Mengais Inspirasi bersama Ayunan Serumpun Lidi


bersama ayunan serumpun lidiKedua tanganku menggenggam erat sepotong bambu kuning langsat ala tongkat pramuka, di ujung bambu itu terikat kuat serumpun lidi. Kuayunkan bambu itu sehingga ujung-ujung lidi mengusik dedaunan kering dari peraduannya. Tak hanya sekali, dua kali, tiga kali, bahkan sampai aku pun lupa berapa kali aku mengayunkannya. Ah, buat apa juga menghitung ayunan serumpun lidi..

Tak berapa lama dari saat itu, ada tetangga yang bertegur sapa, “Libur, mas?”

“Nggak, Pak.. Tuh motor sudah dikeluarkan, siap untuk pergi ke kampus,” jawabku.

Setelah itu berlangsung perbincangan hangat sehari-hari. Tak terasa sudah semakin banyak dedauan yang terlempar dari tempatnya bersemayam. Kerikil-kerikil tak mau kalah menghiasai sebentuk halaman di bawah pohon Nephelium lappaceum yang rindang.. Ujung-ujung lidi membanting tulang mengusir dedaunan yang mangkir tak mau menyingkir bersembunyi di sela-sela kerikil. Dengan penuh peluh, akhirnya terusir juga dedaunan itu.

Hari semakin beranjak seiring mentari menjauhi tepi. Hilir mudik makhluk besi dengan kaki bundar yang menggelinding pun kian ramai, namun ayunan serumpun lidi pun tak patah arang. Kuayunkan lagi bambu itu hingga ujung-ujung lidi mendepak ranting-ranting kecil yang berguguran entah sudah berapa lamanya. Sementara sebongkah daging penuh syaraf di kepalaku terus saja menerawang menembus awang-awang mengais inspirasi. Inspirasi bersama ayunan serumpun lidi.

Satu per satu ‘para tamu’ inspirasi pun sudi hinggak di otakku, hingga akhirnya beliau-beliau bersedia kuhampirkan di lembaran-lembaran buku kecil yang kuberi ia nama ‘a book of my inspiration’ itu. Bahkan hingga kini, beliau-beliau masih saja betah tinggal di sana berkat jasa tinta yang mau membayar uang kontraknya. Di lembaran buku itu tertulis berderet-deret tamu inspirasi. Dengan senang hati kupersilakan menginap di buku inspirasiku. Hingga saatnya tiba nanti beliau-beliau akan kumohon untuk berkenan muncul menjadi postingan-postingan baru di kediaman saya di dunia maya. Dan rmereka pun menyanyikan sebaris lagu, “Nantikanku di batas waktu..”

4 responses to “Mengais Inspirasi bersama Ayunan Serumpun Lidi

  1. bleh ajar tutur jawa …camne nak communicate

    zen:
    indonesia: boleh ^^ mari belajar tutur jawa..
    jawa: pareng ^^ mangga sinau matur jawi..

  2. masih belum mudheng antara inspirasi dan “nantikanku di batas waktu”… :)?

    zen:
    begini ceritanya.. jadi pas sy nulis postingan itu awalnya mau saya cantumkan inspirasi apa saja yang saya dapatkan saat mengayunkan serumpun lidi (nyapu –red). tapi saya khawatir, inspirasi-inspirasi itu keburu ditulis orang lain, sementara saya sendiri belum mewujudkannya menjadi sebuah tulisan. akhirnya, saya bilang ke para ide, “nantikanku di batas waktu..” nantikan saya untuk menuliskan beliau2 menjadi postingan2 berikutnya di blog ini. begitu mbak danti..🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s