Hati-hati Barisan Sakit Hati


al hujuraat 49: 6

Menyimak pemberitaan di media massa maupun situs jejaring social akhir-akhir ini begitu menyesakkan dada. Tiba-tiba saja muncul barisan sakit hati –yang diblow up sedemikian rupa oleh berbagai media massa yang masih samar-samar kebenarannya– mengumbar aib saudaranya. Saya sendiri sangat tidak yakin bila aib yang didengung-dengungkan itu benar adanya. Tak sepatutnya seorang muslim yang mengaku paham agama, mengaku ahli syariah melakukan perbuatan sekeji itu. Kalaupun memang yang disampaikannya memang benar adanya, tentu bukan demikian caranya, bukan demikian etika yang diajarkan Rasulullah SAW. Siapa pun dalangnya, saya berdo’a semoga ia diberi hidayah oleh Allah dan kembali jalan yang lurus, aamiin..

Sepintas mengamati etika mengemukakan (sesuatu yang dianggapnya) fakta saja sudah membuat saya masygul. Apa iya, orang yang paham syariah berlaku seperti ini? Malah terkesan seperti barisan sakit hati yang sedang melancarkan serangan balas dendam. Wallahua’lam, tentu hanya yang bersangkutan dan Allah saja yang tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Saudaraku, Islam telah mengajarkan kita untuk berbaik sangka. Mencari seribu alasan berbaik sangka kepada saudara kita sebelum kita memutuskan untuk berburuk sangka. Islam mengajarkan kita untuk sibuk mencari aib diri sendiri daripada mencari aib orang lain. Jangan sampai perumpamaan ‘semut di seberang lautan sana sangat jelas nampak, namun gajah di pelupuk mata justru tak nampak’ terjadi pada diri kita. Jangan sampai bisikan iblis yang berdesir begitu lembut menguasai pikiran dan perasaan kita. Astaghfirullaah…

Saudaraku yang dimuliakan oleh Allah, mari kita simak sebuah ayat dalam Al Qur’anul kariim yang –bila diterjemahkan dalam bahasa Indonesia– bunyinya seperti ini,

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (Al Hujuraat 49: 6)

Periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. Itulah yang menahan saya untuk tidak berkomentar terhadap pemberitaan baik di media massa maupun jejaring sosial akhir-akhir ini. Buat apa mendiskusikan sesuatu yang belum jelas kebenarannya? Bak buah simalakama, kalau benar berarti kita memakan bangkai saudara sendiri, kalau dusta berarti fitnah (yang lebih kejam daripada pembunuhan).

Saudaraku yang kucintai karena Allah.. Mari kita bercermin pada cermin yang jernih, perbuatan dosa apa saja yang telah kita perbuat selama ini, mari kita mohonkan ampun kepada Allah agar Ia berkenan mengampuni dosa-dosa kita, mari kita mohon perlindungan kepada Allah dari fitnah dunia, mari kita perbanyak amal ibadah dan amal shalih kita di dunia ini. Kalau tidak sekarang, kapan lagi? Engkau tentu tidak mau jika beberapa saat sebelum nyawamu dipanggil Sang Khaliq engkau sedang asyik meng-ghibah dan menyebarkan fitnah? Apa jadinya nasibmu di akhirat kelak ketika amal kebaikan yang telah engkau kumpulkan sedikit demi sedikit dengan susah payah akhirnya diminta oleh orang-orang yang engkau ghibahi dan engkau fitnah? Na’udzubillah..

Aku berlindung kepada Allah dari godaan syaitan yang terkutuk..

Wallahua’lam bishawab.

Toragan, 26 Maret 2011 @00:10 WIB

3 responses to “Hati-hati Barisan Sakit Hati

  1. Mas Zen, semoga ini memang menjadikan yang ditimpa kabar burung itu semakin kuat. makin tangguh. bisa jadi ini memang tantangan yang membuat semakin matang. kalau jalan itu benar, pastilah dakwah itu penuh onak duri. yang paling penting adalah, kita tidak ikut-ikutan menyebarkan berita tidak jelas, berdoa dan jika bisa mengcounternya semampu kita.

    tulisan di dakwatuna sangat bagus. jika setiap isu harus ditanggapi, habis waku kita menanggapi isu.

    semoga segera ketahuan mana yang benar dan mana yang bathil!

    salam super!!! ^_^

    zen:
    aamiin… matur nuwun mas hanif.. ^_^

  2. Materi liqo’ semalam, hehehe…

    zen:
    oh, iya to?😀

  3. Bolung Ajah

    Kalo saya, meski dada terasa sangat sesak, tp wait and see dajalah, hehe.. masih banyak hal yg harus kita lakukan, semoga kita terus disibukkan dg amal2, bukan sibuk mencari2 kesalahan orang.

    Saya percayakan kepada orang2 yg berwenang saja…

    zen:
    na’am🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s