Apakah Ustad Anti Wahabi?


Dari jawaban ustad mengenai kegiatan mengelilingi kuburan imam syafii seperti ka’bah ‘tidak bisa diterima’ apakah hanya itu? Bukankah kesyirikan musuh terbesar Allah sejak diutusnya nabi dan rasul, dan Dia hanya ingin disembah seorang diri tanpa tandingan ruh para wali?

Bukankah itu sudah merupakan kesyirikan yang nyata?

Lalu, ustad justru mengritik ulama (wahabi) yang memerangi hal itu.. bukankah tindakan nyata mereka sudah dapat menekan angka ke’syirik’an lebih signifikan dibanding cara ‘menghilangkan kebodohan’ versi ustad yang lebih membutuhkan waktu yang lama??

Dari beberapa jawaban ustad, saya menangkap ustad sangat tidak setuju dg dakwah wahabi, kenapa? Apakah itu yang diajarkan di al-azhar? Lalu ustad menginginkan persatuan umat Islam, tapi justru melegalkan segala jenis perbedaan tumbuh subur di tengah umat Islam, melalui fanatik mazhab dan berpartai? Bukankah justru jauh panggang dari api…?

Mohon penjelasannya…

Ron

Jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Kalau Anda seorang yang membela dakwah Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab, maka sebaiknya kita salaman dulu. Ternyata kita sama, sama-sama berdakwah dan mendukung dakwah yang beliau lakukan. Dan dakwah kita ini sama dengan para tokoh dakwah dalam sejarah, yaitu mengajak orang untuk menjalankan syariat Islam dengan sebaik-baiknya ajakan.

Tapi saran kami, barangkali lebih baik kita tidak mengunakan istilah wahabi dan anti wahabi. Sebab titik pangkal permasalahannya bukan di sana, lagian kita ini tidak akan masuk surga hanya dengan menjadi seorang pendukung wahabi, dan orang tidak akan masuk neraka karena anti wahabi.

Karena Muhammad bin Abdul Wahhab sendiri sebagai orang yang nama ayahnya dipakai untuk istilah wahabi, justru tidak pernah mendakwahkan wahhabiyah. Yang beliau dakwahkan hanya agama Islam. Sama sekali beliau tidak pernah mengajak orang menjadi wahabi.

Dakwah Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab adalah memurnikan sisi aqidah umat. Tentu saja kita tahu bahwa keahlian beliau memang lebih pada sisi masalah tauhid ini. Dan kita mengenal beliau bukan seorang ahli fiqih, ahli ushul, atau ahli hadits.

Beliau tidak punya tulisan tentang hadits, fiqih, atau tafsir, kecuali kitab kecil beberapa lembar dengan judul kitabuttauhid. Dan dalam cabang ilmu tauhid, beliau memang tokoh dan punya karya besar. Namun bukan berarti persoalan dakwah hanya bertumpu kepada dirinya dan seputar masalah tauhid saja.

Permasalahan Dakwah Bukan Hanya Urusan Syirik Saja

Kalau sekarang yang kita ributkan hanya berkutat di masalah syirik saja, maka sebenarnya ada baiknya kita diskusikan lagi.

Benar bahwa masalah utama para nabi dan rasul seputar masalah syirik, tapi juga harus diingat bahwa masalah mereka bukan hanya urusan syirik saja.

Mungkin masalah terbesar dari seorang Muhammad bin Abdul Wahhab di zamannya memang lebih dominan hal yang berbau syirik kuburan, karena yang beliau lihat memang hal-hal hanya demikian itu.

Terutama di Hijaz, tempat di mana beliau hidup dan tinggal. Dari sejarah riwayat hidup beliau, kelihatannya memang beliau tidak pernah berjalan di muka bumi untuk melihat bagaimana keadaan umat Islam di berbagai peradaban lain. Kita tidak punya catatan apakah beliau tidak pernah singgah ke Afrika, Eropa, atau bahkan ke Amerika. Tapi satu hal yang pasti, beliau belum pernah ke Indonesia.

Sehingga secara logika wajar sekali, kenapa seorang ulama selevel Muhammad bin Abdul Wahhab dikatakan hanya mengurusi syirik kuburan saja. Alasan paling logisnya karena memang beliau hidup di wilayah yang tertentu, di mana masalah dominan memang masalah syirik. Dan pertimbangan lain, boleh jadi zaman di mana beliau hidup, yang urusan yang paling ramainya seputar masalah itu.

Walau periode dialog urusan ilmu kalam sudah jauh terlewat. Beliau tidak hidup di zaman perdebatan sengit antara Qadiriyah, Jabariyah, Mu’tazilah. Kecuali beliau mungkin bertemu dengan sisa-sisa dialog itu dalam porsi yang berbeda.

Dan Muhammad bin Abdul Wahhab dalam masalah ini sama sekali tidak salah. Beliau memang hidup di zaman dan wilayah yang ketokohan dan keilmuwan seperti itu memang dibutuhkan.

Yang jadi jadi pertanyaan justru kita ini, yang tidak hidup sezaman Muhammad bin Abdul Wahhab. Pertanyaannya, apakah isu-isu yang diangkat oleh beliau itu masih relevan dengan realitas yang terjadi di masa kita? Atau jangan-jangan, kita malah terperangkap kerangka dan suasana di zaman beliau?

Maka kita perlu lebih banyak membaca dan melihat situasi, agar tidak kurang tajam dalam menangkap permasalahan yang lebih up to date. Selain itu agar kita tidak terlalu jauh menggunakan logika yang terbalik-balik.

Dan agaknya kalau kita perhatikan permasalahan dan tema dakwah pada hari ini, rasanya masa-masa dialog antara mazhab aqidah seperti yang kami sebutkan di atas telah lewat. Hari ini kita sudah tidak kenal lagi ada orang yang mendakwahkan ajaran Qadariyah, Jabariyah, atau Mu’tazilah secara ekstrim dan dengan kekuatan besar. Paling-paling hanya sekedar satu dua mahasiswa usil yang mengangkat tema seperti itu di ruang kuliah.

Masa-masa perdebatan ilmu kalam sebenarnya sudah berlalu. Persoalan umat Islam sebenarnya sudah berganti. Dunia Islam di abad ke-20 mengalami masalah yang sangat berbeda. Misalnya, masalah kolonialisme yang sampai kini dampaknya masih terasa. Atau mengalami kemunduran dari segi ilmu pengetahuan dan teknologi. Juga mengalami kebangkrutan dari sisi ekonomi sehingga ada berjuta umat Islam hidup di bawah standar kemiskinan.

Dan seribu satu persoalan pelik lain, seperti penerapan syariah Islam di dalam negara-negara yang mayoritas berpenduduk muslim.

Dakwah Para Nabi Bukan Hanya Urusan Syirik Saja

Kalau kita membaca sejarah para nabi dan rasul, baik lewat Al-Quran maupun Al-Hadits, sebenarnya agak kurang tepat kalau kita bilang bahwa kendala para nabi dan rasul hanyalah kendala syirik kuburan saja.

Malah tidak ada satu pun ayat Quran yang bicara tentang syirik kuburan. Tema tentang tauhid dan syirik memang banyak dibahas di dalam Al-Quran, tapi kita malah tidak pernah membaca ayat yang menghantam urusan menyembah kuburan.

Ketika kami dahulu kuliah di Universtias Islam Muhammad Ibnu Su’ud, milik Kerajaan Saudi Arabia, bukan di Al-Ahzar Mesir, ilmu-ilmu ke-Islaman yang diajarkan pun juga bukan hanya berkutat tentang kuburan dan syirik saja. Dan sepanjang yang kami tahu, tidak pernah ada yang namanya Fakultas Ilmu Syirik dan Kuburan.

Mungkin karena dakwah agama ini juga tidak hanya urusan itu saja. Bukankah kita mengenal ada ayat tentang warisan, bahkan sampai Rasulullah SAW memerintahkan secara khusus kita belajar warisan. Apakah ada kaitannya warisan dengan syirik kuburan?

Di dalam Al-Quran ada sekian ayat yang menyebutkan hewan yang haram untuk dimakan, juga najis dan berbagai hal terkait dengan hukum hudud, seperti merajam pezina, memotong tangan pencuri, membunuh pembunuh dan seterusnya. Jadi misi para nabi memang bukan hanya urusan syirik, tapi yang lebih luas dan panjang dari itu, adalah bagaimana menjalankan syariah yang Allah perintahkan.

Perbedaan Pendapat

Kalau kita pernah kuliah di fakultas Syariah jurusan Perbandingan Mazhab, maka kita akan tahu bahwa yang namanya perbedaan pendapat itu mustahil dipungkiri, apalagi dibasmi.

Dahulu Imam Malik pernah diminta kesediaannya agar kitabnya, Al-Muwattha’ dijadikan kitab fiqih standar negara. Beliau dengan amat santun dan tawadhdhu’nya menolak dengan halus. Sebab beliau amat menghargai perbedaan pendapat di kalangan para ulama.

Kalau kitabnya itu dijadikan standar negara, maka akan terjadi pemaksaan pendapat, padalah tidaklah muncul perbedaan pendapat itu kecuali karena memang nash-nash Quran dan Sunnah memberi peluang untuk itu.

Maka seorang ahli syariah tentunya sudah punya wawasan yang cukup tentang beda pendapat dalam urusan fiqih. Mulai dari cara wudhu’ sampai cara mati, semua penuh dengan perbedaan pandangan.

Jadi bagusnya sih, kita tidak berwawasan sempit dan picik dalam melihat fenomena ini. Perbedaan fiqih yang ada dalilnya saja masih menyisakan beda pendapat, apalagi masalah teknis berdakwah yang kebanyakan selalu improvisasi dan kental dengan perbedaan latar belakang, tentu akan semakin tajam lagi perbedaannya.

Kami cenderung untuk tidak mudah menyalahkan niat baik seseorang dalam berdakwah. Maka kalau ada orang mau dakwah lewat seni, kami cenderung untuk tidak lantas mudah memaki-makinya. Kalau ada yang kurang tepat, kita luruskan saja baik-baik. Dan meluruskan dengan baik-baik itu kan juga perintah Rasulullah SAW juga, bukan?

Dan kalau ada orang mau dakwah lewat partai, kami cenderung juga tidak mudah untuk mencercanya. Dan memangnya kenapa harus dicerca? Kalau ada yang kurang sejalan, setidaknya sampaikan dengan cara yang elegan. Dan bukan lewat tikaman dari belakang yang bernuansa ngambek karena tidak dapat ‘bagian’.

Rasanya terlalu sepi dakwah ini kalau dakwah itu hanya khusus milik majelis taklim saja. Apakah orang-orang tidak boleh mengajak kepada kebaikan dengan kapasitas masing-masing?

Kalau ada masyarakat muslim yang sesat karena melakukan syirik, kami cenderung menganggap mereka sebagai korban. Jadi kami lebih senang mendekati baik-baik dan bicara dari hati ke hari, bukan dengan cara mencaci maki atau memerangi dengan kata yang kasar dan tajam.

Buat apa kita terlihat gagah di podium, tapi orang malah semakin menjauh, dakwah malah tidak akan berhasil dengan cara seperti itu.

Maka saudaraku, mari kita ajak orang untuk belajar agama ini secara mendalam dan dengan cara baik-baik. Sekedar mencaci maki, belum pernah terbukti melenyapkan syirik dari muka bumi. Percayalah.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

Sumber: eramuslim.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s