Multiblogisme: Kerukunan Antar Blog


multiblogisme

multiblogisme: kerukunan antar blog

Kerukunan umat antar agama sudah sering kita bahas sewaktu sekolah sejak di SD dulu hingga bangku SMA bahkan perguruan tinggi, namun sepertinya penting juga kita bahas topik yang satu ini, multiblogisme: kerukunan antar blog. Asing ditelinga mungkin, maklum saja  istilah ini baru saja terlintas di benak saya saat pulang menuju rumah. Di atas laju motor supra x-125 R yang saya kendarai malam ini (27/08/10) tepatnya.

Saya tergelitik dengan istilah multikulturalisme yang sering dianut secara kebablasan akhir-akhir ini, yang ujung-ujungnya menjadi semacam ‘agama baru’ yang wujudnya lebih mirip dengan sinkretisme atau pencampuradukan berbagai agama. Namun, tenang saja, saat ini saya tidak akan membahas hal itu. Saya akan membahas topik yang bagi saya cukup bisa diambil hikmahnya, yaitu multiblogisme.

Para pembaca yang terbiasa berselancar di dunia maya tentu tak asing lagi dengan sebuah istilah unik nan menarik yang bernama ‘blog’. Kalau boleh saya artikan secara bebas, blog itu sebuah situs pribadi yang oleh pemiliknya digunakan untuk menayangkan tulisan, kutipan, foto, lagu, video, dan sebagainya. Sejauh ini banyak sekali jenis-jenis blog yang tersedia, dari yang sudah terkenal skala internasional hingga buatan lokal yang belum pernah terdengar . Yang terkenal dan skalanya internasional misalnya multiply.com, wordpress.com, blogspot.com, dan lain-lain. Kalau yang skalanya lokal terus terang saya tak begitu mengenalnya dengan baik. Situs jejaring sosial seperti friendster.com, facebook.com, twitter.com, plurk.com, myspace.com, linkedin.com, flixter.com, millatfacebook.com, ikhwanbook.com, temankuliah.com, dan kawan-kawannya, pun saya kategorikan sebagai blog. Karena pada intinya situs jejaring sosial juga menyediakan fitus notes atau blog atau catatan bagi penggunanya. Pengguna bisa menuliskan panjang lebar di sana. Nah, uniknya blog-blog yang ada justru saling bekerjasama. Sebagai contoh, saya mempunyai sebuah blog yang beralamat di https://zenma.wordpress.com, di dasbor blog ini ternyata saya ditawari untuk menintegrasikan wordpress dengan yahoo, twitter, dan facebook. Pun dengan multiply yang saya tahu juga demikian, ketika saya masuk administrator blog saya di multiply, saya pun ditawari untuk mengintegrasikan multiply saya dengan facebook, twitter, dan yahoo. Nah ini menarik bagi saya. Ternyata para penyedia jasa blog bisa mengelola egonya dengan membuka hati berkolaborasi untuk saling terkoneksi satu dengan yang lainnya. Sungguh sebuah kerukunan antar blog yang indah. Hal ini perlu dicontoh oleh masyarakat kita yang saat ini terlalu sibuk dengan egonya masing-masing sehingga ada kecenderungan saling memaksakan kehendak dan tak jarang berujung pada perbuatan-perbuatan anarkis. Kalau antar penyedia blog saja bisa rukun kenapa kita tidak?

Namun demikian, sebagai seorang muslim, kesalutan saya pada kerukunan antar blog tak mau disamakan seperti pluralisme atau multikulturalisme yang kebablasan. Dalam kehidupan bermasyarakat atau hubungan sesama manusia (muamalah) yang tak ada kaitannya dengan ritual keagamaan kita wajib bertoleransi dan saling menghormati, tapi dalam wilayah keyakinan tak ada kompromi sama sekali. Dalam Islam sudah sangat tegas dan jelas mengenai hal ini, mari kita simak bersama firman Allah dalam Al Qur’an surat Al Kaafiruun, yakni surat ke-109, ayat 1 sampai 6 yang artinya, “Katakanlah: “Hai orang-orang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku.”

So, mari kita ambil hikmah dari multiblogisme, sebagai sesama manusia yang hidup di muka bumi kita harus saling menghormati, saling menolong, bertoleransi, dan terintegrasi satu dengan yang lain. Wallahua’lam bishawab.

Written by Zen Muhammad Alfaruq

7 responses to “Multiblogisme: Kerukunan Antar Blog

  1. waduh nyambung juga y mas sm blog ehehehe
    mau blognya apa yang penting tetep ngeblog semangat nulis menebar kemanfaatan bagi semua orang
    salam kenal mas ^^

    • hehe, hobby saya nyambung2in yang mungkin sebenarnya nggak nyambung, hehe😀
      betul mas, apapun blognya nulisnya tetap jalan terus…
      salam kenal juga mas ian ^^

      tukeran link yuk mas… saya newbie nih😀 temen2nya masih sedikit…😛

  2. eh iya ye, baru ngeh saya😀

  3. wah, ini konsep multiblog yang ditunggu2 neh, mudah2 lolos lomba writing pesta blogger nya y kang🙂

    zen:
    ^_^ aamiin… terima kasih mas miftah atas do’anya… semoga mas miftah lolos juga ya… salan kenal🙂

  4. Mohon saya diberi penjelasan soal kebablasan multikulturalisme dan pluralisme itu di mana letaknya? Anda belum menunjukkan hal itu, baru sekadar ungkapan saja.

    Selain itu, Anda mengatakan bahwa “Dalam kehidupan bermasyarakat atau hubungan sesama manusia (muamalah) yang tak ada kaitannya dengan ritual keagamaan…”, saya baru tahu jika muamalah itu tidak ada kaitannya dengan ritual keagamaan. Saya heran juga dengan para ulama yang menulis kitab fikih berjilid-jilid akan bab muamalah itu jika ternyata itu tidak ada kaitannya dengan ritual keagamaan..

    zen:
    “soal kebablasan multikulturalisme dan pluralisme” secara detail dan mendalam bisa Anda baca di buku “Tren Pluralisme Agama” karya Adian Husaini.

    “Saya heran juga dengan para ulama yang menulis kitab fikih berjilid-jilid akan bab muamalah itu jika ternyata itu tidak ada kaitannya dengan ritual keagamaan..”
    maksud saya di sini bukan menafikkan kitab fikih para ulama, saya hanya ingin mengungkapkan bahwa saat ini banyak terjadi pencampuradukan ritual agama yang sudah berada dalam ranah aqidah sehingga merusak keimanan para pemeluknya (Islam). sedangkan dalam hal interaksi sesama manusia tetap pada koridor syari’ah seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW, shahabat, tabi’in, tabi’it dan para ulama setelahnya. Begitu..

  5. wehehehe🙂 kreatif nih.. bisa2nya kepikiran untuk menciptakan istilah baru. good luck!

    zen:
    terima kasih mbak nadia ^^ entah kenapa pikiran saya selalu usil memikirkan istilah2 yang tidak lazim. teman2 saya bilang, imajinasi saya terlalu tinggi. he..😀
    btw, makasih ya atas lawatannya🙂 izin pasang link blog mbak nadia di blog saya ya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s