UFO Super


ufo super

ufo super sedang latihan karate

Perkenalkan salah satu murid saya di SD Intis School Yogyakarta. Ufo merupakan nama panggilannya. Nama lengkapnya Khairu Aufa Dharma. Dia sekarang duduk di kelas L2 Ibnu Rusyd. Ayahnya seorang dokter dan juga dosen Fakultas Kedokteran UII, sedangkan ibunya adalah seorang pengusaha pernak-pernak dan pehobi desain interior.

Ufo anaknya lucu. Ia punya teman akrab, namanya Hadyan. Ketika mereka berdua ketemu, mereka seperti punya dunia sendiri. Hadyan yang pendiam jadi banyak bicara jika bersama dengan Ufo. Ufo sangat suka dipanggil Ufo Super. Ufo baru saja pindah rumah. Rumah baru Ufo sangat unik. Tata letak interiornya tak terduga. Banyak lemari, banyak tangga, banyak pintu, dan semua perabot berbahan kayu di rumah barunya adalah buatan sendiri. Saya berkesempatan berkeliling melihat-lihat interior rumah baru Ufo saat menjenguk Ufo di rumah barunya.

Dialog Perang Lawan Korupsi


Oleh: ROMLI ATMASASMITA (Guru Besar Emeritus Universitas Padjadjaran)

Pertanyaan pertama dalam dialog perang melawan korupsi adalah apakah situasi Indonesia dalam pemberantasan korupsi berada dalam keadaan perang atau damai (penegakan hukum)?

Jawaban yang tepat bahwa saat ini kita tengah berada dalam situasi perang, bukan penegakan hukum. Dari mana diketahui hal ini? Jawabannya dari cara KPK melakukan tugas dan wewenangnya yang luar biasa karena hasil penyelidikan KPK entah melalui sadapan atau rekaman pembicaraan atau karena laporan pengaduan masyarakat dengan cepat KPK dapat menetapkan seseorang menjadi tersangka.

Bagaimana dengan hak orang yang telah ditetapkan sebagai tersangka, dengan cepat KPK selalu mempersilakan menggunakan hak tersangka berdasarkan KUHAP, tapi hanya untuk tersangka, bukan saksi, dan kalau tersangka bertanya apa kesalahannya sehingga ia ditetapkan sebagai tersangka, KPK akan menjawab, silakan saja hak tersangka untuk bicara apa saja nanti dibuktikan di pengadilan.

Dalam hukum perang ada ketentuan yang disebut “just war” yaitu setiap negara boleh menyatakan perang terhadap negara lain asal dilakukan dengan jujur dan terbuka. Kedua, tidak boleh memerangi mereka yang disebut non-combatant (yang tidak ikut perang atau penduduk sipil) kecuali mereka yang disebut kombatan atau pelaku korupsi.

Analog dengan ketentuan hukum perang, apakah KPK telah melakukan semua ketentuan“ hukumperang”? Jawabannya belum karena dengan kewenangannya yang luar biasa tersebut KPK melalui operasi tertangkap tangan (OTT) terhadap siapa saja yang berada pada locus dan tempus delicti tertentu dan sering mengklaim seseorang diduga telah melakukan tindak pidana korupsi, dan dengan UU TPPU juga ada orang lain (non-combatant) yang diduga terlibat (menikmati hasil) korupsi.

Pernyataan KPK sering tanpa ada keterbukaan penuh kepada publik mengenai bagaimana dan mengapanya, kecuali keterangan juru bicara KPK yang mengatakan bahwa hak tersangka untuk bicara apa saja, tetapi KPK telah menemukan bukti kuat yang nanti dibuktikan di pengadilan. ***

Semua perkara korupsi yang ditangani KPK merupakan keberhasilan yang patut diapresiasi tinggi. Semua itu karena menggunakan doktrin perang terhadap korupsi (war on corruption), bukan penegakan hukum terhadap korupsi (law e n fo r c e – m e n t against corruption).

Ini disebabkan memang desain UU KPK sejak awal adalah untuk memerangi korupsi, bukan untuk menegakkan hukum an sichterhadap korupsi. Pertanyaan berikutnya, lalu untuk apa semua hak pembelaan diri tersangka dan untuk apa ada pengadilan tipikor?

Jawabannya, hak membela diri adalah sesuai ketentuan KUHAP dan prinsip praduga tak bersalah. Tetapi, hak tersebut tidak ada artinya dalam perang terhadap korupsi karena yang utama adalah “musuh telah dilumpuhkan” dengan berbagai cara antara lain membuka aib tersangka kepada masyarakat luas jauh sebelum tersangka yang bersangkutan ditetapkan bersalah oleh pengadilan tipikor.

Pertanyaan berikut, untuk apa pengadilan tipikor jika halnya demikian. Pengadilan tipikor dibentuk sebagai wadah menuntaskan pemberantasan korupsi agar fokus dan diadili oleh hakim-hakim khusus memahami UU Korupsi. Dalam praktik beberapa hakim Majelis Pengadilan Tipikor justru bertindak sebagai “algojo” terhadap para terdakwa tipikor, bukan memeriksa dan mengadili berdasarkan ketentuan KUHAP dan keyakinan seyakin-yakinnya dalam perkara korupsi.

Ini terjadi karena, pertama, ada pra-anggapan pada mereka bahwa terdakwa korupsi yang dihadapkan KPK adalah 1000% benar dan 2000% tidak pernah tidak bersalah. Kedua, sejalan dengan hukum perang, jika kami tidak menembak duluan, kami akan menjadi korban duluan.

Siapa “musuh” majelis hakim pengadilan tipikor saat ini yaitu Komisi Yudisial dan sebagian terbesar masyarakat yang pro- KPK, didukung oleh pers bebas, dan siap untuk tunjuk hidung para hakim tipikor sebagai “pengkhianat” (negara) jika putusan bebas atau ringan. Jika hal itu yang terjadi, habislah karier mereka apalagi untuk promosi. ***

Dalam konteks dialog ini saya mengingat pernyataan GeorgeWBush, mantanpresiden AS ketika peristiwa pemboman Gedung WTC, “I know that some people question if America is really in a war at all. They view terrorism more as a crime, a problem to be solved mainly with law enforcement and indictments. …

But the matter was not settled. The terrorist were still training and plotting in other nations, and drawing up more ambitious plans. After the chaos and carnage of September the 11h, it is not enough to serve our enemies with legal papers. The terrorist and their supporters declared war on the United States, and war is what they got”.

Coba terjemahkan pernyataan di atas dengan mengganti kalimat teroris dengan koruptor, dan perhatikan kalimat, “it is not enough to serve our enemies (corruptors, sic) with legal papers”. Sejalan dengan bunyi pernyataan Bush terhadap terorisme, kondisi situasi korupsi saat ini sama dengan perang melawan terorisme di mana tujuan menghalalkan cara, yang sejatinya dilarang dalam proses penegakan hukum dan bertentangan secara diametral dengan prinsip “due process of law”.

Dalam praktik peradilan tipikor, hampir 90% nota pembelaan tidak diperhatikan apalagi dipertimbangkan sungguhsungguh oleh majelis hakim tipikor. Hakim pengadilan tipikor tidak pernah bertanya pada jaksa KPK bagaimana semua barang bukti dan alat bukti diperoleh dalam penyidikan dan juga 99,99% penasihat hukum tidak pernah bertanya mengenai hal tersebut, apalagi mengajukan eksepsi yang memadai dalam pembelaan mereka.

Akurasi fakta hasil penyadapan KPK, 1000% tidak terbantahkan apakah juga semuabuktilainjugamengandung persentase yang sama, belum sungguh-sungguh diuji secara materiil baik oleh hakim tipikor maupun oleh para penasihat hukum.

Jika kondisi peradilan sedemikian, tentu para ahli hukum yang masih memiliki nalar dan nurani yang jernih akan bertanya-tanya bahkan menyarankan tinjau ulang ketentuan hukum acara khusus untuk pemberantasan korupsi jika kedaulatan hukum akan ditegakkan atau biarkan keadaan perang terus berlanjut tanpa reserve. Qua vadis?

Sumber: http://www.koran-sindo.com/node/340637

Sudah Bukan Manusia


Akhir-akhir ini kita dipertontonkan oleh penguasa-penguasa dzalim di berbagai belahan bumi, begitu banyak perilaku manusia yang lebih rendah daripada perilaku binatang. Palestina, Rohingnya, Suriah, Mesir bersimbah darah. Para penguasa yang sudah bukan manusia itu menghalalkan berbagai cara untuk terus melanggengkan kekuasaannya. Sepertinya kemanusiaan telah lenyap dari otak dan hati mereka, atau jangan-jangan para penguasa yang super duper dzalim itu sudah tidak punya otak dan hati nurani, yang mereka miliki hanya ambisi, ambisi, dan ambisi. Barangkali iblis dan anak keturunannya sudah berhenti membisiki mereka karena perilaku mereka ternyata lebih parah daripada perilaku iblis dan anak turunnya.

Wanita, anak-anak, orang tua yang tak berdosa menjadi tumbal ketamakan para penguasa dzalim itu. Seolah para penguasa dzalim tak percaya akan adanya siksa neraka. Atau jangan-jangan mereka tidak tahu kalau neraka itu memang ada? Parahnya, para aktivis HAM dan aktivis demokrasi yang selama ini berkoar-koar meneriakkan penegakan HAM dan demokrasi bermuka dua. Mereka seolah lenyap ditelan bumi, lalu sesekali muncul dengan pernyataan-pernyataan yang seolah-olah manis tapi sebenarnya hanya mengamini berbagai kedzaliman yang terjadi.

Negara yang hobby mengaku-aku sebagai polisi dunia tak bisa berbuat banyak untuk memperbaiki keadaan, yang ada justru memperkeruh keadaan dan membenarkan perbuatan para penguasa dzalim itu. Negara-negara yang hobby mengaku-aku dirinya sebagai negara maju pun berlomba-lomba membuat pernyataan menyesatkan. Sungguh ironi menjelang kiamat.

Berbagai media pro kedzaliman seenaknya sendiri memutarbalikkan fakta demi memuaskan ambisi para majikannya. Mereka tutup rapat mata dan hati nurani mereka dari kebenaran yang hakiki. Media pro kedzaliman berjuang untuk uang. Meraup sebesar-sebar fulus dari para majikannya, dari para sponsornya. Semoga pula Allah berkenan membuka pintu hidayah untuk mereka, kembali pada kebenaran.. Namun bila ternyata pintu hidayah itu tertutup bagi mereka, semoga Allah melaknat para wartawan gadungan dan penjahat media yang selalu menyebarkan berita dusta kepada penduduk bumi itu..

Selain ribuan, ratusan ribu, jutaan korban jiwa, jatuh pula korban pemikiran. Tak sedikit orang yang percaya berita yang disiarkan oleh media pro kedzaliman itu sehingga mereka turut membenarkan perbuatan para penjahat perang dan penguasa dzalim itu. dampak awalnya mereka menjadi acuh tak acuh dengan jatuhnya jutaan korban jiwa yang diakibatkan oleh para penguasa dzalim itu. Lambat laun para korban pemikiran itu hatinya membatu, matanya buta dari kebenaran, akhirnya kemanusiaan tak ada harganya lagi. Semoga Allah menyembuhkan para korban pemikiran sehingga mereka bisa melihat serta berpikir dengan jernih tentang apa yang terjadi sesungguhnya, aamiin..

Saya yakin, di balik kejadian yang memilukan dan menguras air mata akhir-akhir ini terdapat banyak hikmah yang dapat kita teguk:

  1. Setiap kedzaliman sekecil apapun pasti akan mendapatkan balasan yang setimpal dari Allah SWT. Allah tidak akan mendzalimi hamba-Nya, jadi siapapun yang telah berbuat dzalim harus siap menerima akibatnya. Mau tidak mau, suka tidak suka, diminta tidak diminta, balasan itu pasti datang. Allah Maha Adil..
  2. Mungkin ini adalah bagian dari cara Allah SWT mematikan orang-orang mukmin sebelum kiamat tiba sehingga saat kiamat tiba tersisalah hanya orang-orang kafir dan munafiq.
  3. Allah menguji sejernih apa perasaan kita? Sejauh mana kepeduliaan kita pada kemanusiaan? Ketika kedzaliman terjadi, bagaimana sikap kita? Tak mau tahu? Acuh tak acuh? Berempati dan peduli? Turut prihatin dan berusaha berbuat sesuatu untuk membantu? Turut mendo’akan dengan setulus hati? Atau justru mendukung perbuatan dzalim para penguasa dzalim itu? Na’udzubillaahi min dzaalik..
  4. Suatu saat nanti, kebenaran akan nampak jelas. Allah SWT akan menampakkan siapa yang benar, siapa yang salah. Jadi kita tak usah khawatir soal yang satu ini karena Allah adalah seadil-adilnya hakim, dan sebaik-baik pembalas tipu daya. Akan tiba saatnya kelak, kebenaran atau kesalahan sangat nampak nyata.
  5. Allah SWT membuka lebar pintu taubat bagi setiap hamba-Nya sebelum ajal menjemput. Namun bila sampai akhir hayat kesempatan taubat tak digunakan, biarlah Allah memberikan keputusan-Nya.

Pertanyaannya, jika seseorang berbuat keji melampaui batas perikemanusiaan namun ia justru menganggapnya sebagai kebenaran, apakah ia masih layak disebut manusia? Menurut saya, ia sudah bukan manusia, ia lebih rendah dari binatang. Bagaimana menurut Anda?

Kompetisi Hari Pendidikan Nasional 2013


Assalamu’alaykum sobat pembaca setia Catatan Peradaban.. Lama sekali ya saya tidak posting? Fiuhh, sekarang saya sok sibuk soalnya, jadi lama absen dari wordpress. Oiya sobat, ada kompetisi seru nih! Ikutan, yuk!

Dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional, Pengelola Guraru.Org akan mengadakan dua kegiatan yaitu:#BelajarSeru dan Kompetisi Menulis. Siapapun boleh berpartisipasi! Berikut informasi selengkapnya: Continue reading

Intis Mancing Mania


Beginilah suasana pemancingan Intis..

intis_mancing_mania

aku malu


aku malu pada kata ‘maaf’
aku malu pada kata ‘belum’
aku malu pada kata ‘lupa’

terlalu banyak kusebut mereka
untuk menutupi kesalahan
yang aku perbuat

Continue reading

Guru yang Cerdas


Guru yang cerdas adalah guru yang mampu menyadarkan muridnya bahwa belajar itu penting dan kebutuhan pokok manusia yang harus dipenuhi dalam kondisi apapun. Ia bisa menyemai mimpi di benak anak-anak didik mereka, yang bila tumbuh subur akan menjadi bahan bakar proses menuju kesuksesan di dunia dan akhirat..

Jln Monjali-Ring Road Utara Yogyakarta di sela-sela kemacetan senja.
Jum’at Kliwon, 28 September 2012 pkl 17.50 WIB.

Bercermin pada Anak-anak


ImageMenjadi educator (pendidik) di sekolah dasar bak bercermin pada sebuah cermin besar yang jernih. Perilaku, tutur kata, sikap, dan tingkah laku kita diawasi secara detail oleh para murid. Mereka begitu cermat dan detail dalam mengamati dan begitu berani dalam mengingatkan. Tak ada ewuh pekewuh, kalau salah dibilang salah, kalau benar dibilang benar. Sungguh anugerah besar nan indah bisa berinteraksi dengan anak-anak. Kesabaran kita diuji oleh ALlah melalui mereka. Sejauh mana kita mampu bersabar dalam menghadapi tingkah polah mereka yang tak terduga. Apakah kita tetap sabar atau menyerah pada keadaan? Ya, kinilah saatnya untuk muhasabah diri setiap hari.. BismiLlaah :) Semoga ALlah meridhai..

Mulianya Ramadhan


Hari esok kita berpuasa
setahun sekali hanya sebulan
sempatkah kita menyempurnakan
hingga sampai ke penghujungnya?

Sebulan Ramadhan kita berpuasa
menahan diri dari lapar dahaga
menekan nafsu bermaharajalela
melatih diri beramal sentiasa
Continue reading