Monthly Archives: May 2011

Nasihat Seorang Kakak Kepada Adiknya


Alkisah, ada seorang kakak yang sedang menasihati adiknya. Si adik rupanya sedang kebingungan dalam pencarian jati dirinya. Berikut ini penggalan nasihat itu, semoga bermanfaat..

***

Kata kuncinya adalah komitmen, Dik..
Komitmen untuk fokus pada tujuan..
Tujuan bisa jadi banyak, tapi kita ambil mana yang paling penting sekarang..
Yang lain, bisa dikerjakan setelah tujuan utama itu terpenuhi..
itulah yang disebut fokus..
dan untuk meraihnya diperlukan komitmen..
maka bahasa sederhananya adalah:
“Komitmen untuk Fokus pada Tujuan Utama”
“Main Goal” lho, Dik. Bukan “Goals”
bukan juga “Main Goals”..

Komitmen itu dari hati, Dik..
Tidak bisa ditrainingkan, tidak bisa juga dijelaskan..
tapi berawal dari tekad yang kuat, keyakinan di dalam diri..
dan itu didapat dari perenungan, dari rasa cinta, dari kemauan..
yang kemudian, semua berujung pada tingkah laku dan perbuatan yang berasal dari alam bawah sadar..
komitmen itu ibarat akhlak, yang berjalan dengan sendirinya tanpa kita sadari..

tapi untuk bisa seperti itu, perlu ilmunya dulu..
ilmunya sederhana, tahu urgensi dari apa yang kita komitmenkan itu, kemudian punya target yang jelas, dan dilaksanakan dengan penuh rasa cinta dan keyakinan..
tapi jangan lupa baca bismillah biar jadi ibadah..
gitu, Dik..

Hidup mengalir itu indah, kok..
Hidup saya juga mengalir begitu saja..
Tapi kunci-nya satu, tetap punya orientasi..
air mengalir itu juga punya tujuan lho, Dik..
Ada yang mengalir sampai laut, ada yang mengalir sampai danau, dan lain sebagainya..
Jadi, sebenarnya bukan kehilangan urgensi, tapi coba berpikir ke orientasi..
dari orientasi kita akan menemukan urgensi..

di antara orang-orang hebat yang pernah saya temui,
ada yang sudah jadi, ada yang hampir menjadi, dan ada yang sedang berproses untuk menjadi..

walaupun, yang sudah jadi itupun masih selalu berproses untuk menjadi sesuatu yang terus berarti..
tapi satu hal, njenengan mungkin sedang mencari, apa peran yang bisa njenengan perankan..
itu yang saya lihat yang sedang njenengan cari..
apa peran saya, apa yang harus saya lakukan, dsb..
istilah kerennya “mencari orientasi”..

dan mengapa njenengan hebat, karena njenengan “mencari orientasi” di jalan yang Alloh ridhoi..
banyak yang “mencari orientasi” di jalan yang tidak Alloh ridhoi..
dan, satu kabar gembira untuk njenengan, njenengan sudah berada di jalan yang benar..
tinggal memaknai apa itu “orientasi”..
apakah harus dicari serumit itu, atau sebenarnya bisa kita simplifikasi..
nah, cobi njenengan renungkan riyin, Dik..

***

Sobat, sudahkah engkau temukan jati diri sobat? Apakah orientasi hidup sobat?
Bagi yang sudah menemukan, mari bersyukur kepada Allah atas karunia-Nya memberikan petunjuk kepada sobat sekalian dalam menemukan jati diri..
Bagi yang belum menemukan, semoga Allah membimbing sobat dalam menemukan jati diri..
Aamiin yaa Rabb..

Toragan, 30 Mei 2011

Advertisements

Damainya Pagi Ini


Pagi ini, sinar mentari menerobos sela-sela dedaunan pohon durian milik tetanggaku, hangatnya terasa hingga relung hatiku. Kicauan burung bersahutan ceria, entah spesies apa saja yang berkicau aku kurang tahu, sepertinya perlu tanya anak bionic nih (http) :P. Embikan kambing tetanggaku terdengar dari kejauhan, disusul kokok ayam jantan dari arah rumah tetanggaku yang lainnya. Emohan sapi tak mau ketinggalan. Sungguh damainya pagi ini.. ^_^ Lafal ‘subhanallah’ berkali-kali kulisankan. Berbagai persoalan sejenak terlupakan. Sambil terus kuayunkan sapu lidi berdoran bambu, kulempar dedaunan dari beberapa spesies; nangka (Artocarpus integra), jengkol (Pithecellobium sp.), melinjo (Gnetum gnemon), matoa (Pometia pinnata), rambutan (Nephelium lappaceum), dan spesies lainnya ke arah jugangan di kebon suwung.

Sesaat sebelumnya, kusapu dedaunan di bawah pohon yang termasuk famili Gnetaceae yang sedah berbuah, kudapati beberapa butir buah Gnetum gnemon berwarna merah yang tanggal dari tangkainya. Kuayunkan lagi sapu lidi di tanganku sambil melirik ke depan, kanan, dan kiri. Kucermati agar sapuku tak mengenai bahan emping yang berserakan itu. Setelah dedaunan kusingkirkan, kuambili satu per satu butiran buah melinjo itu, kujadikan satu. Kutinggalkan di sana, di bawah pohon, agar mbah Asmo tetanggaku tidak kecelik jika hendak cari melinjo di halaman rumahku.

Beberapa saat setelahnya, pak Karyono tetanggaku lewat bersama sapinya untuk dimandikan di sungai, kupasang senyum pada pemilik sapi (dan juga kepada sapi :P), kuberikan jalan buat sapi untuk lewat, Eittt! Si sapi mau menabrakku! ( >..

Teringat kejadian kemarin Selasa siang. Waktu itu aku ketiduran sepulang mengantar mbokdhe Tris membesuk pakdhe Tris yang dirawat di Rumah Sakit Murangan (RSUD Sleman). Sayup-sayup terdengar suara anak kecil memanggil-manggil adikku, “Mas Ali… Mas Ali..” Siang itu adikku belum pulang, aku pun beranjak dari dipan lalu menuju teras rumah. Kudapati Tony di teras memanggil-manggil ditemani Lia bersama ibunya yang duduk di lincak dan Billa yang malu-malu kucing berdiri di samping Tony.. Hehe, lucunya bocah-bocah mungil ini.. ^_^

Kembali ke cerita semula. Halaman rumahku yang masih berupa tanah sekarang sudah bersih dari dedaunan yang berjatuhan. Wah.. terasa jadi lebih luas dari sebelumnya, aku tersenyum lega 🙂 Jalan cor-coran semen di depan rumah juga sudah bersih. Angin sepoi-sepoi menyapaku lembut.. Sungguh pagi yang damai..

Setelah cuci tangan dan kaki, kunyalakan komputerku, kuconnectkan ke internet, dan kubuka software pengolah kata yang biasa kupakai buat ngetik-ngetik. Kutuliskan kisahku pagi ini. Adikku (Ali) pamit hendak berangkat ke kampus, dia bilang aku dipanggil mbah putri. Oke, kusambangi mbah putriku di kamar belakang. “Le, mbok aku dipijeti..” [Nak, minta tolong saya dipijiti..] Oh, ternyata beliau minta dipijitin.. Okelah kalau begittu. Pertama, kupijit lengan kirinya, pundaknya, lalu kepalanya. “Wah, kok adhem banget yo rasane?” [Wah, kok dingin sekali ya rasanya?] O, simbah kedinginan.. “Kula urut ngge minyak kayu putih kersa, mbah?” [Saya urut pakai minyak kayu putih mau, nek?] “Yo, gelem..” [Ya, mau..], jawab simbahku. Lalu, kuambilkan minyak aroma therapy (yang wangi dan hangat itu lho!) di atas meja belajar, di kamar ibuku. Kuoleskan sedikit di ujung jariku lalu kuurut tangan, kaki, leher, pundak dan punggung simbahku dengan minyak ‘wangi’ itu. “Saiki wis rodo anget..” [Sekarang dah agak hangat..], kata simbahku.

Urusan urut mengurut usai. Kini simbahku minta dibuatkan minuman hangat. Oiya! Aku baru ingat kalau tadi pagi adikku (Lisa) berpesan kepadaku untuk membuatkan minuman hangat buat simbah, tapi air panasnya habis, jadi harus ngrebus air dulu. Tadi adikku mau ngrebus air tapi belum mendidih, keburu berangkat ke sekolah. Oke! Acara selanjutnya adalah merebus air pakai keren dan kayu bakar 😀

Ceret dengan angus hitam di sekujur bagiannya sudah tersedia di atas keren. Tutupnya kubuka, ternyata sudah diisi air lumayan penuh. Darinya mengepulkan sedikit uap air. Hmm, sudah hangat, tapi sepertinya belum mendidih.. So, lebih baik kudidihkan dulu airnya. Dalam keren sudah ada beberapa batang bambu dan kayu kering yang sudah terbakar. Di manakah korek api berada? Oh, ada di samping keren. Kuambil satu batang korek api, lalu kugesekkan. Menyala! Horeee!!! ^o^ Kudekatkan nyala api ke bambu yang sudah terbakar ujungnya, nyala sebentar, lalu yaah.. mati lagi! Sudah tiga batang korek kunyalakan, tapi masih nihil! 😦 Eh, ada kertas bekas yang bisa buat urup-urup. Kuambil satu lembar kertas, kunyalakan, belum berhasil. Kuambil selembar lagi, kunyalakan, dan alhamdulillaah nyala! Horeee!!!

Menit demi menit berlalu, api harus dijaga biar ndak mati. Kalau kayu/bambu di dalam tungku sudah terbakar habis, tugaskulah untuk nyugokke. Saat yang kutunggu-tunggu akhirnya tiba, air dalam ceret akhirnya mendidih ^_^ Kuseduh satu kantong teh S*r* W*ng* dalam sebuah poci keramik jadul. Kudiamkan beberapa saat. Kuambil cangkir blek bermotif putih-hijau bulat-bulat di kamar simbahku. Kucuci cangkir itu lebih dulu, kutiriskan bentar, lalu kumasukkan empat sendok teh munjung gula pasir ke dalam cangkir itu. Kutuangkan air panas langsung dari ceretnya. Kuaduk-aduk sebentar, lalu kusajikan secangkir teh panas buat simbah putri. “Niki mbah teh panasipun.. Ditengga sekedhap, taksih panas sangat amargi toyanipun sek tas umub..” [Ini nek the panasnya.. Ditunggu sebentar, masih panas sekali karena airnya baru saja mendidih..] begitu kataku pada mbah putri. “Yo kono, delehke kono..” [Ya situ, letakkan situ..], jawab simbahku. Senangnya masak air pakai keren plus kayu bakar, setelah sekian lama berpisah dengannya 😀

Hidup di desa begitu menyenangkan ^_^ Jauh dari bising kendaraan, jauh dari polusi asap kendaraan bermotor, bisa masak air dengan keren + kayu bakar yang mengasyikkan, dan tentunya masih bisa menikmati sajian indah dari Allah berupa suara-suara alam.. Alhamdulillaah.. ^_^

Toragan, 25/05/2011


Keterangan
jugangan: lubang di tanah untuk membuang sampah
kebon suwung: kebun yang tidak ditempati oleh pemiliknya, terdapat pepohonan dan semak belukar
kecelik: tidak berada di tempat yang diperkirakan
mbokdhe: bibi besar, panggilan untuk orang yang lebih tua dari orang tua kita, orant tua kita manggilnya yu (kakak)
Kaget tenan: terkejut sekali
dipan: ranjang
lincak: kursi panjang yang terbuat dari bambu
mbah putri: nenek
keren: tungku dari tanah liat
urup-urup: mengawali menyalakan api
nyugokke: mendorong kayu/ bambu ke dalam tungku
blek: seng/ logam

Tips Menulis Esai untuk Lomba (1)


Alhamdulillah.. Hari ini (22/05) akhirnya saya bisa menunaikan tugas menjadi juri lomba essay pelajar SMA sederajat se-DIY Jateng bersama Nur Fathurahman Ridwan dan bu Ary Kristiyani. Lomba essay ini sendiri merupakan rangkaian dari acara Biocreathiviton 2011 Himpunan Mahasiswa Biologi FMIPA UNY. Pada babak final tadi, 11 orang finalis diberi kesempatan oleh panitia untuk mempresentasikan naskah essay-nya di hadapan dewan juri. Continue reading

Ujian Pendadaran


Suatu episode kehidupan yang masih menjadi impian bagi para mahasiswa yang tengah menyusuri long journey mengerjakan skripsi. Apalagi yang sekarang masih cari ide, cari judul, atau menyusun proposal. Ya, skripsi memang unik, khas dan penuh lika-liku bagi pelakunya. Meski tak semua, namun sebagian besar mahasiswa (sarjana) punya pengalaman yang tiada duanya soal yang satu ini. Continue reading

1st International Conference on Character Education 2011


Dear Colleagues,

We would like to invite you (Lecturer, Researcher, Scientist, Teacher, Undergraduate and Graduate Students) to attend and/or to present your work (Oral and/or Poster Presentation) to the 1st International Conference on Character Education 2011 that will be hosted at Universitas Negeri Yogyakarta (Yogyakarta State University) on 7-8 November 2011. Topics of interest for paper submission include, but are not limited to: Continue reading

Hemat Listrik Sekarang!


Tips berhemat listrik:
Gunakan daya listrik sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan kita.

  • Pilih alat listrik yang hemat energi/ listrik.
  • Aturlah suhu lemari es sesuai dengan kebutuhan, semakin dingin suhunya semakin banyak energi yang diperlukan.
  • Hindari memasukkan makanan/ minuman hangat ke dalam lemari es, isi secukupnya sehingga peredaran udara dingin tidak terhambat. Tutup rapat lemari es dan buka seperlunya. Continue reading

Waspada LEPTOSPIROSIS!


Apakah LEPTOSPIROSIS?
Penyakit Leptospirosis merupakan Zoonosis (penyakit pada hewan yang dapat ditularkan ke manusia) yang diakibatkan bakteri Leptospira.

Di negara tropis insiden tertinggi terjadi selama musim hujan. Umumnya menyerang petani, pekerja perkebunan, pekerja tambang/ selokan, pekerja rumah potong hewan & militer. Penyakit ini perlu lebih diwaspadai pada daerah yang rawan banjir, pasang surut & areal persawahan. perkebunan, dan peternakan.

Sumber penyakit leptospirosis yang utama tikus, dapat pula pada ternak babi, sapi, kambing, serta pada anjing & kucing.

Manusia terinfeksi leptospira melalui Continue reading

Menemukan Makna


Setiap detik peristiwa yang kita jalani menyimpan begitu banyak makna, kalau kita mampu menemukannya. Itu artinya tidak ada satu pun adegan hidup kita yang sia-sia. Allah lah yang menulis skenarionya. Hanya saja, bisakah kita menemukan maksa di balik setiap peristiwa itu? Itu semua bergantung pada kemampuan kita masing-masing. Sedekat apa kita pada sang penulis naskah hidup kita, tentu semakin dekat kita dengan sang penulis naskah maka semakin mudah pula kita menemukan makna.

Continue reading