Category Archives: Ruhiyah

Apa kabar, Ramadhan?


Sebentar lagi Ramadhan datang, apa yang sudah aku persiapkan?
Membiasakan puasa Senin Kamis, ataukah puasa Daud?
Membiasakan tilawah sehari satu juz?
Membiasakan Qiyamul Lail setiap malam?
Membiasakan shalat Dhuha setiap pagi?
Membiasakan infaq setiap hari meski hanya seratus rupiah atau senyuman?
Mengulang dan menambah hafalan Al Qur’an setiap hari?
Membiasakan introspeksi diri (apa saja yang sudah aku lakukan hari ini)?
Menambah wawasan dengan membaca buku setiap hari meski hanya 1 halaman?
Segera beranjak wudlu dan menuju ke masjid ketika adzan berkumandang?
Menahan diri dari ghibah dan berusaha menundukkan pandangan?
Berpikir positif atas setiap peristiwa yang Allah takdirkan?

Semoga tahun ini aku bisa mengisi Ramadhan dengan amalan sebaik mungkin, Aamiin..
Aku tidak tahu apakah aku bisa ketemu lagi Ramadhan tahun depan?

aku malu


aku malu pada kata ‘maaf’
aku malu pada kata ‘belum’
aku malu pada kata ‘lupa’

terlalu banyak kusebut mereka
untuk menutupi kesalahan
yang aku perbuat

Continue reading

Bercermin pada Anak-anak


ImageMenjadi educator (pendidik) di sekolah dasar bak bercermin pada sebuah cermin besar yang jernih. Perilaku, tutur kata, sikap, dan tingkah laku kita diawasi secara detail oleh para murid. Mereka begitu cermat dan detail dalam mengamati dan begitu berani dalam mengingatkan. Tak ada ewuh pekewuh, kalau salah dibilang salah, kalau benar dibilang benar. Sungguh anugerah besar nan indah bisa berinteraksi dengan anak-anak. Kesabaran kita diuji oleh ALlah melalui mereka. Sejauh mana kita mampu bersabar dalam menghadapi tingkah polah mereka yang tak terduga. Apakah kita tetap sabar atau menyerah pada keadaan? Ya, kinilah saatnya untuk muhasabah diri setiap hari.. BismiLlaah 🙂 Semoga ALlah meridhai..

Adab Mengendalikan Amarah Menurut Islam


REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA–Jangan marah!” begitu sabda Rasulullah SAW dalam sebuah hadis yang diriwayat kan Imam Bukhari.

Dalam kehidupan sehari-hari, setiap orang bisa saja marah. Marah adalah sesuatu yang manusiawi. Lalu apa makna hadis Nabi SAW itu? Ibnu Hajar dalam Fathul Bani menjelaskan makna hadis itu: “AlKhath thabi berkata, “Arti perkataan Rasu lullah SAW ‘jangan marah’ adalah menjauhi sebab-sebab marah dan hendaknya menjauhi sesuatu yang meng arah kepadanya.” Menurut ‘Al-Khaththabi, marah itu tidaklah terlarang, karena itu adalah tabiat yang tak akan hilang dalam diri manusia.

Nah, apa yang harus dilakukan seorang Muslim ketika marah? Continue reading

Dia Sudah Dipanggil Allah


Sungguh, hari ini saya mendapat sebuah pelajaran yang begitu berharga. Kiranya sudilah sahabat pembaca setia ‘catatan peradaban’ menyimak apa yang akan saya sampaikan berikut ini, semoga bermanfaat..

Pagi ini, ponsel saya kehadiran sebuah pesan singkat dari salah seorang sahabat, begini isinya: Continue reading

Bagaimana Sikap Kita Terhadap Dakwah?


“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” (QS. Al Kahfi 18: 28)

Bergabung dalam komunitas dakwah bukan berarti selalu nyaman, karena memang di mana pun kita berada, sudah menjadi sunnatuLlah diciptakan pasangannya. Ada rasa nyaman berarti ada rasa sebaliknya. Namun, yang terpenting adalah bagaimana sikap kita. Ketika terjadi ketidaknyamanan kita rasakan pada sebuah komunitas dakwah, apa yang akan kita lakukan? Tetap menjaga kedekatan kita terhadap komunitas tersebut lantas memperbaiki diri ataukah justru perlahan-lahan menjauh menepi tanpa kompromi? Continue reading

Istiqamahlah..


Oleh: M Lili Nur Aulia
Saudaraku, hidup kita ini, sesungguhnya hanya meniti jarak menuju titik kematian. Melewati waktu yang kian lama membawa kita pada keadaan yang makin mendekat dengan maut. Menghabisi sisa usia yang terus menerus berkurang dan kian sedikit, hingga mencapai ajal di akhirnya.

Maka, masalah terbesar dan paling serius dari perjalanan ini adalah, ada di mana kaki kita melangkah. Persoalan paling penting selama rentang waktu hidup ini adalah, bagaimana perilaku kita hingga kaki kita ada di ujung batas usia yang tak pernah kita tahu. Orang-orang shalih menyebut proses perjalanan usia yang dilakukan dengan benar hingga ajal dengan ungkapan: istiqamah. Continue reading

Mensyukuri Nikmat, Sebuah Refleksi


Sobatku pembaca setia blog ini, mohon maaf yang sebesar-besarnya saya haturkan kepada panjenengan (Anda -red) semua karena dalam bilangan bulan, bahkan tahun (:p) saya tak kunjung mengunggah postingan baru di blog ini. Sungguh waktu terasa berjalan amat lambat ya? #lebay 😀

Berikut ini saya sajikan sebuah tulisan yang tak sengaja saya temukan di sebuah folder komputer yang (juga) sudah lama tidak pernah saya buka 😀 Tentunya setelah saya edit sana-sini 🙂 Meski sudah ditulis sejak beberapa tahun silam, semoga isinya tetap fresh dan bermanfaat. Akhirnya, selamat membaca.. ^_^

***

Sahabat, saudara atau keluarga, baru terasakan keberadaannya bagi diri kita saat mereka telah tiada.. Saat mereka ada, kita asyik dengan diri kita, dengan ego kita, cuek! Diri ini tak pernah merenungkan betapa berartinya mereka bagi kita. Kita baru terhenyak dan sadar akan pentingnya keberadaan mereka saat kita membutuhkan teman dalam memecahkan sunyi yang hinggap atau saat kita benar-benar membutuhkan pertolongan.

Ada sebuah kisah kehidupan seorang wanita paruh baya. Wanita itu memiliki beberapa saudara kandung. Saya tak tahu pasti berapa jumlah saudara kandungnya, tapi yang jelas semua saudara kandungnya telah mendahuluinya ke alam barzah. Ayahnya pun sudah tiada. Meski ia hidup tanpa saudara kandung dan ayah, namun ia masih memiliki seorang ibu.

Seorang anak harus Continue reading

Menikmati Kesadaran


Sungguh nikmat menjalani segala sesuatu yang didasari oleh kesadaran. Bukan karena menggugurkan kewajiban atau karena keterpaksaan. Setiap langkah begitu bermakna, setiap detiknya begitu berarti, dan jiwa ini nyaman dibuatnya. Ketika kita menjalankan shalat wajib karena sadar bahwa shalat itu mencegah kita dari perbuatan keji dan munkar, bahwa shalat itu merupakan penyucian jiwa kita dari dosa-dosa yang telah kita perbuat baik secara sadar ataupun tidak, bahwa shalat itu membawa pada ketenangan batin, maka Continue reading