Bertutur dengan Bahasa Jawa


jawa

images.wahyupriagung.multiply.com

Bahasa Jawa merupakan salah satu bahasa daerah yang tidak hanya berlaku di Indonesia, tetapi juga berlaku di berbagai belahan bumi. Sebut saja, Suriname, salah satu negara di benua Amerika. Malaysia, negara tetangga sebelah kita, yang sebagian penduduknya merupakan keturunan Jawa asli dan menetap di sana sejak puluhan tahun yang lalu, masih gemar bertutur dengan Bahasa Jawa, nostalgia.

Di pulau Jawa sendiri, Bahasa Jawa masih dipakai dalam kehidupan sehari-hari dengan dialeknya masing-masing. Ada dialek Yogyakarta, dialek Solo atau Surakarta, dialeg Banjarnegara, Banyumas, Kebumen yang terkenal ngapaknya, dialek Surabaya atau Madura, dan masih banyak dialek lainnya yang unik dan khas.

Di sekolah formal, Bahasa Jawa merupakan salah satu muatan lokal yang diajarkan, dari Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA).  Tujuannya tidak lain adalah untuk melestarikan bahasa ini agar tidak punah, mengingat saat ini penggunaan bahasa di kalangan anak muda sudah terkontaminasi berbagai istilah yang tidak jelas asal usulnya. Selain di sekolah, orang tua memiliki peranan penting dalam melestarikan bahasa Jawa. Ada orang tua yang membiasakan anaknya berbahasa Jawa halus sejak masih belajar bicara sehingga ketika usianya sudah remaja anaknya sudah fasih berutur bahasa Jawa dengan halus dan sadar lokasi. Namun tak sedikit orang tua yang tak membiasakan bertutur bahasa Jawa kepada anaknya sehingga sang anak begitu asing dengan bahasa daerah mereka. Biar kelihatan modern kali ya? Atau jangan-jangan ada orang tua yang beranggapan kalau bahasa Jawa itu ketinggalan zaman? Na’udzubillah.. Sepengamatan saya, bahasa Jawa itu justru memiliki cita rasa tinggi karena ada tingkatan bahasa, melatih memosisikan diri, antara berhadapan dengan orang yang lebih tua, sebaya, dan lebih muda. Justru bahasa Jawa secara tidak langsung memberikan pelajaran budi pekerti kepada para penuturnya. Jadi sangat salah dan sembrono ketika ada yang beranggapan kalau bahasa Jawa itu ketinggalan zaman.

Uniknya juga, bahasa Jawa justru lebih banyak dipelajari oleh orang asing daripada orang Jawa sendiri. Buktinya banyak turis manca negara yang jauh-jauh ke Jawa hanya untuk mempelajari bahasa Jawa, gamelan, tari dan sebagainya. Selain itu, untuk menemukan referensi Jawa kuno, justru lebih mudah mencarinya di negeri Belanda nun jauh di sana daripada di daerah bahasa ini berasal. Sangat ironis ya? Makanya, yuk kita belajar bertutur dengan bahasa Jawa..

Ing sakwijing dina, aku ndherek simbah putri tindak marang pasar kliwonan. Aku dipundhutke sandal jepit anyar. Jan, rasane bungah tenan atiku..

Pada suatu hari, saya ikut nenek pergi ke pasar kliwonan. Saya dibelikan sandal japit baru. Wah, rasanya bahagia sekali hati saya..

Toragan, 6 Oktober 2010

4 responses to “Bertutur dengan Bahasa Jawa

  1. Mieny saged jawi tapi mboten kromo niku pripon Mz….

    zen:
    mboten2 napa2 mbak, sinau sekedhik mbaka sekedhik kemawon..

  2. jawa kuno ya maksudnya? huruf jawa sekarang masih pake aksara kayak gitu Zen? *beneran ga tau*

    zen:
    bukan, mbak nadia.. jawa sehari-hari. kalau aksara jawa hanya untuk dipakai di tempat2 tertentu saja.

  3. wah kula dados kemutan, dek jaman semanten… kulo silaturahim wonten ing daleme satunggaling tokoh masyarakat anggenipun kulo KKN riyin,…

    “…pak, kulo unjuk nggih…”

    hak dziiing….!! rencang2 sami ngguya ngguyu amargi kulo klentu…

    *hahah, waah jian… parah sanget!!!😀

    zen:
    hehehe😀 mboten napa2 mbak danti.. tiyang sepuh sampun maklum kok menawi tiyang enem menika basa jawi-nipun radi parah😛
    lha wong ingkang mboten saged basa jawi mon kathah og.. dados saged sekedhik2 ngge basa jawi niku pun lumayan, kantun dipundandosi sekedhik mbaka sekedhik kemawon..

  4. oh ngaten nggih, nanging saestu kulo isin je…😀

    sinau meleh dadosan kulo😀 *campur2 bahasane*

    zen:
    isin nggih sae kok.. Kanjeng Nabi Muhammad SAW ngendika bilih isin menika bagian saking iman🙂 sinau niku kapan kemawon mboten ningali yuswa. lha wong bapak-bapak teng dusun kula niku malah semangat sinau iqro’ kok.. mosok kalah semangat kaliyan bapak-bapak? lare enem kedahipun langkung semangat tinimbang tiyang sepuh.. lak nggih to? hehe😀
    menawi teng dusun kula, rapat kasinoman (pemuda) ngagem basa jawi mlipis lho.. dadosipun purun mboten purun, kula kedah sinau basa jawi ingkang leres🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s