Wedding Notes


Oleh: Zen Muhammad Alfaruq

akad-nikahDua hari ini secara berturut-turut, saya menghadiri dua pesta pernikahan atau yang lebih beken disebut walimahan. Masing-masing walimahan alhamdulillah ada acara ceramahnya, diisi oleh dua ustad yang berbeda (hore!!! training gratis :D). Banyak pengetahuan bertema munakahat yang saya perolah dari sana. Rasanya tak adil kalau apa yang saya peroleh itu hanya saya pakai sendiri, oleh karena itu biar adil, saya bagikan ya ke Sobat sekalian di sini.. Mohon maaf kalau tak selengkap seperti apa yang disampaikan oleh kedua ustad itu, hanya beberapa bagian saja yang masih nyangkut di kepala. Mohon maaf pula kalau ada substansi yang tak sesuai dengan maksud kedua ustad tersebut. Bukan karena saya menyengaja untuk mengubahnya, tapi semata-mata keterbatasan pikiran saya sebagai manusia biasa..

Naluri Suami Beda dengan Naluri Istri

Ketika dua orang insan telah menikah dan akhirnya dikaruniai anak, akan muncul naluri pada keduanya orang tuanya. Seorang laki-laki lebih cenderung memiliki naluri sebagai suami daripada naluri sebagai seorang ayah, sedangkan seorang wanita cenderung memiliki naluri sebagai ibu daripada naluri sebagai istri. Penjelasannya begini, misalnya ada seorang suami yang bekerja di luar kota lalu pulang ke rumah, maka yang ada di dalam benaknya pertama kali adalah menemui istrinya dulu baru anaknya, sedangkan seorang istri ketika sudah memiliki anak perhatiannya lebih ia curahkan kepada anaknya daripada kepada suaminya. Nah, yang menjadi tugas masing-masing, baik suami atau istri adalah menyeimbangkan naluri tersebut. Seorang suami agar memiliki naluri sebagai seorang ayah, maka sang istri perlu mengondisikannya. Misalnya dalam urusan menggendong anak, sang istri perlu membiasakan suaminya menggendong anak sehingga muncul rasa kepemilikan dan keakraban terhadap anaknya, juga dalam hal memandikan anak atau mengajaknya jalan-jalan, membacakan buku cerita, menyuapinya ketika makan, mencucikan bajunya, dan sebagainya. Sang istri perlu berbagi tugad agar suami tak hanya memiliki naluri sebagai suami tetapi juga memiliki naluri sebagai ayah. Begitu pula naluri menjadi ibu perlu diseimbangkan dengan naluri menjadi istri. Karena bila istri terlalu sibuk dengan anaknya, sementara suaminya merasa tak pernah diperhatikan, maka hal ini bisa membawa sang suami menuju pada hal-hal lain yang tidak diinginkan. Intinya baik sang suami maupun sang istri harus berusaha menyeimbangkan nalurinya masing masing, antara naluri menjadi ibu dan naluri menjadi istri, antara naluri menjadi suami dan naluri menjadi ayah.

Benturan Idealita dan Realita

Menikah adalah membenturkan antara idealita dan realita. Waktunya bagi kedua insan untuk menguji idealismenya. Apakah setelah menikah dan menemui berbagai realita kehidupan rumah tangga serta masyarakat, ia akan tetap teguh dengan idealisme-idealismenya sewaktu sebelum menikah dulu? Ataukah ia akan hanyut dalam pragmatisme dan sedikit demi sedikit melupakan idealismenya? Apakah seorang pemuda yang dulu ketika masih bujangan rajin adzan di masjid, ketika sudah menikah tetap rajin adzan atau sebaliknya? Apakah seorang ustadz/ah TPA yang sewaktu bujang dulu aktif mengajar TPA, setelah menikah tetap semangat mengajar dengan ikhlas atau menjadi semangat jika ada gajinya? Apakah seorang pemuda yang ketika bujang selalu shalat shubuh berjama’ah di masjid, setelah menikah tetap sama ataukah menjadi berat ke masjid? Ketika seorang wanita yang dulu waktu masih single teguh berjilbab syar’i plus ke mana-mana berkaos kaki, apakah tetap teguh ketika sering diolok-olok oleh tetangga rumah mertua yang kurang paham agama? Dan realita-realita seterusnya.. Pernikahan adalah sebuah babak baru untuk memasuki kehidupan yang penuh dengan ujian.

Memilih Istri atau Suami

Baginda Rasulullah SAW pernah berpesan kepada para pengikutnya, bahwa untuk memilih pendamping hidup itu perlu memperhatikan empat aspek, yang pertama adalah kecantikan atau ketampanannya, yang kedua adalah baiknya keturunan, yang ketiga adalah kekayaannya, dan yang keempat adalah kebaikan agama/ akhlaknya. Di antara keempat aspek itu yang harusnya paling diutamakan adalah aspek yang keempat, yaitu kebaikan agama/ akhlaknya. Apa jadinya punya istri cantik tapi karena agamanya tak baik dengan mudahnya ia selingkuh dengan pria lain? Salah memilih istri sama artinya dengan dzalim dengan anak kita kelak. Pendidikan anak yang paling mendasar adalah pada ibunya. Jika ibunya akhlaknya buruk, maka itulah yang dilihat sang anak pada ibunya. Apalah arti ia berasal dari keturunan yang baik tapi jelek akhlaknya, bisa jadi bukan keturunan shalih yang ia dapatkan, tapi justru keturunan yang menceburkan kedua orang tuanya ke dalam neraka. Apalah artinya punya istri kaya kalau kekayaannya hanya untuk foya-foya karena ia tak mengerti agama. Namun ketika seorang suami baik akhlaknya, maka ia tak akan semena-mena terhadap istrinya, karena ia tahu bahwa seorang suami yang baik adalah seorang suami yang memuliakan istrinya.

Mendidik Anak yang Sholeh

Menikah harus dibarengi dengan kesiapan mendidik anak, mencetak anak yang sholeh. Mendidik anak agar jadi sholeh itu sulit, kata pak ustad, apalagi yang belum tahu ilmunya. Oleh karena itu menikah juga harus dibarengi dengan persiapan bekal dalam mendidik anak. Jika tidak dibarengi maka bisa jadi anak-anaknya yang diharapkan meneruskan generasi dari masa ke masa justru membuat hati kecewa sang orang tua. Ada kisah sepasang suami istri yang hanya memiliki satu anak, alias anak tunggal. Keduanya berharap banyak kepada anaknya untuk meneruskan generasi, namun apa di kata, karena salah pergaulan, anak perempuan satu-satunya itu hamil sebelum nikah di usia 16 tahun. Na’udzubillah..

Mengalah untuk Menang

Kata pak ustad yang juga seorang naib (petugas KUA yang sering menjadi penghulu pernikahan) itu, di Sleman menurut data yang ia terima, dalam satu tahun saja terjadi 900 kasus perceraian alias pisahnya ikatan suami istri di depan pengadilan agama. Bisa dikata, kalau direrata hampir setiap hari selalu ada pasangan yang bercerai. Mengapa hal ini terjadi? Biasanya disebabkan karena masing-masing (suami ataupun istri) ingin menang sendiri, tidak ada yang mau mengalah ketika terjadi ketidak cocokan dalam rumah tangganya. Seharusnya suami istri memegang prinsip, “sing waras ngalah” artinya “yang sehat pikirannya mengalah” sehingga mengalah bukan berarti kalah, tetapi mengalah untuk menang. Ia menang dari ancaman perceraian dan ketidak harmonisan rumah tangga.

Sebenarnya masih banyak hal-hal yang disampaikan oleh kedua ustad tersebut, namun apa dikata, baru itu inspirasi yang berkenan mampir di kepala saya. Jika uraian di atas ada yang tidak pas, mohon Sobat sekalian berkenan meluruskannya. Boleh lewat komentar di bawah ini atau kirim ke e-mail saya (alamat e-mail saya ada di halaman ‘Portofolio’ di blog ini). Sekian, dan terima kasih sudah meluangkan waktu membaca tulisan ini ^^ Semoga bermanfaat..

Toragan, 26 September 2010

sumber foto: http://puisijiwarasa.files.wordpress.com/2007/12/akad-nikah.jpg

4 responses to “Wedding Notes

  1. Hehe… Ada satu kalimat yang paling menarik dari note ini:

    “Sing waras ngalah…”😀

    zen:
    he..😀 makasih ya Lil atas lawatannya ^^ dah bikin blog belum?

  2. Ya, pernikahan memang suatu ujian. Tetapi, untuk yang mengalah itu, menurutku seharusnya tidak mengalah, tetapi dicoba dikomunikasikan. Karena sejujurnya saja, setiap manusia akan roboh juga jika setiap saat diminta mengalah. Yang benar adalah berusaha dicapai win-win solution. Artinya bukan hanya satu pihak yang mengalah tapi keduanya mencapai suatu keinginan bersama yang dicapai melalui komunikasi/musyawarah. Dan memang ini sulit, perlu pembiasaan. Selamat belajar berkomunikasi Mas Zen, kan udah ga lama lagi kan? : ) Jika masuk pelaminan nanti saya diundang ya Mas Zen🙂

    zen:
    setuju, abah.. “setiap manusia akan roboh juga jika setiap saat diminta mengalah.”
    *kalau yang saya tangkap dari penjelasan sang ustad, mengalah untuk menang itu dilakukan ketika jalan musyawarah sudah menemui jalan buntu. seperti kita kalau pas musyawarah tahunan di organisasi mahasiswa itu lho.. kadangkala kita temui masa-masa deadlock, di mana ada dua pendapat yang sama kuatnya dan merasa paling benar. kalau di organisasi kita bisa voting, kalau suami-istri votingnya gimana hayo😀 jadi mengalah sepertinya langkah yang tepat ketika menemui kebuntuan dalan bermusyawarah atau berkomunikasi suami-istri.
    “kan udah ga lama lagi kan?”
    *aamiin.. mohon do’anya ya, abah..🙂
    “Jika masuk pelaminan nanti saya diundang ya Mas Zen”
    *insya Allah..😀

  3. woooww…ditunggu buku nikahnya terbiit,…meneruskan mas salim😀

    zen:
    hehe😀

  4. waaaaww..
    jd semakin terbuka pikirannya ttg pernikahan..hehehhe

    zen:
    alhamdulillah kalau bisa membuka pikiran🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s