Istiqamahlah..


Oleh: M Lili Nur Aulia
Saudaraku, hidup kita ini, sesungguhnya hanya meniti jarak menuju titik kematian. Melewati waktu yang kian lama membawa kita pada keadaan yang makin mendekat dengan maut. Menghabisi sisa usia yang terus menerus berkurang dan kian sedikit, hingga mencapai ajal di akhirnya.

Maka, masalah terbesar dan paling serius dari perjalanan ini adalah, ada di mana kaki kita melangkah. Persoalan paling penting selama rentang waktu hidup ini adalah, bagaimana perilaku kita hingga kaki kita ada di ujung batas usia yang tak pernah kita tahu. Orang-orang shalih menyebut proses perjalanan usia yang dilakukan dengan benar hingga ajal dengan ungkapan: istiqamah.

Ibnu Katsir rahimahullah menyebutkan makna istiqamah adalah sikap lurus dan tetap di dalam ketaatan baik secara keyakinan, perkataan, maupun perangai secara terus menerus.

Itulah juga yang dipesankan Rasulullah saw, di kala seorang sahabatnya datang bertanya, “Ya Rasulullah, berikanlah aku wasiat yang tidak akan kutanyakan lagi kepada siapapun setelah engkau sampaikan.” Nabi saw menjawab begitu singkat, “ittaqillaha tsummas taqim.” ‘bertakwalah kepada Allah, lalu istiqamahlah.’

Saudaraku,
Rasulullah saw pun pernah menyatakan, “Surat Hud telah membuat kepala beruban.” Beliau menjawab, “Benar.” Rasulullah saw lalu menjelaskan, bahwa di antara ayat yang menjadikannya seperti itu adalah firman Allah swt, “wastaqim kamaa umirta,” ‘istiqamahlah kamu sebagaimana engkau diperintahkan.’

Barangkali saja ada di antara kita, yang terkadang menganggap sikap istiqamah itu menyulitkan, memberatkan. Padahal Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Tuhan kami adalah Allah,’ kemudian mereka tetap istiqamah, tidak ada rasa khawatir pada mereka, dan mereka tidak (pula) bersedih hati. Mereka itulah para penghuni surga, mereka kekal di dalamnya; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al Ahqaaf 46: 13-14)

Saudaraku,
Sungguh alangkah indahnya jika umur yang tersisa ini, umur yang penuh dengan kasih sayang Allah, hari-hari yang kita lalui selalu sarat dengan maghfirah dan rahmat Allah.

Alangkah indahnya jikalau di sisa umur ini kita menjadi ahli sujud, yang selalu rindu bersujud kepada Allah, alangkah beruntungnya jika lidah ini selalu basah menyebut kalimah Allah, alangkah bahagianya andaikata hari terakhir kita kelak adalah hari yang penuh keikhlasan, apapun yang kita lakukan hanya Allah saja yang kita tuju, hari-hari yang kita jalani adalah hari-hari yang bersemangat untuk memperbaiki diri agar dicintai oleh Allah, hari-hari yang tersisa menjadi hari-hari yang bersemangat untuk mempersembahkan yang terbaik untuk-Nya, agar bisa menjadi bekal pulang.

Alangkah indahnya jikalau hari-hari yang tersisa ini menjadi hari-hari yang penuh dengan kemuliaan, penuh dengan kebaikan, kita menantikan saat kepulangan kita dengan penuh harap agar bisa wafat khusnul khatimah.

Alangkah indahnya jikalau malaikat maut menjemput kelak, tubuh kita sudah bersih dari dosa, aib-aib sudah terhapus, orang-orang yang kita sakiti sudah mau memaafkan kita, tidak ada harta haram yang melekat pada tubuh ini.

Alangkah bahagianya jika malaikat menjemput kelak, tubuh kita terbasuh air wudlu, air mata kita sedang menetes merindukan Allah, lidah kita sedang lirih nan syahdu menyebut nama Allah, keringat bahkan darah kita sedang bersimbah di jalan Allah. Alangkah beruntungnya andaikata saat kepulangan nanti kita benar-benar sudah siap, bekal cukup.

Duhai bahagianya kalau di akhirat nanti kita dipanggil Allah dengan seindah-indah panggilan. Kita dipertemukan oleh-Nya dengan kekasih-kekasih-Nya tercinta, para nabi rasul, juga syuhada’ dan shalihin. Alangkah damainya jika di akhirat nanti kita bertemu dengan Rasul kekasih kita Muhammad saw, hidup bertetangga dengan beliau di surga Allah.

Sebaliknya, alangkah malangnya jika kita mati dalam keadaan tidak terampuni, dosa berlimpah, aib menggunung, kenistaan bagai selimut yang membungkus. Mati dalam keadaan munafik. Mati di saat kita melakukan kemaksiatan dan dosa. Na’udzubillah..

Saudaraku,
Mari tengadahkan tangan dan ucapkan, “Ya Allah tunjukkanlah kami jalan istiqamah dan karuniakan kami khusnul khaatimah..” []


*) Dikutip dengan sedikit perubahan dari Majalah Tarbawi, Edisi 263 Th. 13, Muharram 1433, 1 Desember 2011, hal. 79-80

4 responses to “Istiqamahlah..

  1. aku suka baca ini, edisi Ruhiyat kan mz?
    kalau membaca rubrik itu meski membenarkan, iya- iya yaa.:)

  2. ehhh iya, maksudku mau nulis itu mz. tapi salah tulis kui hehehe.
    udah lah, kemain2 ki lagi g ada pulsa so g posting je.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s