Mensyukuri Nikmat, Sebuah Refleksi


Sobatku pembaca setia blog ini, mohon maaf yang sebesar-besarnya saya haturkan kepada panjenengan (Anda -red) semua karena dalam bilangan bulan, bahkan tahun (:p) saya tak kunjung mengunggah postingan baru di blog ini. Sungguh waktu terasa berjalan amat lambat ya? #lebay😀

Berikut ini saya sajikan sebuah tulisan yang tak sengaja saya temukan di sebuah folder komputer yang (juga) sudah lama tidak pernah saya buka😀 Tentunya setelah saya edit sana-sini🙂 Meski sudah ditulis sejak beberapa tahun silam, semoga isinya tetap fresh dan bermanfaat. Akhirnya, selamat membaca.. ^_^

***

Sahabat, saudara atau keluarga, baru terasakan keberadaannya bagi diri kita saat mereka telah tiada.. Saat mereka ada, kita asyik dengan diri kita, dengan ego kita, cuek! Diri ini tak pernah merenungkan betapa berartinya mereka bagi kita. Kita baru terhenyak dan sadar akan pentingnya keberadaan mereka saat kita membutuhkan teman dalam memecahkan sunyi yang hinggap atau saat kita benar-benar membutuhkan pertolongan.

Ada sebuah kisah kehidupan seorang wanita paruh baya. Wanita itu memiliki beberapa saudara kandung. Saya tak tahu pasti berapa jumlah saudara kandungnya, tapi yang jelas semua saudara kandungnya telah mendahuluinya ke alam barzah. Ayahnya pun sudah tiada. Meski ia hidup tanpa saudara kandung dan ayah, namun ia masih memiliki seorang ibu.

Seorang anak harus berbakti kepada orangtuanya. Begitu pula dengan wanita dalam kisah ini. Alkisah, karena semua saudaranya telah tiada dan ayahnya pun demikian, maka sang ibu pun tinggal bersama satu-satunya anak kandung yang masih ia miliki. Kurang lebih 20 tahun sang ibu tinggal bersama anak wanitanya yang sudah berkeluarga itu.

Terkadang orang itu semakin lanjut usianya semakin (mendekati) kekanak-kanakan. Tak mau mengalah, mudah marah, tak mau disalahkan, dan merasa paling benar.

Singkat cerita, dalam kurun waktu 20 tahun itu sering terjadi ketidakcocokan antara sang ibu dengan sang anak. Sang ibu menganggap bahwa anak wanitanya yang satu ini masih kecil. Hingga setiap ada masalah, sang ibu sering marah kepada anak wanitanya itu. Pun ketika sang ibu salah, dirinya juga tak mau diluruskan. Namun, ya begitulah orang tua..

Wanita itu berkata, “Ngemong (merawat) orang tua itu lebih susah daripada ngemong bayi. Soalnya kalau bayi pasti menurut dengan apa yang kita lakukan terhadap mereka. Namun orang tua tidaklah demikian. Susah diberi nasihat, karena merasa lebih tua dan lebih benar daripada anaknya.”

Hari demi hari terus dilalui wanita itu beserta anak dan suaminya juga bersama sang ibunda yang usianya semakin lanjut. Dimarahi menjadi makanan sehari-hari. Tetapi sebagai anak yang shalihah, tentu wanita itu tak berani membantah apa yang dikatakan ibunya. Yang bisa ia lakukan hanyalah memohon diberi kesabaran oleh Allah SWT dan selalu beristighfar.

Pada suatu tengah malam sekitar pukul setengah dua belas, sang ibunda meninggalkan anak wanitanya itu untuk selama-lamanya. Inna liLlaahi wa innaa ilaihi raaji’uun.. Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya-lah kami kembali.

Wanita itu baru tersadar akan pentingnya keberadaan sang ibu di sisinya. Setelah sang ibu tiada, ia merasa kesepian. Siapa yang akan menemaninya sepulang bekerja, apalagi sang suami bekerja pada sebuah perusahaan pengeboran minyak lepas pantai. Berada di rumah selama sepekan lalu sepekan berikutnya bekerja di tengah laut. Begitu seterusnya. Ketiga anaknya pun jarang berada di rumah karena kesibukannya sebagai mahasiswa dan pelajar. Tiada lagi sekarang yang bisa menggantikan posisi ibunya.

Walau terkadang sikap ibunya kurang menyenangkan hati, namun tetap saja ada sesuatu yang hilang dari kehidupannya. Siapa lagi yang akan memarahinya ketika ia berbuat salah sementara ibunya telah tiada? Siapa lagi yang akan menyalakan televisi selama 24 jam nonstop setelah ibunya tiada? Barulah terasa rasa rindu itu. Hal-hal yang selama ini menjengkelkan baginya, justru menjadi suatu kerinduan tersendiri.

Ditambah lagi, ketika sang ibu tiada, sang suami sedang bertugas di tengah laut dan tak memungkinkan untuk pulang ke rumah saat itu juga sehingga tak bisa mendampingi ataupun memberikan dorongan moril secara langsung kepada istrinya dalam tabah meghadapi cobaan yang menerpa. Ya, begitulah kehidupan..

Pasti Allah berikan hikmah di balik setiap peristiwa yang terjadi. Baik berupa musibah ataupun nikmat kesenangan. Hanya orang beriman sajalah yang mampu mengambil hikmah di balik setiap peristiwa. Yang jelas, jangan sampai kita tak mensyukuri nikmat (sedikit apapun itu) dari Allah Subhanahu wata’ala karena penyesalanlah ujung dari kelupaan dan kealpaan kita untuk selalu bersyukur. Maka, mari kita syukuri apa yang ada, apa yang telah Allah amanahkan kepada kita, sekecil apapun itu, agar kita tak termasuk orang-orang yang kufur nikmat.. Allahu’alam bishawab.

Zen Muhammad Alfaruq
UPT UNY lantai II, 19 April 2006

*sumber gambar: dari sini

8 responses to “Mensyukuri Nikmat, Sebuah Refleksi

  1. terkadang sesuatu itu terasa lebih berharga jika jauh atau bahkan sudah tidak kita punyai. Berbakti pada orang tua selama itu tidak menentang Allah wajib kita lakukan. Dan semoga mas Zen termasuk yang berbakti pada orang tua dan menjadi anak yang sholeh, punya keturunan sholeh yang senantiasa menegakkan kalimat Tauhid di muka bumi….

    • betul sekali mas, kadang kita merasakan sandal jepit butut yg kita miliki begitu berharga ketika kita kehilangannya..
      aamiin yaa Rabbal’aalamiin.. matur nuwun sanget mas Hanif atas do’anya.. semoga demikian pula dgn mas Hanif sekeluarga🙂

      *btw pas sy mau berkunjung ke blog njenengan, kok muncul tulisan “Bandwidth Limit Exceeded” ya mas?

  2. jauh dari apa yang selama ini menjadi bagian dari hidup kita… kita terasing dalam kesendirian.. semoga ibunda kita, selalu dalam rahmat dan kasih sayangNya

    • aamiin.. jangan terlewatkan do’a utk ibu dan ayah kita dalam setiap do’a seusai shalat fardlu ya akh..
      krn do’a adalah salah satu bentuk kasih sayang kita pd orang tua. bahkan saat mereka telah tiada, do’a mampu menjadi alat komunikasi antara kita dengan orang tua di alam barzah sana..

      matur nuwun sanget kang adhan atas kunjungannya🙂 ditunggu lho kunjungan2 berikutnya.. ^_^

  3. note ini, membuat para pengembara jadi ingin pulang.
    #orang rantau

    • hehe, kalau memang berkesempatan utk pulang maka pulanglah..
      namun jk kesempatan itu belumlah tiba, do’a kita akan menjadi sangat berarti utk kedua orang tua kita🙂
      selamat menjadi orang rantau yg berbakti kpd kedua orang tua yaa ^_^

      matur nuwun sanget mbak wulan atas kunjungannya.. semoga silaturahim ini berbuah pahala🙂

  4. memang ibu…
    tak ada alasan utk tidak mencintainya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s