Mayoritas versus Minoritas


mayoritas versus minoritasYang banyak belum tentu benar dan yang sedikit belum tentu salah. Benar atau salah itu tidak diukur dari banyak sedikitnya orang yang mendukungnya, tetapi didasarkan pada hukum Allah, Al Qur’an dan As Sunnah. Bisa jadi pendapat yang didukung oleh ribuan orang itu salah dan bertentangan dengan hukum Allah, namun bisa jadi pendapat yang hanya didukung oleh segelintir atau bahkan satu orang saja itu justru benar. Oleh karena itu sobat, parameter benar dan salah yang saat ini kita gunakan semestinya selalu kita evaluasi, kita renungkan kembali, apakah sudah sesuai hukum Allah atau belum. Jangan sampai syahwat (hawa nafsu) justru kita jadikan sebagai pedoman, na’udzubillah..

Suatu ketika pada sebuah upacara bendera di SMA dulu, saya pernah mendengarkan sambutan tertulis kepala daerah di DIY yang dibacakan oleh pembina upacara. Dalam sambutan tersebut ada sebuah kalimat yang berbunyi, “… suara rakyat adalah suara Tuhan.” Hati saya tidak sreg dengan pernyataan itu. Menurut saya, suara rakyat (mayoritas) belum tentu benar. Ya, kalau suara rakyat sesuai hukum Allah, kalau suara rakyat bertentangan dengan hukum Allah, apa masih bisa diklaim suara rakyat adalah suara Tuhan? Ingatkah sobat sekalian dengan kisah kaum Nabi Luth yang melegalkan dan menganggap lumrah perilaku homoseksual dan lesbian? Jika suara rakyat Nabi Luth mengatakan bahwa homoseksual dan lesbian itu sah-sah saja, apakah itu menandakan bahwa Tuhan juga mengatakan bahwa homoseksual dan lesbian itu sah? Tentu tidak bukan. Di zaman sekarang yang orang Jawa bilang wolak waliking (terbolak-baliknya) zaman ini –yang benar seolah-olah nampak salah, yang salah seolah-olah nampak benar–  kita tak bisa mendasarkan penilaian suatu kebenaran hanya semata-mata melihat banyak sedikitnya –mayoritas minoritasnya– suara (rakyat) yang mendukung suatu hal.

Sobat, di sinilah salah satu poin riskannya sistem demokrasi yang menjunjung tinggi suara terbanyak. Memang, dalam negara demokrasi seperti Indonesia ini umat Islam diberikan kebebasan untuk menjalankan agamanya dalam kehidupan sehari-hari, namun di sisi lain rusaknya moral masyarakat akan mengancam integritas bangsa ini di hadapan Allah ketika suatu ketika nanti (atau malah sudah?) suara rakyat tak sejalan dengan suara Tuhan. Jika demikian yang terjadi, maka apa makna di balik setiap bencana yang datang silih berganti melanda negeri kita ini?

Wallahua’lam bishawab.

Written by Zen Muhammad Alfaruq

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s