Syawalan


Oleh: Zen Muhammad Alfaruq

syawalan

syawalan

Tradisi umat Islam Indonesia yang satu ini terbilang cukup unik dan digemari banyak orang. Sisi uniknya adalah tradisi ini tak hanya dinikmati oleh umat Islam saja tapi juga dinikmati oleh kalangan non muslim. Hal unik lainnya, acara ini dihelat di berbagai tempat dengan peserta yang orangnya relatif sama, hanya formasinya saja yang berbeda. Maksud saya, saya sebagai contoh, sampai postingan ini diunggah saya telah mengikuti tiga acara syawalan. Yang pertama (Jum’at, 1 Syawal 1431 H) sesaat setelah shalat Id di lapangan adalah syawalan di masjid kampung saya bersama orang-orang satu dusun. Yang kedua (Sabtu, 2 Syawal 1431 H) adalah syawalan keluarga besar ibu saya di Imogiri. Yang ketiga (Senin, 4 Syawal 1431 H) adalah syawalan keluarga besar RW 08 kampung saya di rumah Pak Dukuh. Belum lagi besok Sabtu, 8 Syawal 1431 H ada syawalan alumni SMP 8 Yogyakarta angkatan 2002. Memang tradisi yang banyak penggemarnya.

Jika di acara syawalan itu ada acara pembacaan kalam Ilahi, biasanya kita akan disuguhi hidangan Al Qur’an khas syawalan, yaitu Surat Ali Imran ayat 133-136 yang artinya,

Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal.

Ditambah sedikit hikmah syawalan yang disampaikan oleh penceramah, syawal adalah bulan peningkatan amal. Meningkat itu bukan shalat subuh yang saat Ramadhan dikerjakan jam setengah lima pagi lalu saat Syawal menjadi jam setengah enam pagi, itu sih namanya bukan peningkatan amal, tapi kemerosotan amal. Meningkat itu seharusnya semakin tekun, semakin rajin, dan semakin disiplin dalam beramal dan beribadah, shalat misalnya.

Nah, salam-salaman selalu menjadi acara penutup di sebuah acara syawalan, bertujuan untuk saling memaafkan satu dengan yang lainnya. Rangkaian salaman biasanya diawali dari yang paling sepuh (tua) dulu disusul oleh yang lebih muda. Soal, salaman ini ada sedikit yang mengganjal. Insya Allah akan saya bahas di postingan berikutnya suatu saat nanti. Dan akhirnya, selamat menikmati syawalan…

One response to “Syawalan

  1. Nah,yg mengganjal itu kyknya yg penting dbahas😉

    zen:
    hehe😀 insyaAllah akan saya bahas suatu saat nanti… mohon do’anya ya akh… btw undangan dari akh zainal buat antum bisa saya serahkan kapan dan di mana?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s