Sudah Bukan Manusia


Akhir-akhir ini kita dipertontonkan oleh penguasa-penguasa dzalim di berbagai belahan bumi, begitu banyak perilaku manusia yang lebih rendah daripada perilaku binatang. Palestina, Rohingnya, Suriah, Mesir bersimbah darah. Para penguasa yang sudah bukan manusia itu menghalalkan berbagai cara untuk terus melanggengkan kekuasaannya. Sepertinya kemanusiaan telah lenyap dari otak dan hati mereka, atau jangan-jangan para penguasa yang super duper dzalim itu sudah tidak punya otak dan hati nurani, yang mereka miliki hanya ambisi, ambisi, dan ambisi. Barangkali iblis dan anak keturunannya sudah berhenti membisiki mereka karena perilaku mereka ternyata lebih parah daripada perilaku iblis dan anak turunnya.

Wanita, anak-anak, orang tua yang tak berdosa menjadi tumbal ketamakan para penguasa dzalim itu. Seolah para penguasa dzalim tak percaya akan adanya siksa neraka. Atau jangan-jangan mereka tidak tahu kalau neraka itu memang ada? Parahnya, para aktivis HAM dan aktivis demokrasi yang selama ini berkoar-koar meneriakkan penegakan HAM dan demokrasi bermuka dua. Mereka seolah lenyap ditelan bumi, lalu sesekali muncul dengan pernyataan-pernyataan yang seolah-olah manis tapi sebenarnya hanya mengamini berbagai kedzaliman yang terjadi.

Negara yang hobby mengaku-aku sebagai polisi dunia tak bisa berbuat banyak untuk memperbaiki keadaan, yang ada justru memperkeruh keadaan dan membenarkan perbuatan para penguasa dzalim itu. Negara-negara yang hobby mengaku-aku dirinya sebagai negara maju pun berlomba-lomba membuat pernyataan menyesatkan. Sungguh ironi menjelang kiamat.

Berbagai media pro kedzaliman seenaknya sendiri memutarbalikkan fakta demi memuaskan ambisi para majikannya. Mereka tutup rapat mata dan hati nurani mereka dari kebenaran yang hakiki. Media pro kedzaliman berjuang untuk uang. Meraup sebesar-sebar fulus dari para majikannya, dari para sponsornya. Semoga pula Allah berkenan membuka pintu hidayah untuk mereka, kembali pada kebenaran.. Namun bila ternyata pintu hidayah itu tertutup bagi mereka, semoga Allah melaknat para wartawan gadungan dan penjahat media yang selalu menyebarkan berita dusta kepada penduduk bumi itu..

Selain ribuan, ratusan ribu, jutaan korban jiwa, jatuh pula korban pemikiran. Tak sedikit orang yang percaya berita yang disiarkan oleh media pro kedzaliman itu sehingga mereka turut membenarkan perbuatan para penjahat perang dan penguasa dzalim itu. dampak awalnya mereka menjadi acuh tak acuh dengan jatuhnya jutaan korban jiwa yang diakibatkan oleh para penguasa dzalim itu. Lambat laun para korban pemikiran itu hatinya membatu, matanya buta dari kebenaran, akhirnya kemanusiaan tak ada harganya lagi. Semoga Allah menyembuhkan para korban pemikiran sehingga mereka bisa melihat serta berpikir dengan jernih tentang apa yang terjadi sesungguhnya, aamiin..

Saya yakin, di balik kejadian yang memilukan dan menguras air mata akhir-akhir ini terdapat banyak hikmah yang dapat kita teguk:

  1. Setiap kedzaliman sekecil apapun pasti akan mendapatkan balasan yang setimpal dari Allah SWT. Allah tidak akan mendzalimi hamba-Nya, jadi siapapun yang telah berbuat dzalim harus siap menerima akibatnya. Mau tidak mau, suka tidak suka, diminta tidak diminta, balasan itu pasti datang. Allah Maha Adil..
  2. Mungkin ini adalah bagian dari cara Allah SWT mematikan orang-orang mukmin sebelum kiamat tiba sehingga saat kiamat tiba tersisalah hanya orang-orang kafir dan munafiq.
  3. Allah menguji sejernih apa perasaan kita? Sejauh mana kepeduliaan kita pada kemanusiaan? Ketika kedzaliman terjadi, bagaimana sikap kita? Tak mau tahu? Acuh tak acuh? Berempati dan peduli? Turut prihatin dan berusaha berbuat sesuatu untuk membantu? Turut mendo’akan dengan setulus hati? Atau justru mendukung perbuatan dzalim para penguasa dzalim itu? Na’udzubillaahi min dzaalik..
  4. Suatu saat nanti, kebenaran akan nampak jelas. Allah SWT akan menampakkan siapa yang benar, siapa yang salah. Jadi kita tak usah khawatir soal yang satu ini karena Allah adalah seadil-adilnya hakim, dan sebaik-baik pembalas tipu daya. Akan tiba saatnya kelak, kebenaran atau kesalahan sangat nampak nyata.
  5. Allah SWT membuka lebar pintu taubat bagi setiap hamba-Nya sebelum ajal menjemput. Namun bila sampai akhir hayat kesempatan taubat tak digunakan, biarlah Allah memberikan keputusan-Nya.

Pertanyaannya, jika seseorang berbuat keji melampaui batas perikemanusiaan namun ia justru menganggapnya sebagai kebenaran, apakah ia masih layak disebut manusia? Menurut saya, ia sudah bukan manusia, ia lebih rendah dari binatang. Bagaimana menurut Anda?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s