Monthly Archives: August 2010

I’tikaf


i'tikafI’tikaf, secara bahasa, berarti tinggal di suatu tempat untuk melakukan sesuatu yang baik. Jadi, i’tikaf adalah tinggal atau menetap di dalam masjid dengan niat beribadah untuk mendekatkan diri kepada Allah swt. Beri’tikaf bisa dilakukan kapan saja. Namun, Rasulullah saw. sangat menganjurkan di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Inilah waktu yang baik bagi kita untuk bermuhasabah dan taqarub secara penuh kepada Allah swt. guna mengingat kembali tujuan diciptakannya kita sebagai manusia. “Sesungguhnya tidak Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaKu,” begitu firman Allah di QS. Az-Zariyat (51): 56.

Para ulama sepakat bahwa i’tikaf, khususnya 10 hari terakhir di bulan Ramadhan, adalah ibadah yang disunnahkan oleh Rasulullah saw. Beliau sendiri melakukanya 10 hari penuh di bulan Ramadhan. Aisyah, Umar bin Khattab, dan Anas bin Malik menegaskan hal itu, “Adalah Rasulullah saw. beri’tikaf pada 10 hari terakhir di bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari dan Muslim). Bahkan, pada tahun wafatnya Rasulullah saw. beri’tikaf selama 20 hari. Para sahabat, bahkan istri-istri Rasulullah saw., selalu melaksanakan ibadah ini. Sehingga Imam Ahmad berkata, “Sepengetahuan saya tak seorang ulama pun mengatakan i’tikaf bukan sunnah.”

“I’tikaf disyariatkan dengan tujuan agar hati beri’tikaf dan bersimpuh di hadapan Allah, berkhalwat dengan-Nya, serta memutuskan hubungan sementara dengan sesama makhluk dan berkonsentrasi sepenuhnya kepada Allah,” begitu kata Ibnu Qayyim. Continue reading

Advertisements

Mayoritas versus Minoritas


mayoritas versus minoritasYang banyak belum tentu benar dan yang sedikit belum tentu salah. Benar atau salah itu tidak diukur dari banyak sedikitnya orang yang mendukungnya, tetapi didasarkan pada hukum Allah, Al Qur’an dan As Sunnah. Bisa jadi pendapat yang didukung oleh ribuan orang itu salah dan bertentangan dengan hukum Allah, namun bisa jadi pendapat yang hanya didukung oleh segelintir atau bahkan satu orang saja itu justru benar. Oleh karena itu sobat, parameter benar dan salah yang saat ini kita gunakan semestinya selalu kita evaluasi, kita renungkan kembali, apakah sudah sesuai hukum Allah atau belum. Jangan sampai syahwat (hawa nafsu) justru kita jadikan sebagai pedoman, na’udzubillah..

Suatu ketika pada sebuah upacara bendera di SMA dulu, saya pernah mendengarkan sambutan tertulis kepala daerah di DIY yang dibacakan oleh pembina upacara. Dalam sambutan tersebut ada sebuah kalimat yang berbunyi, “… suara rakyat adalah suara Tuhan.” Hati saya tidak sreg dengan pernyataan itu. Menurut saya, suara rakyat (mayoritas) belum tentu benar. Ya, kalau suara rakyat sesuai hukum Allah, kalau suara rakyat bertentangan dengan hukum Allah, apa masih bisa diklaim suara rakyat adalah suara Tuhan? Ingatkah sobat sekalian dengan kisah kaum Nabi Luth yang melegalkan dan menganggap lumrah perilaku homoseksual dan lesbian? Jika suara rakyat Nabi Luth mengatakan bahwa homoseksual dan lesbian itu sah-sah saja, apakah itu menandakan bahwa Tuhan juga mengatakan bahwa homoseksual dan lesbian itu sah? Continue reading

Anak SMP Luar Biasa!


Sudah bukan rahasia lagi kalau SMP itu merupakan singkatan dari Sekolah Menengah Pertama. Orang yang sedang duduk di bangku SMP bisa kita sebut sebagai anak SMP. Alkisah, anak SMP yang satu ini lain dari anak SMP pada umumnya. Walaupun masih anak SMP, tetapi pemikirannya cukup futuristik dibandingkan teman-teman seusianya. Hal itu menandakan jiwa kepeduliaannya pada isu-isu kemanusiaan begitu tinggi dan bisa dikatakan sebagai anak SMP yang religius. Ketika dulu saya masih menjadi anak SMP, isu-isu semacam itu belum pernah singgah di kepala saya. Masih polos dan lugu. Kebiasaan saya waktu jadi anak SMP dulu, berangkat diantar, pulang dijemput, dan tidak mampir ke mana-mana. Kelas 1 dan 2 saya rutin berangkat les bahasa Inggris dan waktu kelas 3 saya ikut bimbel pelajaran untuk menghadapi UAN. Namun ternyata tidak untuk anak SMP yang satu itu. Benar-benar anak SMP yang brilian. Pasalnya, dia sudah memikirkan hal-hal dan isu di luar negaranya, nun jauh di sana. Orang-orang bilang ‘think globally, act locally‘. Menurut cerita yang saya dengar dari kawan-kawannya, sewaktu jadi anak SMP dulu, ia suka membuat mading. Namun bukan sembarang mading kawan, melainkan mading yang mengangkat isu-isu palestina dan intifadah. Bayangkan, seorang anak SMP membuat mading yang mengangkat isu intifadah di Palestina sana yang jaraknya saja beribu-ribu kilometer dari Indonesia! Subhanallah… Maha Suci Allah yang mengaruniakan pikiran yang cemerlang kepada seorang anak SMP sepertinya. Continue reading

Multiblogisme: Kerukunan Antar Blog


multiblogisme

multiblogisme: kerukunan antar blog

Kerukunan umat antar agama sudah sering kita bahas sewaktu sekolah sejak di SD dulu hingga bangku SMA bahkan perguruan tinggi, namun sepertinya penting juga kita bahas topik yang satu ini, multiblogisme: kerukunan antar blog. Asing ditelinga mungkin, maklum saja  istilah ini baru saja terlintas di benak saya saat pulang menuju rumah. Di atas laju motor supra x-125 R yang saya kendarai malam ini (27/08/10) tepatnya.

Saya tergelitik dengan istilah multikulturalisme yang sering dianut secara kebablasan akhir-akhir ini, yang ujung-ujungnya menjadi semacam ‘agama baru’ yang wujudnya lebih mirip dengan sinkretisme atau pencampuradukan berbagai agama. Namun, tenang saja, saat ini saya tidak akan membahas hal itu. Saya akan membahas topik yang bagi saya cukup bisa diambil hikmahnya, yaitu multiblogisme. Continue reading

Menikmati Hidangan Al Qur’an


AL INSAAN (MANUSIA)

SURAT KE 76 : 31 ayat

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang

KEHIDUPAN MANUSIA MENUJU KESEMPURNAAN
Proses kejadian manusia

1. Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut?

2. Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur[1535] yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat.

[1535]. Maksudnya: bercampur antara benih lelaki dengan perempuan.

3. Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir.

4. Sesungguhnya Kami menyediakan bagi orang-orang kafir rantai, belenggu dan neraka yang menyala-nyala. Continue reading

Seikat Tulisan Nan Memikat


Sebagai seorang penulis, tentu setiap diri kita menginginkan agar apa yang kita tulis mampu memikat para pembaca. Mereka tertarik dan antusias untuk membaca tulisan kita dari awal hingga akhir kemudian bisa menangkap maksud tulisan kita. Tentu untuk mewujudkan itu semua perlu kita ramu tulisan kita agar mak nyus

Judul Tulisan
untuk memikat mata pembaca agar mampir untuk membaca tulisan kita dari sekian banyak tulisan yang ada dapat kita upayakan dengan membuat judul yang menarik. Judul hanya terdiri dari beberapa kata bahkan ada yang satu kata namun memiliki arti penting. Mengapa? Karena ia dicetak paling besar daripada lead atau isinya. Bak iklan di tepi jalan, judul menjadi salah satu faktor apakah tulisan kita dibaca oleh pembaca atau tidak. Oleh karena itu upayakan kita buat judul yang eye catching –mencolok. Setelah mata pembaca tertuju pada judul tulisan kita, maka ia pun akan membaca kalimat pembuka dan kalimat-kalimat seterusnya. Judul yang menarik untuk sebuah cerpen misalnya “Menanti Menantu”, atau “Diskon Pahala” Continue reading

Mencoba Melawan Malas Menulis (4M)


menulis

menulis

Menulis, the silent activity… Menerjemahkan lintasan pikiran menjadi teks yang terdiri dari susunan huruf, angka, spasi, dan tanda baca. Sungguh, sebuah perbuatan mulia jika diniatkan untuk saling mengingatkan dalam kebaikan dan mencegah kemungkaran. Sungguh, sebuah perbuatan dzalim ketika diniatkan untuk menyakiti orang lain, mengajak kepada kemungkaran, memfitnah, mengolok-olok, memutarbalikkan fakta, menyesatkan opini, dan tujuan mungkar lainnya. Sungguh, menulis bisa membawa penulisnya kepada aliran pahala, namun juga bisa membawa penulisnya kepada aliran dosa. Pilihan itu ada di tangan penulisnya…

Demi matahari dan cahayanya di pagi hari, dan bulan apabila mengiringinya, dan siang apabila menampakkannya, dan malam apabila menutupinya, dan langit serta pembinaannya, dan bumi serta penghamparannya, dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” QS. Asy Syams (91) : 1-10

Lalu, jalan manakah yang akan kita tempuh?

Dari mana datangnya ide? Continue reading

Seni Bertetangga


Di era cyber ini, tak terasa kehidupan berjalan begitu cepat. Selain semakin mendekati kiamat, komunikasi juga semakin mudah. Cukup dengan menekan keypad ponsel atau berkirim e-mail, dalam hitungan detik kabar sudah sampai, sungguh praktis bukan? Dunia ini serasa seluas daun kelor.

Namun kecanggihan teknologi tak selalu membawa dampak positif jika kita tak bijak memanfaatkannya. Misalnya saja, karena saking asyiknya telepon dan SMS-an, kita jadi lupa bersilaturahmi dengan tetangga di kanan kiri rumah kita, padahal Islam mengatur bagaimana adab bertetangga. Saling bertegur sapa, saling bersilaturahim, saling memberi hadiah, saling menanyakan kabar, dan seterusnya.

Dengan alasan sibuk kita terkadang melupakan hak-hak tetangga kita. Dulu, Continue reading

Bisa Jadi, Ini Ramadhan Terakhir Kita


“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS. Adz Dzaariyaat: 56)


Masih ingatkah dengan Prof. Sugeng Mardiyono, Ph.D.? Rektor UNY periode 2006-2008 sebelum Prof. Rochmat Wahab, M.A. menjabat? Masih ingat pulakah dengan konsep yang beliau usung, ibadah untuk menggerakkan sistem di UNY? Ya, tepatnya Ramadhan 1429 H baru dimulai. Perdana tarawih Masjid Al Mujahidin UNY pun diisi ceramah oleh Pak Sugeng. Siapa sangka ceramah tarawih perdana itu juga sekaligus ceramah wada’ (terakhir) beliau. Malam itu beliau berpesan, “Saya berharap masjid bukan hanya sebagai tempat beribadah, tapi juga sebagai pembentuk akhlaq para mahasiswa.”

Satu Ramadhan 1429 Hijriah bertepatan dengan 1 September 2008 Masehi, pagi-pagi setelah menjalani santap sahur dan shalat subuh berjamaah ternyata Allah telah menentukan kehendak-Nya, malaikat Izroil pun menjalankan tugasnya. Pak Sugeng meninggalkan kehidupan dunia untuk selamanya.Semoga kepulangan beliau khusnul khatimah. Amin…

Saudaraku, pelajaran apa yang bisa kita petik dari kisah ini? Betul sekali saudaraku, jika Allah telah berkehendak, tak seorang pun yang mampu mencegahnya. Sudah siapkah engkau seandainya Ramadhan ini adalah Ramadhan terakhir bagimu?

Kadang, sebagian orang beranggapan bahwa Ramadhan adalah sekedar bulan sebagaimana bulan lain yang biasa datang dan pergi, yang bahkan kedatangannya diratapi dan kepergiannya disyukuri. Aneh! Tapi yang demikian adalah sebuah kenyataan. Naasnya lagi, ada yang hanya mendapatkan lapar dan dahaga di bulan istimewa ini. Na’udzubillah.. Continue reading