Training Kehidupan


Pernahkah diri Anda menjadi sebuah panitia training? Yang di dalamnya diperankan berbagai peran. Ada yang berperan sebagai trainer, observer, tim teknis, konseptor, peserta training (trainee), administrator, kameramen, dan sebagainya. Saya membayangkan kehidupan ini seperti sebuah sesi dalam training. Di mana manusia yang hidup ini berada dalam posisi sebagai trainee, sedangkan Allah dan malaikat-Nya sebagai observer. Kemudian Allah menunjuk makhluk-Nya yang lain sebagai trainer, panitia teknis, administrator, kameramen, dan komponen lainnya. Selama jalannya training itu Allah menguji para hamba-Nya dengan berbagai permainan, Allah ingin tahu bagaimana sikap hamba-Nya dalam menerima ujian dari-Nya, lalu para malaikat pun sebagai observer mencatat reaksi apa yang dilakukan oleh para trainee, tak luput pula malaikat observer mencatat tindak tanduk para trainee di luar sesi training. Bagaimana seorang trainee perhatian kepada temannya sesama trainee yang sakit, atau bagaimana cueknya seorang trainee yang mendapati sampah berserakan di halaman lokasi training, atau bahkan trainee yang suka buang sampah sembarangan dan mengusili temannya. Hanya saja bedanya, jika training di dunia yang diselenggarakan oleh manusia para observer yang juga manusia banyak luput dalam mengaati para trainee karena mungkin saja mengantuk atau teralihkan perhatiannya dari trainee yang sedang diamatinya, namun training yang diselenggarakan oleh Allah penuh sangat sempurna. Malaikat observer bisa dengan leluasa mengamati tingkah polah trainee ke mana pun ia pergi, sekalipun ia dalam keadaan seorang diri di kamar, keterbatasan malaikat hanyalah ia tak mampun mengobservasi niat si trainnee, nah kalau soal niat ini Allah langsung lah yang langsung mengobservasinya. Di dalam sebuah training yang kita (manusia) helat biasanya terdapat kameramen yang ditugaskan untuk membidik trainee secara diam-diam yang nantinya hasil bidikan itu digunakan dalam sesi evaluasi sehingga peserta memahami mana saja bagian dari sikapnya yang tidak tepat dan harus diperbaiki di kemudian hari. Begitu pula Allah dalam training kehidupan ini juga menempatkan berbagai hidden camera (kamera tersembunyi) yang sangat canggih yang tak tertandingi oleh kamera buatan manusia, rekaman kamera Allah itu nantinya akan ditayangkan oleh Allah di hati perhitungan nanti, sebagai bukti kepada trainee yang sedang diadili di alam akhirat nanti sehingga si trainee tak akan bisa membantah temuan Allah akan tingkah polah dirinya yang terekam oleh kamera tersembunyi Allah. Tentu hal ini sangat berbeda, kalau training yang kita adakan terbatas pada ruang privasi trainee, tapi tidak dengan kamera Allah, kamera Allah menembus ruang privasi trainee, jadi sekalipun si trainee bersembunyi di tempat paling tersembunyi di dunia ini dalam melakukan perbuatan maksiat yang dilarang oleh Allah, kamera Allah tetap akan bisa merekamnya. Subhanallah.. Allahu akbar! Bedanya lagi kalau dalam sesi evaluasi training yang kita adakan, si trainee masih bisa memperbaiki sikapnya pasca training usai, namun dalam training kehidupan nanti, saat rekaman dan hasil observasi malaikat dan Allah ditayangkan kepada trainee di sesi evaluasi di akhirat nanti, si trainee tak akan bisa memperbaiki sikapnya di dunia. Tinta sudah mengering dalam catatan, dan apa pun yang trainee lakukan sewaktu hidupnya di dunia dulu, maka balasan yang adillah yang akan Allah berikan sesuai kadar amalnya sewaktu hidup di dunia.

Sobat, training kehidupan ini masih berlangsung, mari kita evaluasi kembali tingkah polah kita sehari-hari, dari demi hari, jam demi jam, menit demi menit, detik demi detik, niat demi niat. Jangan sampai kita menyesal saat sesi evaluasi (hari perhitungan) di akhirat kelak benar-benar dilangsungkan. Kita (trainee) tak akan bisa mengelak sedikit pun, dan siap tidak siap akan menerima keputusan dari Allah, ke manakah selanjutnya tempat kita meneruskan kehidupan, di surga atau di neraka. Wallahua’la bishawab.

Written by Zen Muhammad Alfaruq

Toragan – Kamis Kliwon, 30 Ramadhan 1431 H/ 9 September 2010 M

*inspirasi tulisan ini muncul begitu saja saat saya membaca buku karya Sayyid Quthb yang berjudul Ma’alim fi Ath-Thariq (versi terjemahan) terbitan Uswah (kelompok Pro-U Media) pada sebuat paragraf di halaman 336 yang isinya seperti ini:

“Bagian akhir dari semua permasalahan di atas adalah alam akhirat. Akhirat adalah alam yang pasti di mana segala aktivitas di bumi akan diperhitungkan balasannya di sana, dan tidak lepas begitu saja dari alam itu, baik dalam kenyataan ataupun sebatas perasaan seorang mukmin tentang kenyataan itu. Maka dari itu, percaturan ini belum selesai. Karena, akhir yang sesungguhnya tidaklah tiba setelahnya. Balasan Allah berupa akhir peristiwa yang terjadi di bumi bukanlah balasan-Nya yang final, karena itu hanyalah bagian kecil dan sedikit dari balasan-Nya di akhirat.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s