetapi juga umat-umat agama lain mendapatkan pekerjaan rumah yang sama. Apalagi, proyek penghancuran Islam ini telah menjadi program politik global yang mendapat prioritas dalam pengucuran anggaran sejumlah negara Barat. Tak heran, jika berbagai lembaga Islam menjadi target serangan paham ini. Banyak agen-agen liberalisasi Islam yang terus menjajakan dan menjejalkan idenya kepada umat Islam, dengan berbagai motif yang melatarinya.

Dalam sejumlah forum, beberapa kali muncul pertanyaan bernada pesimis: apakah kita mampu menghadapi penyebaran paham yang didukung oleh kekuatan global yang sedang berkuasa saat ini. Kami menjawab, ”Di sinilah menariknya pergulatan pemikiran ini. Kita yang miskin, kecil, harus berhadapan dengan kekuatan-kekuatan besar. Jika yang kita hadapi singa, maka kita dipaksa untuk berpikir dan bekerja keras. Beda halnya jika yang kita hadapi hanya tikus.”

Memang, perjuangan melawan liberalisme ini menjadi menarik, karena tidak sedikit diantara penyebar paham liberal adalah para profesor dan cendekiawan yang memiliki kemampuan intelektual lumayan. Banyak diantara mereka yang menguasai bahasa Arab dan Inggris dengan baik. Banyak yang pintar bicara dan menulis. Kita maklum, mengapa terget utama liberalisasi Islam adalah lembaga-lembaga pendidikan Tinggi Islam. Mereka tentu paham, bahwa lembaga Pendidikan Tinggi Islam akan menghasilkan orang-orang yang memiliki otoritas dalam bidang keagamaan. Otoritas itulah yang dirusak. Gelar resminya, misalnya, adalah doktor bidang Al-Quran, tetapi ia justru aktif merusak Al-Quran dan tafsirnya.

Lama-lama, umat Islam dibuat bingung, sebab yang memiliki otoritas mengajar Al-Quran justru berusaha merusak Al-Quran. Tentu aneh, jika yang belajar ilmu ushuluddin, justru menjadi pembela aliran sesat. Padahal, harusnya merekalah yang berada dalam garis terdepan dalam penegakan aqidah Islam dan pemberantasan paham syirik. Kita berpikir, normalnya, para pakar dan sarjana syariah-lah yang berada di garis terdepan dalam upaya penegakan aqidah dan syariah Islam. Kata Dr. Syamsuddin, jika ada sarjana agama Islam yang menyebarkan paham-paham yang merusak Islam, tentu hal itu sangat ”memalukan” dan ”memilukan”.

Namun, di tengah-tengah merebaknya paham liberalisme di berbagai Perguruan Tinggi Islam, kami merasa sangat bersyukur, bahwa ternyata masih ada sejumlah cendekiawan dan lembaga Islam yang kokoh bertahan dalam mengajarkan ilmu-ilmu Islam yang benar. Di sejumlah kota, kami bertemu dengan para para ustad dan cendekiawan yang juga gigih membela ajaran Islam dari serangan paham-paham yang destruktif. Kadangkala kami terharu, saat berjumpa dengan tokoh-tokoh yang hebat dalam membela Islam, meskipun mereka harus bertahan dengan kondisi seadanya.

Salah satu tokoh hebat yang kami jumpai adalah Ibu Aisyah al-Kalali. Di usianya yang ke-84 tahun, beliau masih gigih memimpin Pondok Tahfidz Al-Quran di Kota Pekalongan. Pondok ini dikhususkan untuk putri. Sejak berdirinya, tahun 1989, selama 19 tahun, Pondok pesantren ini sudah meluluskan hafidzah sebanyak 150 orang. Sementara sepanjang usianya itu, sudah lebih dari 700 mahasiswi yang Droup Out. Pendidikan di pesantren ini sangat ketat dan berdisiplin tinggi. Untuk mendapat ijazah kelulusan sebagai ’hafizhah’, para mahasiswi harus melalui serangkaian ujian yang sangat ketat. Terakhir, mereka harus mampu menghafal Al-Quran, 30 Juz, dalam waktu satu hari, disaksikan oleh penguji dan masyarakat.

Ironisnya, di tengah serbuan gelombang materialisme di dunia pendidikan, Lembaga Pendidikan Tahfidz seperti ini justru tidak mudah mendapatkan murid. Padahal, biaya pendidikan total dalam satu bulan dibawah Rp 400.000 (empat ratus ribu rupiah). Lebih dari itu, pimpinan lembaga pendidikan ini harus berkeliling mencari murid, dan menawarkan beasiswa bagi banyak murid-muridnya. Kita sangat salut dengan perjuangan para pengasuh Pondok Tahfidz Al-Quran di Pekalongan ini, dan berharap dari sini akan lahir para hafizhah yang menjadi palang pintu dalam menjaga kemurnian Al-Quran.

Acara bedah buku yang cukup menarik terjadi di Universitas Diponegoro (Undip) Semarang. Acara dibuka oleh Dekan Fakultas Ekonomi Undip, Dr. H. Muhammad Chabachib dan dihadiri sejumlah dosen. Ruang seminar FE-Undip dipenuhi peserta. Banyak yang terpaksa berdiri. Fenomena ini menunjukkan, problem pemikiran Islam di Indonesia telah menjadi perhatian banyak kalangan akademisi, bukan hanya yang berlatarbelakang studi Islam, tetapi juga yang berlatarbelakang studi umum. Disamping menjelaskan metodologi dan dampak studi Islam ala orientalis, Dr. Syamsuddin juga secara khusus memaparkan dampak penggunaan metode hermeneutika dalam penafsiran Al-Quran.

Di Yogyakarta, acara bedah buku digelar di Masjid Kampus UGM. Di luar acara utama, ada sejumlah diskusi dengan para mahasiswa dan aktivis Islam di Yogya yang kami hadiri. Meskipun tema pokok diskusi adalah seputar tantangan orientalisme dan pemikiran liberal, tetapi ada tujuan yang lebih penting yang perlu diwujudkan, yaitu upaya membangun tradisi pemikiran Islam yang sehat. Pemikiran Islam bukanlah monopoli kampus-kampus agama atau sarjana agama. Sebab, memahami pemikiran Islam yang benar adalah hal yang fardhu ’ain, yang wajib dimiliki oleh setiap Muslim.

Bisa dikatakan, di era globalisasi, tantangan utama dalam pemikiran Islam adalah dekonstruksi pemikiran Islam melalui penyebaran paham liberalisme agama. Lagipula, para akademisi Muslim UGM kini menghadapi tantangan serius dalam bidang studi dan pemikiran Islam dengan hadirnya program studi Lintas Agama oleh Indonesian Consortium for Religious Studies (ICRS) dan Center for Religious and Cross-cultural Studies (CRCS). Karena itu, kita berharap, para cendekiawan Muslim UGM mampu menjawab tantangan intelektual ini secara ilmiah. Jika ditelaah dari mata kuliah yang ditawarkan dan dosen-dosen yang mengajar di program ini, maka bisa dikatakan studi agama di UGM ini telah menggunakan ‘perspektif netral’ dalam studi agama; bukan dari perspektif Islam.

Di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), kami berkesempatan mengisi diskusi dengan tema “Islam ‘Mazhab’ Orientalis”. Selain para dosen dan mahasiswa pasca sarjana Studi Islam UMS, hadir juga sejumlah akademisi Muslim dan tokoh Muslim di kota Solo. Acara dibuka oleh Ketua Magister Studi Islam UMS, Dr. Muinuddin. Di sini, Syamsuddin Arif menekankan sifat-sifat studi Islam gaya orientalis yang biasanya “berawal dari keraguan dan berakhir dengan keraguan”. Orang belajar Islam bukan untuk menambah keyakinan terhadap Islam, tetapi untuk menanamkan sikap kritis dan skeptis terhadap Islam.

Di Pesantren Gontor, kami sempat mengisi diskusi dan bedah buku di kampus Institut Studi Islam Darussalam (ISID) Gontor. ISID merupakan salah satu Perguruan Tinggi Islam yang baik yang berada di bawah naungan Pondok Gontor Ponorogo. Kajian-kajian tentang Islam dan Barat di kampus ini semakin berkembang setelah dibentuknya Center for Islamic and Occidental Studies (CIOS) yang dipimpin Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi. Karena itu, kajian tentang orientalisme bukan hal yang asing di kampus ini. Tentunya kehadiran Dr. Syamsuddin Arif, yang juga alumnus Pesantren Gontor, diharapkan semakin menambah tajamnya kajian-kajian tentang Islam dan Barat di pesantren Gontor ini.

Dari kota Ponorogo, perjalanan kami lanjutkan ke Kota Malang. Ada sejumlah acara yang sudah terjadwal di kota ini: dialog dengan guru-guru pesantren Hidayatullah, diskusi terbatas dengan satu komunitas dosen-dosen di Malang, jumpa penulis di Gedung Gema Insani Press Malang, dan acara puncaknya adalah bedah buku di Masjid Raden Patah Universitas Brawijaya Malang. Acara dibuka oleh Pembantu Rektor III Universitas Brawijaya dan dimoderatori Dr. Suryadi, dosen di kampus yang sama.

Rangkaian acara bedah buku Dr. Syamsuddin Arif berakhir di kota Surabaya pada 26 April 2008. Di kota Pahlawan ini, acara digelar di dua kampus utama, yaitu di Universitas Airlangga (Unair) dan Institut 10 November Surabaya (ITS). Esoknya, pada 27 April, setelah mengisi kuliah di program Magister Studi Islam UMS, Dr. Syamsuddin Arif kembali ke Kuala Lumpur, melanjutkan tugas rutinnya sebagai dosen di Universitas Islam Internasional Malaysia.

Perjalanan panjang selama 10 hari mengunjungi berbagai kota di Jawa kali ini membawa kesan yang cukup mendalam bagi kami. Satu pemikiran yang banyak disebarkan kaum liberal adalah paham “relativisme kebenaran”. Di berbagai kota, kami berusaha “mengobati” korban-korban penyakit “relativisme” ini. Tidak mudah memang, karena yang terkena penyakit ini adalah para sarjana. Padahal, dampak penyakit ini sungguh nyata. Korbannya tidak lagi meyakini adanya satu kebenaran yang mutlak. Jika orang tidak tahu kebenaran, bagaimana dia akan memperjuangkan kebenaran?

Ada fenomena menarik yang bisa kita lihat di masyarakat kampus saat ini. Sebagian kalangan sudah meyakini dan aktif memperjuangkan kebenaran yang diyakininya. Sementara sebagian lainnya, masih terus mendiskusikan dan mempertanyakan, di mana letaknya kebenaran, dan apakah manusia bisa memahami kebenaran. Terhadap orang-orang yang masih bingung dalam soal kebenaran ini, kita persilakan saja mereka terus mencari dan tidak banyak bicara dulu. Sebab, kata mereka, mereka belum tahu yang benar. Kita, yang sudah tahu dan sudah menemukan kebenaran, tentu merasa berkewajiban memperjuangkannya.

Di samping banyaknya masalah yang dihadapi, di berbagai kota, kami menjumpai potensi-potensi umat yang sangat besar, yang memiliki ghirah yang tinggi untuk memperjuangkan Islam. Besarnya tantangan orientalisme dan liberalisme pada satu sisi telah menyadarkan kita, bahwa Islam dan umatnya kini menjadi sasaran utama dalam proyek westernisasi. Islam adalah potensi besar yang menggiurkan dan mungkin menakutkan bagi banyak kalangan. Karena itu, wajar, jika berbagai upaya untuk ‘melemahkan’ potensi Islam akan selalu dilakukan.

Sepanjang zaman, Islam selalu dihadapkan dengan berbagai tantangan. Kini saatnya umat Islam menyadari potensinya sendiri dan kemudian membangun dirinya sendiri, dengan keyakinan, dengan jalan, dan dengan metodenya sendiri. Insyaallah, jika disertai dengan kerja keras dan istiqamah, di tengah berbagai kesulitan, jalan kebangkitan Islam justru terbentang di hadapan kita. (Depok, 25 Rabiul’akhir 1429 H/2 Mei 2008/www.hidayatullah.com]

Catatan Akhir Pekan [CAP] adalah hasil kerjasama antara Radio Dakta 107 FM dan www.hidayatullah.com

Diambil secara utuh dari www.hidayatullah.com edisi Selasa, 06 Mei 2008.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s