Saling Melengkapi, Bukan Saling Meniadakan


Oleh: Zen Muhammad Alfaruq

Seiring berjalannya waktu, pencapaian demi pencapaian dihasilkan oleh manusia. Teknologi semakin berkembang. Pun demikian dengan media massa yang ada. Dahulu orang menggunakan kulit binatang atau daun yang dikeringkang atau bebatuan atau tulang hewan untuk mencatat, kemudian setelah ditemukannya kertas, pencatatan dilakukan di atas kertas. Suhuf pun beranjak menjadi buku atau kitab. Ketika era kertas berkembang ditemukanlah teknologi digital yang meminimalkan penggunaan kertas dalam hal pencatatan. Teknologi dokumen digital pun berkembang, kini dikenallah buku elektronik atau e-book. Untuk membaca sebuah catatan, buku tak perlu dicetak namun cukup dibuat dalam sebentuk file lalu bisa dibaca di komputer atau gadget seperti ponsel dan sejenisnya. Namun ternyata kehadiran teknologi digital tak berarti meniadakan teknologi kertas, justru saling melengkapi. Walaupun sekarang era blog atau website telah menjadi trend di sebagian tempat, teknologi pencatatan di atas kertas masih sangat dibutuhkan. Mengingat tak semua orang bisa menikmati teknologi digital. Koran masih saja tetap dibaca oleh tukang becak dan pedagang kaki lima di tepi jalan kendati berbagai koran versi digital sudah bisa dinikmati oleh kalangan kantoran yang tak sempat memegang dan memelototi lembar demi lembar halaman koran cetak. Kalaupun suatu saat nanti, hampir semua tempat telah melumrahkan teknologi digital, saya yakin teknologi kertas tidak akan pernah hilang. Bukankah teknologi digital membutuhkan listrik untuk menikmatinya, sedangkan teknologi kertas tak memerlukan sepenuhnya. Ketika kita berada di tengah hutan suatu siang hari, kita tetap bisa membaca buku yang kita bawa kendati kita tak menemukan sumberdaya listrik, namun kita tak bisa menikmati e-book di smart phone kita ketika di hutan itu kita tak memungkinkan untuk mendapati sumber daya listrik. Jadi sebenarnya teknologi digital itu ada untuk saling melengkapi, bukan saling meniadakan. Soal mesin yang menggantikan tenaga manusia juga tak selamanya bisa diandalkan, tentu masing-masing memiliki tempat yang berbeda. Intinya kita perlu bersyukur dengan kehadiran teknologi, dengan adanya teknologi digital kita semakin mudah untuk meraih ilmu sebanyak-banyaknya tak dibatasi oleh ruang dan waktu. Namun salah satu bentuk kesyukuran yang perlu kita jaga adalah menjauhi budaya atau kebiasaan plagiarisme yang identik dengan copy-paste seperti yang dikeluhkan oleh para dosen di perguruan tinggi yang memeriksa tugas mahasiswanya. Hendaknya semangat untuk berkarya orisinal perlu kita pertahankan sekuat tenaga sehingga khasanah kreativitas dan ilmu pengetahuan semakin berkembang pesat sehingga manusia semakin dimanusiakan serta semakin memahami hakikat hidupnya di hadapan Allah SWT, “Dan tidaklah Aku mencitakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” QS Adz Dzariyat: 56. Wallahu’alam bishawab.

Toragan, 20 September 2010

2 responses to “Saling Melengkapi, Bukan Saling Meniadakan

  1. “Terobosan paling menggairahkan pada abad ke-21 terjadi bukan karena teknologi, tetapi perkembangan konsep mengenai apa artinya menjadi manusia” inilah pernyataan dari penulis buku Megatrens 2000 yang begitu populer pada tahun-tahun pergantian abad lalu.

    manusia diciptakan untuk saling melengkapi, bukan untuk saling meniadakan satu dengan yang lainnya. Allahu’alam.

    zen:
    yups,, setuju🙂

  2. iya betul Zen dengan adanya kemudahan teknologi tidak seharusnya menjadikan kita malas. tapi justru sebagai sarana pendukung ya..

    zen:
    iya🙂 terima kasih mbak ‘Ne atas kunjungannya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s