Alhamdulillahirabbil’aalamiin… akhirnya blog ini bisa aktif kembali setelah sempat diblokir sama wordpress gara2 pasang link afiliasi T.T
Alhamdulillah…
September 30, 2009 oleh Zen Muhammad AlfaruqIklan Politik dan Nasib Suatu Bangsa
November 25, 2008 oleh Zen Muhammad AlfaruqQui se laudari gaudent verbis subdolis, sera dat poenas turpes paenitentia (Barangsiapa gembira dengan kata-kata penuh tipuan, maka penjelasan yang terlambat akan memberikan hukuman yang memalukan) (Phaedrus 15 BC – AD 50)
Political marketing, sebagai rangkaian kegiatan memasarkan cita-cita politik untuk mendapatkan dukungan publik, tidak dapat dihindarkan dalam kehidupan demokratis.
Puluhan parpol yang muncul sejak reformasi sangat memerlukan instrumen, metode, serta strategi untuk mewujudkan ideologi partai. Salah satu rangkaian penting dari political marketing adalah iklan politik. Sebagaimana layaknya pariwara, advertensi mempunyai kecenderungan manipulatif. Ia mengemas produknya dengan menyelimuti kekurangan agar konsumen tertarik meskipun produk yang ditawarkan mungkin hanya mempunyai kualitas yang standar.
Oleh sebab itu, sering kali iklan dapat mengecoh, bahkan kadang-kadang menyesatkan konsumennya.
Iklan politik mirip dengan reklame produk komersial. Tujuannya adalah membuat citra tokoh yang ditawarkan sebagai pilihan yang paling tepat. Tidak jarang masyarakat diberi iming-iming bahwa tokohnya mampu ”menyulap” kesengsaraan menjadi kemakmuran dalam sekejap.
Namun, perlu dicamkan bahwa promosi produk komersial mempunyai perbedaan yang sangat esensial dengan produk politik. Iklan komoditas komersial hanya memperkenalkan barang dagangan yang dikonsumsi secara pribadi dan tidak akan memengaruhi kehidupan masyarakat secara keseluruhan.
Sementara komoditas politik adalah tokoh atau lembaga politik (parpol) yang akan menerima mandat kekuasaan dari rakyat. Oleh karenanya, karena berhubungan langsung dengan siapa yang akan dipercaya menjadi pemegang kekuasaan, iklan politik berpengaruh besar terhadap nasib dan masa depan bangsa.
Sayangnya, belum ada lembaga konsumen yang melindungi kepentingan publik dari akibat buruk iklan politik sehingga kontrol sosial diperlukan.
Pariwara politik terbukti dapat menjadi sarana ampuh membentuk dan menggiring persepsi masyarakat. Iklan politik dapat mengubah seorang politisi medioker menjadi pemimpin karismatik.
Yang terjadi adalah ironi politik. Mereka yang bekerja keras, mempunyai kompetensi dan kapabilitas, terpaksa kalah dari mereka yang populer. Dampak berikutnya, rakyat yang sudah lama mendambakan pemimpin yang dapat membebaskan mereka dari segala penderitaan akan sangat mudah menerima iklan politik.
Tunduk pada pemodal
Persoalan sangat serius akibat meningkatnya iklan politik adalah pemilih menjadi sekadar konsumen yang harus tunduk pada kepentingan pemilik modal. Selain itu, advertensi politik telah mereduksi negara menjadi korporasi (badan hukum usaha) yang hanya mengurus dan mengalkulasi untung dan rugi.
Hanya warga negara yang mempunyai modal besar dapat menentukan arah dan perkembangan bangsa. Padahal, ranah politik seharusnya menjadi domain pertarungan ide dan keberpihakan untuk mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur tanpa membedakan status dan struktur sosial.
Pilihan yang hanya berdasarkan advertensi politik tanpa mengetahui rekam jejak, intelektualitas, dan integritas seorang politisi, akan sangat membahayakan bangsa dan negara.
Sangat benar keprihatinan Buya Syafii Maarif di harian Kompas (22/11) yang menyatakan, politik tanpa moral hanya akan melahirkan ”serigala-serigala” yang akan saling memakan. Karena itu, iklan politik harus dapat menjelaskan gagasan secara utuh kepada masyarakat.
Hal itu sangat mungkin karena masa kampanye Pemilu Legislatif 2009 akan berlangsung selama sembilan bulan, jauh lebih lama dibandingkan Pemilu 2004 yang hanya satu bulan.
Namun, iklan politik bukan tanpa sesuatu yang positif. Jika disertai dengan gagasan yang utuh, memerhatikan etika, dan menghindari hal-hal yang menimbulkan keresahan dan permusuhan, ia adalah sarana yang cukup baik untuk melakukan promosi politik.
Advertensi politik juga dinilai lebih efektif dan aman bagi masyarakat dibandingkan dengan pengerahan massa.
Meski demikian, adalah kewajiban moral media, selain menjaga netralitas, juga diharapkan mampu menyediakan informasi yang cerdas sehingga masyarakat dapat memperoleh masukan yang seimbang. Dengan demikian, iklan politik tidak sekadar promosi tokoh, tetapi juga merupakan bagian dari upaya mewujudkan peradaban bangsa.
Dikutip sebagaimana aselinya dari www.kompas.com
“Setelah Kemenangan Barack Hussein Obama”
November 18, 2008 oleh Zen Muhammad AlfaruqBanyak orang menyambut gembira kemenangan Barack Hussein Obama. Apakah mungkin seorang Obama akan mampu mengubah kebijakan terhadap Israel semacam ini? Baca Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian Husaini ke-248
Oleh: Adian Husaini
Rabu (6 November 2008) siang waktu Indonesia, Barack Hussein Obama akhirnya jadi Presiden Amerika Serikat ke-44. Dunia gembira. Sorak sorai di mana-mana. Tak sedikit yang mengucurkan air mata. Anak imigran berkulit hitam keturunan Afro-Amerika berhasil menjebol tembok rasialis yang kokoh tertanam 232 tahun sejak Amerika merdeka, 1776.
Tak terkecuali di Indonesia. Sejumlah stasiun TV menayangkan saudara-saudara dan kawan-kawan Obama yang bersuka cita, bangga, berurai air mata bahagia menyambut kemenangan Obama. Dia pun dapat julukan mentereng: ’anak Menteng’. Syahdan, dia pernah tinggal 3,5 tahun di Indonesia.
Ya, Obama membuat sejarah. Di Amerika dan di dunia. Umat Islam pun turut gembira. Sejumlah tokoh yang biasa muncul di media mengumbar kata-kata penuh harap. Obama akan beda dengan pendahulunya, George Bush, yang sering dijuluki sang pengumbar angkara. Obama akan mau bicara; bukan hanya mengumbar senjata.
Obama muncul ketika dunia sedang sakit. Amerika sakit. Eropa sakit. Indonesia juga sakit. Krisis ekonomi, kerusakan lingkungan, perang yang tiada henti, semakin membuat banyak penduduk bumi frustrasi. Cara apalagi yang bisa digunakan untuk menyulap dunia menjadi rumah damai? Banyak yang kemudian putus asanya. Patah arang.
Padahal, dunia sedang merindukan obat mujarab untuk keluar dari krisis. Dan Obama muncul pada saat yang tepat. Penampilannya luar biasa. Pidatonya menyihir milyaran umat manusia. Dia mengawali pidato dengan kata-kata memukau: “If there is anyone out there who still doubts that America is a place where all things are possible, who still wonders if the dream of our founders is alive in our time, who still questions the power of our democracy, tonight is your answer”.
Luarrr biasa! Jika ada yang masih ragu bahwa di Amerika segala sesuatu bisa terjadi, kata Obama, maka dia sudah membuktikannya! Dia bisa jadi Presiden Amerika dalam usia belia. Keturunan warga kulit hitam yang ratusan tahun dijadikan sebagai budak dan diinjak-injak, justru kemudian membalik sejarah. Dia menjadi pemimpin negara adikuasa. Itu Obama bin Hussein!
Jangan terlalu berharap!
Kemenangan Obama tentu menyiratkan harapan besar. Setidaknya, masih ada yang bisa diharap. Tapi, untuk mengubah kebijakan luar negeri AS, bukanlah perkara mudah. Mantan pejabat Deplu Amerika, William Blum, dalam bukunya Rouge State: A Guide to the World’s Only Superpower (2002), pernah mengajukan resep untuk mengakhiri kemelut internasional dan menciptakan rasa aman bagi warga AS: (1) minta maaf kepada semua janda dan anak yatim, orang-orang yang terluka dan termiskinkan akibat ulah imperialisme AS, (2) umumkan dengan jiwa tulus ke seluruh pelosok dunia, bahwa intervensi global AS telah berakhir (3) umumkan bahwa Israel tidak lagi menjadi negara bagian AS yang ke-51 (4) potong anggaran belanja pertahanan AS, sekurangnya 90 persen.
Kata Blum, itulah program tiga harinya di Gedung Putih, andaikan dia diangkat menjadi Presiden AS. Hanya saja, katanya, “On the fourth day, I’d be assassinated.”
Blum menggambarkan betapa peliknya problem politik luar negeri AS. Sifat ofensifnya sudah sangat mencengkeram dunia. Tidak mudah bagi Presiden siapa pun untuk mengubah tradisi imperialistik semacam itu. Film JFK garapan Oliver Stone menggambarkan bagaimana terbunuhnya John F. Kennedy juga tak lepas dari benturannya dengan ’kepentingan besar’ tersebut. Mampukah Obama membuat sejarah baru dalam hal ini? Kita tunggu saja! Toh, dia sudah berpidato: ”America is a place where all things are possible.”
Rumus serupa juga pernah disampaikan perumus teori dependensia dan strukturalisme, Prof Johan Galtung, dalam wawancaranya dengan harian Kompas di Jakarta (17/11/2002). Ketika itu, Galtung ditanya tentang penyelesaian soal peristiwa 11 September 2001 dan program perang melawan terorisme yang dipimpin Amerika Serikat (AS). Jawab Prof. Galtung: “Dibanding serangan yang pernah dilakukan teroris, terorisme negara yang dilakukan AS jauh lebih berbahaya karena menggabungkan fundamentalisme agama dan fundamentalisme pasar. Serangan AS terhadap Afganistan memenuhi kriteria tindakan teroris.”
Penerima Right Livelihood Award tahun 1987 ini mengaku berulangkali menjawab pertanyaan soal serangan 11 September 2001: “Tangkap pelakunya dan ubah kebijakan luar negeri AS!” Ia juga berkirim surat kepada Presiden AS George W Bush – yang isinya meminta AS mengubah politik luar negeri, mengakui negara Palestina, meminta maaf karena sering mencampuri urusan negara lain, melanggar hukum internasional, dan tidak menghormati Islam. Tapi, suratnya, memang tidak digubris. “Saya tidak tahu apakah Bush membaca surat itu. Tetapi, yang dilakukan justru sebaliknya,” ujarnya.
Imperialisme Barat yang melahirkan kezaliman global, seperti yang dinyatakan Blum bukanlah isapan jempol belaka. Mengutip pendapat Prof. Noam Chomsky, dalam bukunya, Year 501: The Conquest Continues, Ketua Just World Trust (JUST) Malaysia, SM Mohammed Idris menulis:
“Penaklukan bagi Dunia Baru, dalam sejarah peradaban, telah berakibat pada dua katastrofi demografik yang sangat luas, yang tidak saling berkaitan: pemusnahan yang sungguh-sungguh atas penduduk susku-suku asli yang tinggal di kawasan Barat dan penghancuran bangsa-bangsa Afrika dengan memperbudak penduduknya dan memperjualbelikannya dalam ekspansi besar-besaran demi memenuhi keserakahan para penakluk… Ketika keadaan telah berubah, tema fundamental dari penaklukan tetap bertahan dalam vitalitas dan daya lentingnya, dan akan terus berlanjut sedemikian sehingga dalam kesadaran tentang sebab-sebab ketidakadilan nan ganas yang betul-betul dikemukakan secara jujur dan terbuka.” (Lihat, Candra Muzaffar dkk., Human’s Wrong: Rekor Buruk Dominasi Barat atas Hak Asasi Manusia, (Yogya: Pilar Media, 2007), hal. 446).
Untuk mempertahankan hegemoninya, berbagai instrumen – politik, ekonomi, budaya, ideologi, militer – digunakan. Hingga kini, meskipun didesak sebagian besar negara-negara dunia, AS dan sekutunya tetap enggan melepas hak istimewa ’veto’ di PBB. Hak istimewa atas penguasaan persenjataan nuklir juga terus dipertahankan. Sebab, AS dan sekutunya memang memposisikan diri sebagai ”malaikat” dan musuh-musuh mereka diposisikan sebagai ”poros setan” (axis of evil). Dalam kasus dunia Islam, hak istimewa Negara Yahudi Israel tetap dilindungi, meskipun laporan kebiadaban dan pelenggaran HAM Israel telah menumpuk di markas PBB. Setiap Presiden AS – baik dari Partai Demokrat atau Republik – masih tetap menjalankan politik luar negeri yang tidak masuk akal dalam membela negara zionis tersebut.
Literatur yang mengupas hubungan spesial antara AS dan Israel sangat melimpah. Bernard Reich, misalnya, dalam artikelnya berjudul ‘The United States and Israel: The Nature of a Special Relationship’ (yang dimuat dalam buku The Middle East and The United States: A Historical and Political Reassessment (ed. David W. Lesch), Westview Press, 1996), menggambarkan tradisi tiap Presiden AS untuk membuat pernyataan berisi komitmen untuk mempertahankan hubungan spesial antara AS dan Israel. Berbagai upaya perdamaian Israel-Palestina pertama kali harus menjamin kepentingan Israel. untuk
Presiden Bill Clinton, misalnya, membuat pernyataan: “In working for peace in the Middle East, a first pillar is the security of Israel.”
Bantuan-bantuan AS terhadap Israel yang sangat fantastis diungkap oleh Paul Findley dalam bukunya Deliberate Deceptions: Facing the Facts about the US-Israeli Relationship. Setiap tahun, negara Yahudi berpenduduk sekitar 6 juta jiwa ini menerima bantuan AS yang jumlahnya melampaui bantuan yang diberikan pada negara-negara lainnya. Sejak tahun 1987, bantuan ekonomi dan militer langsung berjumlah 3 milyar USD atau lebih. Antara 1949 sampai akhir 1991, pemerintah AS telah memberikan dana senilai 53 milyar USD kepada Israel dalam bentuk bantuan maupun keuntungan-keuntungan istimewa. Jumlah itu setara dengan 13 persen dari semua bantuan ekonomi dan militer AS ke seluruh dunia dalam kurun yang sama. Sejak perjanjian damai Mesir-Israel tahun 1979 sampai 1991, jumlah total bantuan AS ke Israel mencapai 40,1 milyar USD, atau setara dengan 21,5 persen dari semua bantuan AS, termasuk semua bantuan bilateral maupun multilateral. Tahun 1992, Senator Robert Byrd dari Virginia Barat, mengungkapkan data-data yang menunjukkan begitu royalnya bantuan AS kepada Israel. Dia katakan: “Kita telah memberikan bantuan luar negeri kepada Israel selama beberapa dasawarsa dengan jumlah dan syarat-syarat yang belum pernah diberikan kepada satu negeri mana pun di dunia ini. Sekutu-sekutu Eropa kita, sebagai perbandingan, hampir tidak memberikan apa-apa.”
Apakah mungkin seorang Obama akan mampu mengubah kebijakan terhadap Israel semacam ini? Hingga kini, tanda-tanda itu belum ada sama sekali! Kondisi internal politik AS, kekuatan lobi Yahudi, dan dinamika politik dalam negeri Israel sendiri, beberapa kali menjadi faktor penghambat pembentukan negara Palestina merdeka. Perjanjian Camp David II di Presiden Clinton berakhir dengan kegagalan. Presiden George W. Bush sempat berkoar akan merealisasikan pembentukan negara Palestina tahun 2005. Tapi, ujungnya juga kegagalan. Memang, secara substansial, Obama diduga akan sama saja dengan pendahulunya. Tapi, apa salahnya berharap ada perubahan. Toh Obama sudah terlanjur bicara: “America is a place where all things are possible.”
Soal Palestina dipandang oleh berbagai kalangan sebagai isu terpenting dalam penyelesaian masalah terorisme. Berbagai pemimpin dunia Islam sudah mengimbau agar AS mengubah kebijakan anti-terornya yang jelas-jelas menganakemaskan Israel. Kelompok perlawanan Hamas dicap sebagai teroris. Sedangkan Israel justru diangkat sebagai sekutu utama dalam pemberantasan terorisme. Bahkan, Prof. Chomsky sendiri tak segan-segan mengkritik negaranya: “We should not forget that the US itself is a leading terrorist state.”
Masalahnya lebih pelik ketika isu terorisme bukanlah isu yang harus diselesaikan, tetapi justru isu yang direkayasa untuk memberikan justifikasi keberlangsungan industri persenjataan di AS. Jika tidak ada musuh lagi, peperangan tiada lagi, bagaimana nasib industri senjata? Maka, tidaklah berlebihan, ketika Huntington menulis dalam buku populernya, The Clash of Civilizations and the Remaking of World Order (1996), bahwa keberadaan musuh harus tetap dipertahankan. ”For self definition and motivation people need enemies,” tulis Huntington.
Pasca Perang Dingin, hubungan AS-Dunia Islam bahkan lebih pelik lagi. Strategi preemptive strike (serangan dini) yang dijalankan AS semakin menggencarkan penyebaran paham liberal keagamaan di dunia Islam. AS mengucurkan dana besar-besaran kepada kelompok-kelompok dan kalangan Muslim tertentu untuk membangun apa yang disebutnya sebagai ’Islam progresif’. Isu-isu liberalisasi, kesetaraan gender, pluralisme agama, multikulturalisme, dan sebagainya menjadi isu-isu favorit bagi AS dan LSM-LSM bentukannya.
Dalam masalah ini, AS bertindak lebih jauh dibanding kolonial Belanda dulu. Kebijakan untuk mengubah kurikulum dan pemikiran Islam dijadikan sasaran penting oleh AS dan negera-negara Barat lain. Ini pernah diungkapkan oleh Menhan AS, Donald Rumsfeld. Dengan alasan membendung arus terorisme, Donald Rumsfeld, pada 16 Oktober 2003, meluncurkan sebuah memo: “AS perlu menciptakan lembaga donor untuk mengubah kurikulum pendidikan Islam yang radikal menjadi moderat. Lembaga pendidikan Islam bisa lebih cepat menumbuhkan teroris baru, lebih cepat dibandingkan kemampuan AS untuk menangkap atau membunuh mereka. (Republika, 3/12/2005).
Karena itu, tidak mudah bagi Obama untuk keluar dari ’jaring-jaring kebijakan global’ seperti ini. Banyak pemimpin Barat yang menghendaki umat Islam mengubah pikirannya agar menyesuaikan diri dengan ’dunia modern’. Dan tanpa disuruh pun, sudah banyak kalangan cendekiawan yang sudah menjalankan perintah Barat, karena keberhasilan program ’cuci otak’. Maka tidak heran, jika ekspor paham liberal ke tengah-tengah umat Islam tampaknya akan berjalan terus. Apalagi, Partai Demokrat pun memiliki kebijakan moral dan agama yang lebih liberal dibanding Republik. Bisa-bisa, politik belah bambu akan terus dijalankan: kelompok-kelompok liberal di Indonesia akan semakin diangkat ke atas, dan kaum non-liberal semakin diinjak.
Identitas keislaman Obama bisa menjadi batu sandungan psikologis bagi dirinya. Tudingan bahwa dirinya akan lebih mendekat ke Islam, malah bisa membuat dia ingin menunjukkan sikap sebaliknya. Setidaknya, Obama akan bersikap jauh lebih hati-hati dalam soal Islam. Maka, dalam kaitan ini, Obama diduga tidak akan banyak berbeda dengan pendahulunya. Politik Islam AS tetap berpegang pada norma internasional: diabdikan untuk kepentingan nasionalnya sendiri. Jadi, tidaklah realistis berharap terlalu banyak pada Obama. Hanya saja, sekali lagi, boleh-boleh saja berharap sedikit. Toh, Obama sudah terlanjur berkata, di Amerika, segala sesuatu mungkin saja terjadi: “America is a place where all things are possible.”
Jadi, dalam situasi yang berat tersebut, umat Islam sebaiknya tidak terlalu berharap serius pada seorang Obama. Kemenangan Obama adalah sebuah drama (tontonan) yang menarik. Ibarat obat sakit kepala, Obama bisa meringankan pusing sejenak. Nantinya, entahlah! Tentu, lebih menarik andaikan tontonan ini dilanjutkan ke babak berikutnya: Obama bin Hussein bertemu dengan Osama bin Ladin. Dua tokoh puncak dunia bertemu. Dunia mungkin akan segera damai. Pabrik senjata gulung tikar. Tentara AS pulang kandang. Ini memang mimpi. Tapi, bukankah kata Obama, di AS semua bisa terjadi dan AS juga dibangun oleh mimpi para pendirinya?
Maka, tidak ada salahnya, kita bermimpi di atas mimpi. Toh mimpi masih bebas pajak di negara Republik Indonesia. [Depok, 7 November 2008/www.hidayatullah.com]
Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian Husaini adalah hasil kerjasama antara Radio Dakta 107 FM dan www.hidayatullah.com
Diambil secara utuh dari www.hidayatullah.com edisi Senin, 10 November 2008.
Dakwah Tauhid Tidak Up To Date Lagi?
Mei 14, 2008 oleh Zen Muhammad AlfaruqAssalamualaikum
Membaca jawaban tentang ‘apakah ustad anti wahabi?’ apakah betul ustad bahwa dakwah tauhid sudah tidak up to date lagi. bukankah yang menjadi prioritas utama para nabi adalah tauhid, baru yang lain.
Saya pernah membaca tulisan syaikh al-albani bahwa dakwah tauhid adalah prioritas pertama dan utama. lantas bagaimana dengan berpartai ustad apakah ada landasannya. terimakasih sebelumnya ustad
Dwi Mardani
dwi.mardani@gmail.com
Jawaban
Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Mungkin kita perlu bedakan cara kita memandang masalah ini. Istilah dakwah tauhid sudah tidak ‘up to date‘ harus dilihat pengertianya secara luas, bukan dicari-cari celah kelemahannya.
Maksudnya tentu bukan mengecilkan upaya untuk membenahi tauhid umat Islam. Sama sekali tidak. Sebab dalam struktur kehidupan, tauhid landasan hidup kita. Di mana tanpa tauhid yang benar, jelas sekali kita tidak bisa masuk surga.
Akan tetapi yang kami maksud dengan istilah ‘up to date’ sungguh jauh dari pengertian ini. Up to date sesuai dengan makna yang sering kita gunakan, adalah sesuatu yang paling baru dan berkembang di tengah masyarakat.
Misalnya, ada mode pakaian yang up to date, artinya mode pakaian itu baru saya diluncurkan dan menjadi trend pada saat ini. Begitu juga dengan jenis handphone, begitu berlomba para produsen untuk mengeluarkan produk terbaru, dengan fasilitas terbaru, dengan harga terbaru juga tentunya, sehingga dikatakan handphone itu ‘up to date’.
Istilah ‘up to date’ mengesankan adanya dinamika dan perubahan terus menerus, dari sebelumnya ke yang sudahnya. Yang tadinya up to date, seiring dengan berjalannya waktu, berubah menjadi usang dan kuna, karena ditinggalkan oleh orang. Dan karena sudah ada lagi produk terbaru yang lebih ‘up to date’.
Nah, permasalahan umat sejak dari masa nabi yang di masa lampau juga selalu berganti. Dan kalau kita perhatikan, permasalahan itu berbeda-beda pada tiap nabi.
Misalnya, urusan mengenal Allah (ma’rifatullah) dari bertuhan yang banyak, kasusnya lebih dominan dalam kisah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Bahkan beliau sendiri terlibat dalam pencarian sosok Allah SWT. Setelah sebelumnya beliau beranggapan bahwa bintang, bulan dan matahari adalah Allah SWT.
Nabi Luth
Tema besar Nabi Luth ‘alahissalam adalah masalah homoseksual dan lesbianisme. Kaumnya, Sodom, adalah penemu pertama prilaku liar yang bahkan binatang sekali pun tidak pernah melakukannya.
Kalau kita perhatikan, maka kaum ini kemudian dihancurkan karena pelanggaran masalah syariah yang satu ini. Bukan karena mereka meramal, datang ke dukun, atau karena berpaham asy’ariyah dan maturidiyah. Mereka tidak pernah meributkan urusan kalam Allah, apakah makhluq atau bukan makhluq. Mereka dihancurkan karena melakukan perbuatan homoseksual.
Salah besar kalau ada yang beranggapan dihancurkannya kaum Sodom karena syirik kepada Allah. Tema besar kaum ini bukan pada urusan syirik. Kenapa harus dipaksa-paksa harus syirik.
Kutukan Menjadi Kera
Sedangkan dosa penduduk yang tinggal di pinggir laut di masa Bani Israil adalah karena melanggar larangan bekerja di hari Sabtu. Allah SWT telah menetapkan bahwa hari Sabtu adalah hari ibadah, di mana mereka wajib meninggalkan semua urusan duniawi, masuk ke dalam shauma’ah (tempat ibadah orang yahudi) untuk ibadah kepada Allah.
Namun mereka melakukan pelanggaran dan berkilah dengan beragam teknik agar tetap bisa menangkap ikan di hari Sabtu.
Maka atas pelanggaran ini, Allah SWT mengutuk mereka menjadi kera yang hina. Dan kisah mereka diabadikan di dalam Al-Quran Al-Kariem.
Dan sesungguhnya telah kamu ketahui orang-orang yang melanggar di antaramu pada hari Sabtu, lalu Kami berfirman kepada mereka, “Jadilah kamu kera yang hina.” (QS. Al-Baqarah: 65)
Coba perhatikan, apakah kasus mereka ini kasus pelanggaran tauhid dan akidah? Ataukah pelanggaran masalah syariah?
Kalau pikiran kita terang, tidak mungkin kita bilang bahwa pelanggaran ini termasuk kasus aqidah. Jelas sekali pelanggaran yang mereka lakukan adalah pelanggaran fiqhiyah. Pelanggaran untuk tidak bekerja di hari Sabtu.
Mereka tidak dihukum dan dikutuk menjadi kera karena datang ke dukun, atau tukang ramal, atau karena melakukan bid’ah, atau karena ikut kelompok paham akidah tertentu yang sering dituduh sesat. Tidak, sama sekali tidak. Mereka melanggar larangan bekerja di hari Sabtu, yang tidak ada kaitannya dengan tema akidah.
Apakah kita masih mau paksakan untuk mengubah sejarah yang sudah terjadi?
Nabi Isa
Tema besar dakwah Nabi Isa ‘alaihissam juga bukan masalah tauhid. Yang kita ketahui tema besarnya justru masalah dunia pengobatan dan penyembuhan. Lewat mukjizat dari Allah SWT, Al-Masih itu bisa mengusap orang sakit dan langsung sembuh. Kalau dia mengusap jenazah yang terbujur kaku, maka jenazah itu atas izin Allah SWT, bisa hidup lagi.
Dan aku menyembuhkan orang yang buta sejak dari lahirnya dan orang yang berpenyakit sopak; dan aku menghidupkan orang mati dengan seizin Allah.” (QS. Ali Imran: 49)
Jelas sekali tidak ada urusan masalah tauhid ketika Nabi Isa masih hidup. Urusan masalah tauhid tentang Nabi Isa justru terjadi sepeninggal beliau, ketika orang-orang mulai menjadikan dirinya anak tuhan.
Kesimpulan:
1. Tauhid adalah landasan paling esensial dari struktur keIslaman, di mana semua nabi dan rasul memang mengajarkan dan menanamkan tauhid ini kepada semua kaumnya.
2. Namun tema-tema yang ditetapkan Allah SWT terhadap tiap kaum seringkali beragam. Ada tema tentang sihir, ada tema tentang kekuasaan, ada tema tentang pengobatan, pelangaran hari ibadah, homoseksual dan seterusnya. Ini juga tidak bisa dipungkiri.
3. Maka kita perlu membedakan antara landasan utama keIslaman dengan tema-tema yang telah ditetapkan Allah SWT kepada tiap kaum. Sebab tiap nabi pun ternyata dibekali dengan ’senjata’ yang cocok dengan tema yang sedang ‘up to date’ di masa mereka masing-masing.
4. Seorang juru dakwah tentu perlu mengetahui tema-tema yang sedang berkembang, agar dia memiliki ’senjata’ yang up to date yang bisa sesuai dengan perkembangan yang berlaku. Sehingga dia tidak ditinggalkan kaumnya. Dan kehadirannya menjadi solusi buat kehidupan, bukan malah semakin bikin pusing.
5. Tentang berpartai, kami sudah seringkali kemukakan di rubrik ini bahwa dalam kondisi tertentu, berpartai itu bisa menjadi kemungkaran dan bahkan dosa besar.
Akan tetapi sebaliknya, bisa juga menjadi salah satu alat dakwah yang efektif. Semua tergantung kondisi yang up to date dan kedalaman pandangan kita dalam melihat kondisi yang nyata di tengah kehidupan kita.
Semoga penjelasan ini bisa semakin mendekatkan paradigma yang positif di antara sesama umat Islam.
Wallahu a’lam bishsahwab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Sarwat, Lc
Sumber: eramuslim.com
Apakah Ustad Anti Wahabi?
Mei 8, 2008 oleh Zen Muhammad AlfaruqDari jawaban ustad mengenai kegiatan mengelilingi kuburan imam syafii seperti ka’bah ‘tidak bisa diterima’ apakah hanya itu? Bukankah kesyirikan musuh terbesar Allah sejak diutusnya nabi dan rasul, dan Dia hanya ingin disembah seorang diri tanpa tandingan ruh para wali?
Bukankah itu sudah merupakan kesyirikan yang nyata?
Lalu, ustad justru mengritik ulama (wahabi) yang memerangi hal itu.. bukankah tindakan nyata mereka sudah dapat menekan angka ke’syirik’an lebih signifikan dibanding cara ‘menghilangkan kebodohan’ versi ustad yang lebih membutuhkan waktu yang lama??
Dari beberapa jawaban ustad, saya menangkap ustad sangat tidak setuju dg dakwah wahabi, kenapa? Apakah itu yang diajarkan di al-azhar? Lalu ustad menginginkan persatuan umat Islam, tapi justru melegalkan segala jenis perbedaan tumbuh subur di tengah umat Islam, melalui fanatik mazhab dan berpartai? Bukankah justru jauh panggang dari api…?
Mohon penjelasannya…
Ron
Jawaban
Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Kalau Anda seorang yang membela dakwah Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab, maka sebaiknya kita salaman dulu. Ternyata kita sama, sama-sama berdakwah dan mendukung dakwah yang beliau lakukan. Dan dakwah kita ini sama dengan para tokoh dakwah dalam sejarah, yaitu mengajak orang untuk menjalankan syariat Islam dengan sebaik-baiknya ajakan.
Tapi saran kami, barangkali lebih baik kita tidak mengunakan istilah wahabi dan anti wahabi. Sebab titik pangkal permasalahannya bukan di sana, lagian kita ini tidak akan masuk surga hanya dengan menjadi seorang pendukung wahabi, dan orang tidak akan masuk neraka karena anti wahabi.
Karena Muhammad bin Abdul Wahhab sendiri sebagai orang yang nama ayahnya dipakai untuk istilah wahabi, justru tidak pernah mendakwahkan wahhabiyah. Yang beliau dakwahkan hanya agama Islam. Sama sekali beliau tidak pernah mengajak orang menjadi wahabi.
Dakwah Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab adalah memurnikan sisi aqidah umat. Tentu saja kita tahu bahwa keahlian beliau memang lebih pada sisi masalah tauhid ini. Dan kita mengenal beliau bukan seorang ahli fiqih, ahli ushul, atau ahli hadits.
Beliau tidak punya tulisan tentang hadits, fiqih, atau tafsir, kecuali kitab kecil beberapa lembar dengan judul kitabuttauhid. Dan dalam cabang ilmu tauhid, beliau memang tokoh dan punya karya besar. Namun bukan berarti persoalan dakwah hanya bertumpu kepada dirinya dan seputar masalah tauhid saja.
Permasalahan Dakwah Bukan Hanya Urusan Syirik Saja
Kalau sekarang yang kita ributkan hanya berkutat di masalah syirik saja, maka sebenarnya ada baiknya kita diskusikan lagi.
Benar bahwa masalah utama para nabi dan rasul seputar masalah syirik, tapi juga harus diingat bahwa masalah mereka bukan hanya urusan syirik saja.
Mungkin masalah terbesar dari seorang Muhammad bin Abdul Wahhab di zamannya memang lebih dominan hal yang berbau syirik kuburan, karena yang beliau lihat memang hal-hal hanya demikian itu.
Terutama di Hijaz, tempat di mana beliau hidup dan tinggal. Dari sejarah riwayat hidup beliau, kelihatannya memang beliau tidak pernah berjalan di muka bumi untuk melihat bagaimana keadaan umat Islam di berbagai peradaban lain. Kita tidak punya catatan apakah beliau tidak pernah singgah ke Afrika, Eropa, atau bahkan ke Amerika. Tapi satu hal yang pasti, beliau belum pernah ke Indonesia.
Sehingga secara logika wajar sekali, kenapa seorang ulama selevel Muhammad bin Abdul Wahhab dikatakan hanya mengurusi syirik kuburan saja. Alasan paling logisnya karena memang beliau hidup di wilayah yang tertentu, di mana masalah dominan memang masalah syirik. Dan pertimbangan lain, boleh jadi zaman di mana beliau hidup, yang urusan yang paling ramainya seputar masalah itu.
Walau periode dialog urusan ilmu kalam sudah jauh terlewat. Beliau tidak hidup di zaman perdebatan sengit antara Qadiriyah, Jabariyah, Mu’tazilah. Kecuali beliau mungkin bertemu dengan sisa-sisa dialog itu dalam porsi yang berbeda.
Dan Muhammad bin Abdul Wahhab dalam masalah ini sama sekali tidak salah. Beliau memang hidup di zaman dan wilayah yang ketokohan dan keilmuwan seperti itu memang dibutuhkan.
Yang jadi jadi pertanyaan justru kita ini, yang tidak hidup sezaman Muhammad bin Abdul Wahhab. Pertanyaannya, apakah isu-isu yang diangkat oleh beliau itu masih relevan dengan realitas yang terjadi di masa kita? Atau jangan-jangan, kita malah terperangkap kerangka dan suasana di zaman beliau?
Maka kita perlu lebih banyak membaca dan melihat situasi, agar tidak kurang tajam dalam menangkap permasalahan yang lebih up to date. Selain itu agar kita tidak terlalu jauh menggunakan logika yang terbalik-balik.
Dan agaknya kalau kita perhatikan permasalahan dan tema dakwah pada hari ini, rasanya masa-masa dialog antara mazhab aqidah seperti yang kami sebutkan di atas telah lewat. Hari ini kita sudah tidak kenal lagi ada orang yang mendakwahkan ajaran Qadariyah, Jabariyah, atau Mu’tazilah secara ekstrim dan dengan kekuatan besar. Paling-paling hanya sekedar satu dua mahasiswa usil yang mengangkat tema seperti itu di ruang kuliah.
Masa-masa perdebatan ilmu kalam sebenarnya sudah berlalu. Persoalan umat Islam sebenarnya sudah berganti. Dunia Islam di abad ke-20 mengalami masalah yang sangat berbeda. Misalnya, masalah kolonialisme yang sampai kini dampaknya masih terasa. Atau mengalami kemunduran dari segi ilmu pengetahuan dan teknologi. Juga mengalami kebangkrutan dari sisi ekonomi sehingga ada berjuta umat Islam hidup di bawah standar kemiskinan.
Dan seribu satu persoalan pelik lain, seperti penerapan syariah Islam di dalam negara-negara yang mayoritas berpenduduk muslim.
Dakwah Para Nabi Bukan Hanya Urusan Syirik Saja
Kalau kita membaca sejarah para nabi dan rasul, baik lewat Al-Quran maupun Al-Hadits, sebenarnya agak kurang tepat kalau kita bilang bahwa kendala para nabi dan rasul hanyalah kendala syirik kuburan saja.
Malah tidak ada satu pun ayat Quran yang bicara tentang syirik kuburan. Tema tentang tauhid dan syirik memang banyak dibahas di dalam Al-Quran, tapi kita malah tidak pernah membaca ayat yang menghantam urusan menyembah kuburan.
Ketika kami dahulu kuliah di Universtias Islam Muhammad Ibnu Su’ud, milik Kerajaan Saudi Arabia, bukan di Al-Ahzar Mesir, ilmu-ilmu ke-Islaman yang diajarkan pun juga bukan hanya berkutat tentang kuburan dan syirik saja. Dan sepanjang yang kami tahu, tidak pernah ada yang namanya Fakultas Ilmu Syirik dan Kuburan.
Mungkin karena dakwah agama ini juga tidak hanya urusan itu saja. Bukankah kita mengenal ada ayat tentang warisan, bahkan sampai Rasulullah SAW memerintahkan secara khusus kita belajar warisan. Apakah ada kaitannya warisan dengan syirik kuburan?
Di dalam Al-Quran ada sekian ayat yang menyebutkan hewan yang haram untuk dimakan, juga najis dan berbagai hal terkait dengan hukum hudud, seperti merajam pezina, memotong tangan pencuri, membunuh pembunuh dan seterusnya. Jadi misi para nabi memang bukan hanya urusan syirik, tapi yang lebih luas dan panjang dari itu, adalah bagaimana menjalankan syariah yang Allah perintahkan.
Perbedaan Pendapat
Kalau kita pernah kuliah di fakultas Syariah jurusan Perbandingan Mazhab, maka kita akan tahu bahwa yang namanya perbedaan pendapat itu mustahil dipungkiri, apalagi dibasmi.
Dahulu Imam Malik pernah diminta kesediaannya agar kitabnya, Al-Muwattha’ dijadikan kitab fiqih standar negara. Beliau dengan amat santun dan tawadhdhu’nya menolak dengan halus. Sebab beliau amat menghargai perbedaan pendapat di kalangan para ulama.
Kalau kitabnya itu dijadikan standar negara, maka akan terjadi pemaksaan pendapat, padalah tidaklah muncul perbedaan pendapat itu kecuali karena memang nash-nash Quran dan Sunnah memberi peluang untuk itu.
Maka seorang ahli syariah tentunya sudah punya wawasan yang cukup tentang beda pendapat dalam urusan fiqih. Mulai dari cara wudhu’ sampai cara mati, semua penuh dengan perbedaan pandangan.
Jadi bagusnya sih, kita tidak berwawasan sempit dan picik dalam melihat fenomena ini. Perbedaan fiqih yang ada dalilnya saja masih menyisakan beda pendapat, apalagi masalah teknis berdakwah yang kebanyakan selalu improvisasi dan kental dengan perbedaan latar belakang, tentu akan semakin tajam lagi perbedaannya.
Kami cenderung untuk tidak mudah menyalahkan niat baik seseorang dalam berdakwah. Maka kalau ada orang mau dakwah lewat seni, kami cenderung untuk tidak lantas mudah memaki-makinya. Kalau ada yang kurang tepat, kita luruskan saja baik-baik. Dan meluruskan dengan baik-baik itu kan juga perintah Rasulullah SAW juga, bukan?
Dan kalau ada orang mau dakwah lewat partai, kami cenderung juga tidak mudah untuk mencercanya. Dan memangnya kenapa harus dicerca? Kalau ada yang kurang sejalan, setidaknya sampaikan dengan cara yang elegan. Dan bukan lewat tikaman dari belakang yang bernuansa ngambek karena tidak dapat ‘bagian’.
Rasanya terlalu sepi dakwah ini kalau dakwah itu hanya khusus milik majelis taklim saja. Apakah orang-orang tidak boleh mengajak kepada kebaikan dengan kapasitas masing-masing?
Kalau ada masyarakat muslim yang sesat karena melakukan syirik, kami cenderung menganggap mereka sebagai korban. Jadi kami lebih senang mendekati baik-baik dan bicara dari hati ke hari, bukan dengan cara mencaci maki atau memerangi dengan kata yang kasar dan tajam.
Buat apa kita terlihat gagah di podium, tapi orang malah semakin menjauh, dakwah malah tidak akan berhasil dengan cara seperti itu.
Maka saudaraku, mari kita ajak orang untuk belajar agama ini secara mendalam dan dengan cara baik-baik. Sekedar mencaci maki, belum pernah terbukti melenyapkan syirik dari muka bumi. Percayalah.
Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Sarwat, Lc
Sumber: eramuslim.com
“Catatan dari 11 Kota”
Mei 8, 2008 oleh Zen Muhammad AlfaruqCatatan perjalanan 11 hari Dr. Syamsuddin Arif di seluruh Jawa menunjukkan, paham liberal menjadi masalah terbesar yang dihadapi umat Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian Husaini ke-233
Oleh: Adian Husaini
Mulai hari Sabtu, 19 April 2008 lalu, saya menemani Dr. Syamsuddin Arif untuk sebuah perjalanan panjang mengunjungi sejumlah kota di Pulau Jawa. Program utama kami ialah rangkaian acara bedah buku Dr. Syamsuddin Arif yang berjudul ”Orientalis dan Diabolisme Pemikiran”. Acara dimulai dari Gedung Gema Insani Press di Depok. Hadir juga sebagai pembicara di sini Adnin Armas MA, direktur eksekutif INSISTS.
Esoknya, Ahad, 20 April, acara bedah buku digelar di Masjid Salman ITB. Berturut-turut, selama 9 hari berikutnya, acara bedah buku dan diskusi seputar tantangan pemikiran Islam diadakan di Masjid Agung Cirebon, Al-Irsyad Tegal, Al-Irsyad Pekalongan, Universitas Diponegoro Semarang, Masjid Kampus UGM Yogya, Universitas Muhammadiyah Surakarta, Institut Studi Islam Darussalam Gontor Ponorogo, Masjid Kampus Universitas Brawijaya Malang, FISIP Universitas Airlangga, dan Masjid Kampus ITS Surabaya.
Banyak yang menarik dan tak terduga dalam perjalanan di 11 kota ini. Di Cirebon, misalnya, kami diberi kabar, bahwa kaum Muslim di sana sedang menghadapi serbuan secara masif ide-ide liberal dari sejumlah agen penyebar liberalisme. Dengan dukungan dana yang sangat besar dari negara dan LSM-LSM Barat, para pengecer ide liberal di kota ini terus-menerus menjejali umat Islam dengan gagasan-gagasan yang merusak aqidah dan syariah Islam. Berbagai media, seperti radio, buku, bulletin Jumat, dan sebagainya, digunakan sebagai sarana. Alhamdulillah, di kota ini ada sebagian kalangan umat Islam yang aktif menghadang penyebaran paham liberal.
Di kota Tegal, kami diminta menjelaskan tentang paham sekularisme, Pluralisme, dan Pluralisme Agama. Sekitar 300 orang memenuhi aula SMP al-Irsyad Tegal. Di Pekalongan, sekitar 400 kaum Muslim juga hadir dalam acara dengan tema yang sama. Sejalan dengan pesatnya perkembangan media informasi, isu liberalisasi Islam memang bukan lagi merupakan konsumen masyarakat Jakarta dan kota besar lainnya. Kaum Muslimin di pelosok-pelosok pun kini harus bersentuhan langsung dengan ide-ide liberal yang dijajakan melalui berbagai kemasan.
Kita sudah paham, bahwa liberalisasi agama adalah masalah terbesar yang dihadapi umat beragama di era modern ini. Bukan hanya umat Islam, tetapi juga umat-umat agama lain mendapatkan pekerjaan rumah yang sama. Apalagi, proyek penghancuran Islam ini telah menjadi program politik global yang mendapat prioritas dalam pengucuran anggaran sejumlah negara Barat. Tak heran, jika berbagai lembaga Islam menjadi target serangan paham ini. Banyak agen-agen liberalisasi Islam yang terus menjajakan dan menjejalkan idenya kepada umat Islam, dengan berbagai motif yang melatarinya.
Dalam sejumlah forum, beberapa kali muncul pertanyaan bernada pesimis: apakah kita mampu menghadapi penyebaran paham yang didukung oleh kekuatan global yang sedang berkuasa saat ini. Kami menjawab, ”Di sinilah menariknya pergulatan pemikiran ini. Kita yang miskin, kecil, harus berhadapan dengan kekuatan-kekuatan besar. Jika yang kita hadapi singa, maka kita dipaksa untuk berpikir dan bekerja keras. Beda halnya jika yang kita hadapi hanya tikus.”
Memang, perjuangan melawan liberalisme ini menjadi menarik, karena tidak sedikit diantara penyebar paham liberal adalah para profesor dan cendekiawan yang memiliki kemampuan intelektual lumayan. Banyak diantara mereka yang menguasai bahasa Arab dan Inggris dengan baik. Banyak yang pintar bicara dan menulis. Kita maklum, mengapa terget utama liberalisasi Islam adalah lembaga-lembaga pendidikan Tinggi Islam. Mereka tentu paham, bahwa lembaga Pendidikan Tinggi Islam akan menghasilkan orang-orang yang memiliki otoritas dalam bidang keagamaan. Otoritas itulah yang dirusak. Gelar resminya, misalnya, adalah doktor bidang Al-Quran, tetapi ia justru aktif merusak Al-Quran dan tafsirnya.
Lama-lama, umat Islam dibuat bingung, sebab yang memiliki otoritas mengajar Al-Quran justru berusaha merusak Al-Quran. Tentu aneh, jika yang belajar ilmu ushuluddin, justru menjadi pembela aliran sesat. Padahal, harusnya merekalah yang berada dalam garis terdepan dalam penegakan aqidah Islam dan pemberantasan paham syirik. Kita berpikir, normalnya, para pakar dan sarjana syariah-lah yang berada di garis terdepan dalam upaya penegakan aqidah dan syariah Islam. Kata Dr. Syamsuddin, jika ada sarjana agama Islam yang menyebarkan paham-paham yang merusak Islam, tentu hal itu sangat ”memalukan” dan ”memilukan”.
Namun, di tengah-tengah merebaknya paham liberalisme di berbagai Perguruan Tinggi Islam, kami merasa sangat bersyukur, bahwa ternyata masih ada sejumlah cendekiawan dan lembaga Islam yang kokoh bertahan dalam mengajarkan ilmu-ilmu Islam yang benar. Di sejumlah kota, kami bertemu dengan para para ustad dan cendekiawan yang juga gigih membela ajaran Islam dari serangan paham-paham yang destruktif. Kadangkala kami terharu, saat berjumpa dengan tokoh-tokoh yang hebat dalam membela Islam, meskipun mereka harus bertahan dengan kondisi seadanya.
Salah satu tokoh hebat yang kami jumpai adalah Ibu Aisyah al-Kalali. Di usianya yang ke-84 tahun, beliau masih gigih memimpin Pondok Tahfidz Al-Quran di Kota Pekalongan. Pondok ini dikhususkan untuk putri. Sejak berdirinya, tahun 1989, selama 19 tahun, Pondok pesantren ini sudah meluluskan hafidzah sebanyak 150 orang. Sementara sepanjang usianya itu, sudah lebih dari 700 mahasiswi yang Droup Out. Pendidikan di pesantren ini sangat ketat dan berdisiplin tinggi. Untuk mendapat ijazah kelulusan sebagai ’hafizhah’, para mahasiswi harus melalui serangkaian ujian yang sangat ketat. Terakhir, mereka harus mampu menghafal Al-Quran, 30 Juz, dalam waktu satu hari, disaksikan oleh penguji dan masyarakat.
Ironisnya, di tengah serbuan gelombang materialisme di dunia pendidikan, Lembaga Pendidikan Tahfidz seperti ini justru tidak mudah mendapatkan murid. Padahal, biaya pendidikan total dalam satu bulan dibawah Rp 400.000 (empat ratus ribu rupiah). Lebih dari itu, pimpinan lembaga pendidikan ini harus berkeliling mencari murid, dan menawarkan beasiswa bagi banyak murid-muridnya. Kita sangat salut dengan perjuangan para pengasuh Pondok Tahfidz Al-Quran di Pekalongan ini, dan berharap dari sini akan lahir para hafizhah yang menjadi palang pintu dalam menjaga kemurnian Al-Quran.
Acara bedah buku yang cukup menarik terjadi di Universitas Diponegoro (Undip) Semarang. Acara dibuka oleh Dekan Fakultas Ekonomi Undip, Dr. H. Muhammad Chabachib dan dihadiri sejumlah dosen. Ruang seminar FE-Undip dipenuhi peserta. Banyak yang terpaksa berdiri. Fenomena ini menunjukkan, problem pemikiran Islam di Indonesia telah menjadi perhatian banyak kalangan akademisi, bukan hanya yang berlatarbelakang studi Islam, tetapi juga yang berlatarbelakang studi umum. Disamping menjelaskan metodologi dan dampak studi Islam ala orientalis, Dr. Syamsuddin juga secara khusus memaparkan dampak penggunaan metode hermeneutika dalam penafsiran Al-Quran.
Di Yogyakarta, acara bedah buku digelar di Masjid Kampus UGM. Di luar acara utama, ada sejumlah diskusi dengan para mahasiswa dan aktivis Islam di Yogya yang kami hadiri. Meskipun tema pokok diskusi adalah seputar tantangan orientalisme dan pemikiran liberal, tetapi ada tujuan yang lebih penting yang perlu diwujudkan, yaitu upaya membangun tradisi pemikiran Islam yang sehat. Pemikiran Islam bukanlah monopoli kampus-kampus agama atau sarjana agama. Sebab, memahami pemikiran Islam yang benar adalah hal yang fardhu ’ain, yang wajib dimiliki oleh setiap Muslim.
Bisa dikatakan, di era globalisasi, tantangan utama dalam pemikiran Islam adalah dekonstruksi pemikiran Islam melalui penyebaran paham liberalisme agama. Lagipula, para akademisi Muslim UGM kini menghadapi tantangan serius dalam bidang studi dan pemikiran Islam dengan hadirnya program studi Lintas Agama oleh Indonesian Consortium for Religious Studies (ICRS) dan Center for Religious and Cross-cultural Studies (CRCS). Karena itu, kita berharap, para cendekiawan Muslim UGM mampu menjawab tantangan intelektual ini secara ilmiah. Jika ditelaah dari mata kuliah yang ditawarkan dan dosen-dosen yang mengajar di program ini, maka bisa dikatakan studi agama di UGM ini telah menggunakan ‘perspektif netral’ dalam studi agama; bukan dari perspektif Islam.
Di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), kami berkesempatan mengisi diskusi dengan tema “Islam ‘Mazhab’ Orientalis”. Selain para dosen dan mahasiswa pasca sarjana Studi Islam UMS, hadir juga sejumlah akademisi Muslim dan tokoh Muslim di kota Solo. Acara dibuka oleh Ketua Magister Studi Islam UMS, Dr. Muinuddin. Di sini, Syamsuddin Arif menekankan sifat-sifat studi Islam gaya orientalis yang biasanya “berawal dari keraguan dan berakhir dengan keraguan”. Orang belajar Islam bukan untuk menambah keyakinan terhadap Islam, tetapi untuk menanamkan sikap kritis dan skeptis terhadap Islam.
Di Pesantren Gontor, kami sempat mengisi diskusi dan bedah buku di kampus Institut Studi Islam Darussalam (ISID) Gontor. ISID merupakan salah satu Perguruan Tinggi Islam yang baik yang berada di bawah naungan Pondok Gontor Ponorogo. Kajian-kajian tentang Islam dan Barat di kampus ini semakin berkembang setelah dibentuknya Center for Islamic and Occidental Studies (CIOS) yang dipimpin Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi. Karena itu, kajian tentang orientalisme bukan hal yang asing di kampus ini. Tentunya kehadiran Dr. Syamsuddin Arif, yang juga alumnus Pesantren Gontor, diharapkan semakin menambah tajamnya kajian-kajian tentang Islam dan Barat di pesantren Gontor ini.
Dari kota Ponorogo, perjalanan kami lanjutkan ke Kota Malang. Ada sejumlah acara yang sudah terjadwal di kota ini: dialog dengan guru-guru pesantren Hidayatullah, diskusi terbatas dengan satu komunitas dosen-dosen di Malang, jumpa penulis di Gedung Gema Insani Press Malang, dan acara puncaknya adalah bedah buku di Masjid Raden Patah Universitas Brawijaya Malang. Acara dibuka oleh Pembantu Rektor III Universitas Brawijaya dan dimoderatori Dr. Suryadi, dosen di kampus yang sama.
Rangkaian acara bedah buku Dr. Syamsuddin Arif berakhir di kota Surabaya pada 26 April 2008. Di kota Pahlawan ini, acara digelar di dua kampus utama, yaitu di Universitas Airlangga (Unair) dan Institut 10 November Surabaya (ITS). Esoknya, pada 27 April, setelah mengisi kuliah di program Magister Studi Islam UMS, Dr. Syamsuddin Arif kembali ke Kuala Lumpur, melanjutkan tugas rutinnya sebagai dosen di Universitas Islam Internasional Malaysia.
Perjalanan panjang selama 10 hari mengunjungi berbagai kota di Jawa kali ini membawa kesan yang cukup mendalam bagi kami. Satu pemikiran yang banyak disebarkan kaum liberal adalah paham “relativisme kebenaran”. Di berbagai kota, kami berusaha “mengobati” korban-korban penyakit “relativisme” ini. Tidak mudah memang, karena yang terkena penyakit ini adalah para sarjana. Padahal, dampak penyakit ini sungguh nyata. Korbannya tidak lagi meyakini adanya satu kebenaran yang mutlak. Jika orang tidak tahu kebenaran, bagaimana dia akan memperjuangkan kebenaran?
Ada fenomena menarik yang bisa kita lihat di masyarakat kampus saat ini. Sebagian kalangan sudah meyakini dan aktif memperjuangkan kebenaran yang diyakininya. Sementara sebagian lainnya, masih terus mendiskusikan dan mempertanyakan, di mana letaknya kebenaran, dan apakah manusia bisa memahami kebenaran. Terhadap orang-orang yang masih bingung dalam soal kebenaran ini, kita persilakan saja mereka terus mencari dan tidak banyak bicara dulu. Sebab, kata mereka, mereka belum tahu yang benar. Kita, yang sudah tahu dan sudah menemukan kebenaran, tentu merasa berkewajiban memperjuangkannya.
Di samping banyaknya masalah yang dihadapi, di berbagai kota, kami menjumpai potensi-potensi umat yang sangat besar, yang memiliki ghirah yang tinggi untuk memperjuangkan Islam. Besarnya tantangan orientalisme dan liberalisme pada satu sisi telah menyadarkan kita, bahwa Islam dan umatnya kini menjadi sasaran utama dalam proyek westernisasi. Islam adalah potensi besar yang menggiurkan dan mungkin menakutkan bagi banyak kalangan. Karena itu, wajar, jika berbagai upaya untuk ‘melemahkan’ potensi Islam akan selalu dilakukan.
Sepanjang zaman, Islam selalu dihadapkan dengan berbagai tantangan. Kini saatnya umat Islam menyadari potensinya sendiri dan kemudian membangun dirinya sendiri, dengan keyakinan, dengan jalan, dan dengan metodenya sendiri. Insyaallah, jika disertai dengan kerja keras dan istiqamah, di tengah berbagai kesulitan, jalan kebangkitan Islam justru terbentang di hadapan kita. (Depok, 25 Rabiul’akhir 1429 H/2 Mei 2008/www.hidayatullah.com]
Catatan Akhir Pekan [CAP] adalah hasil kerjasama antara Radio Dakta 107 FM dan www.hidayatullah.com
Diambil secara utuh dari www.hidayatullah.com edisi Selasa, 06 Mei 2008.
”Bulletin Jumat pun Jadi Sasaran”
Mei 8, 2008 oleh Zen Muhammad AlfaruqTak hanya ‘meracuni’ kampus. Virus Sepilis (sekularisme, pluralisme dan liberal) bahkan memasuki bulletin Jumat. Baca Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian Husaini ke-227
Oleh: Adian Husaini
Beberapa waktu lalu, saat menghadiri satu acara di Kota Semarang, Jawa Tengah, seorang dosen Universitas Diponegoro Semarang, menghadiahi saya sebuah “bulletin dakwah” bernama AL-WAASIT”. Menurut dia, bulletin itu dibagi-bagikan secara gratis di masjid-masjid di Semarang. Melihat isinya, dosen itu khawatir, jangan-jangan bulletin dakwah tersebut adalah merupakan salah satu jurus liberalisasi Islam di Indonesia.
Sekilas bulletin ini menampilkan citra Islam yang kuat. Setidaknya namanya yang berbahasa Arab menunjukan hal itu, yaitu Al Waasit. Di pojok kiri atas halaman pertama terdapat sebuah simbol timbangan berwarna hitam di dalam lingkaran dan berlatar hijau, dengan tulisan melingkar: Buletin Al Waasit “Pemikiran Islam Moderat”.
Dalam lembar buletin dicantumkan alamat redaksi yaitu: Gd Albana Center Jl Palikali Raya No 16 Rt 03/04, Kel. Kukusan, Kec. Beji, Kota Depok. Selain itu terdapat alamat web yaitu www.alwaasit.com. Dicantumkan juga susunan pengasuh bulletin. Pembina: H M Tareeq Ramadhan Lc. Pemimpin Umum : Agung Suprianto. Redaktur : Muhayat Rusma Ady Lc; M. Rofik Lc; Muchtar Mawardi MA. Desain Layout: Ichal. Wilayah sirkulasi meliputi: Wilayah JABODETABEK, BANDUNG, SEMARANG, PEMALANG, SOLO, YOGYAKARTA, SURABAYA.
Karena alamat bulletin itu di Depok, sejumlah mahasiswa Universitas Indonesia kemudian berinisiatif meneliti hal ihwal buletin Al-WAASIT tersebut. Berdasarkan penelusuran mereka, ada sejumlah keganjilan. Alamat di web-nya berbeda dengan alamat yang tertulis, yakni Gd Albana Center Lt.2 JL Palikali Raya No 3. Halaman lain situs ini ialah dokumentasi beberapa edisi Al Waasit. Tidak semua edisi tersedia dalam halaman ini. Hanya ada edisi 209-217.
Menurut penelusuran para mahasiswa UI ke alamat yang tertera dalam bulletin Al-Waasit, ternyata alamat yang tertera di lembar edisi 213 (Jl Palikali Raya No 16) tidak ditemukan gedung Albana Center dan juga Yayasan Azhary. Begitu pun di alamat yang ada di web mereka (Jl Palikali Raya No 3). Alamat tersebut hanya berupa rumah kontrakan beberapa petak, tidak ada lantai 2 dan tidak ditemukan Yayasan Azahry maupun Gedung Albana Center. Beberapa warga yang ditanya tentang keberadaan Yayasan Azahry, Bulletin Al Waasit serta beberapa nama pengurusnya, semuanya menjawab tidak tahu.
Entah mengapa bulletin yang terbit tiap Jumat ini menggunakan nama Gedung Albana Center sebagai markasnya. Begitu juga nama Tareeq Ramadhan Lc, yang merupakan cucu Hasan al-Banna. Mungkin pengelolanya ingin membuat kesan bahwa bulletin ini ada hubungannya dengan gerakan Ikhwanul Muslimin. Yang jelas, tampak bulletin ini dikelola cukup profesional, khususnya dari segi teknik penulisan. Dalam situsnya, bulletin ini mencantumkan nama-nama masjid yang menjadi sasaran penyebarannya.
Nama “al-Banna” memang banyak dikutip oleh kaum liberal untuk menjustifikasi pendapatnya. Untuk menceri justifikasi paham Pluralisme Agama, dalam bukunya, Islam dan Pluralisme, Jalaluddin Rakhmat juga mengutip pendapat Gamal al-Banna, dengan menekankan, “Gamal al-Banna adalah aktivis Muslim, anggota al-Ikhwan al-Muslimun. Kita mungkin menyebutnya fundamentalis dan anti-Barat.” Ia kutip pendapat Gamal al-Banna, yang menyatakan: “Saya berkata kepada mereka bahwa Thomas Alfa Edison akan masuk surga karena telah menemukan lampu yang kemudian digunakan oleh manusia sebagai penerang.” Lalu, Jalaluddin Rakhmat membuat komentar, “Gamal al-Banna berubah dari seorang eksklusif menjadi seorang pluralis.”
Tidak heran, jika di Indonesia, sejumlah buku Gamal al-Banna juga sudah diterjemahkan. Meskipun bersaudara dengan Hasan al-Banna, tetapi pikiran Gamal al-Banna memang banyak berbeda dengan saudaranya tersebut. Sebuah pendapat Gamal al-Banna yang agak aneh, misalnya, tentang negara Madinah dikatakannya: “Negara Madinah belum bisa dikatakan sebuah negara dalam artian negara yang menganut sistem politik kebanyakan, karena Negara Madinah belum mempunyai militer yang profesional, belum punya penjara yang permanen, dan belum punya lembaga kepolisian, dan juga belum mewajibkan pajak.” (Lihat, Jamal al-Banna, Runtuhnya Negara Madinah (terj.), Yogyakarta: Pilar Media, 2005:48).
Tampaknya, strategi untuk “mengasosiasikan diri” dengan al-Banna itulah, maka nama Gedung Albana center dimunculkan. Begitu juga nama HM Thariq Ramadhan. Meskipun tidak terlalu vulgar, sejumlah edisi bulletin al Waasit sudah menyebar aroma Pluralisme Agama. Pada edisi 213, Al Waasit muncul dengan judul Toleransi Merupakan Makna Lain Idul Qurban. Kepala tulisan ialah Surat Al Baqarah Ayat 62 yang artinya “Sesungguhnya orang-orang mu’min, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Sabiin, siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.”
Tampaknya, pengelola bulletin ini sadar, bahwa bulletin ini disasarkan pada jemaah shalat Jumat, sehingga ide-idenya dikemas secara halus. Pada edisi 210, diturunkan artikel berjudul “Membangun Sinergi Keberagaman dalam Multikulturalitas.” Berikut kutipan dari edisi 210:
“Pendekatan multikulturalisme ini sangat penting dikembangkan agar kita tidak mengalami kehilangan orientasi dan kebingunan eksistensial dalam menata kembali pluralitas budaya dan agama. Inti dari multikulturalisme adalah kesediaan menerima kelompok lain secara sama sebagai kesatuan, tanpa mempedulikan perbedaan budaya, etnik, jender, bahasa, ataupun agama. Multikulturalisme memberikan penegasan bahwa dengan segala perbedaannya itu mereka adalah sama di dalam ruang publik. Multikulturalisme menjadi semacam respons kebijakan baru terhadap keragaman, dan komunitas-komunitas yang berbeda itu diperlakukan sama oleh negara.”
Juga dikatakan: “Multikulturalisme memberikan nilai positif terhadap keragaman kultural. Konsekuensi lebih lanjut adalah kesediaan untuk memberikan apresiasi konstruktif terhadap segala bentuk tradisi budaya, termasuk agama. Berbagai kultur yang beragam justru memperkaya kehidupan sosial, tentu sebaliknya agama juga menganggap keragaman tradisi kultural memperkaya pemahaman keagamaan.”
Lebih jauh lagi, kita simak paparan dalam bulletin Jumat ini:
“Dalam upaya membangun hubungan sinergi antara agama dan multikulturalisme, minimal diperlukan dua hal. Pertama, adalah mengembangkan keberagamaan humanis-posdogmatik. Keberagamaan yang menembus sampai pada dimensi hakekat atau esensi beragama. Secara individual beragama tujuannya untuk mencerahkan diri sehingga kedamaian sejati terus bersemayam. Secara sosial bergama bertujuan untuk mewujudkan kesejukan, ketentraman dan keharmonisan bersama.
Untuk ini diperlukan reinterpretasi atas doktrin-doktrin keagamaan ortodoks yang sementara ini dijadikan dalih untuk bersikap eksklusif dan opresif. Reinterpretasi itu dilakukan sedemikian rupa sehingga agama bukan saja bersikap reseptif terhadap kearifan tradisi lokal, melainkan juga memandu di garda depan untuk mengantarkan demokrasi terbangun dalam masyarakat beragama.
Dalam masyarakat multikultural yang memprasyaratkan adanya kesalingpahaman satu bentuk budaya dengan budaya yang lain, keberagamaan humanis-posdogmatis lebih menguntungkan ketimbang sikap keberagamaan yang menekankan pada simbol-simbol kekerasan, kebencian, hujat-menghujat dan kafir-mengkafirkan…
Banyak faktor yang menyebabkan terjadinya hal yang sangat patut disayangkan itu, yang di antaranya adalah faktor teologi. Diharapkan melalui tulisan singkat ini dapat ‘menggugah’ kita untuk mengembangkan pendidikan tersebut di kalangan umat yang mau tidak mau harus melakukan transformasi menjadi masyarakat demokratis.”
Itulah sebagian isi bulletin al Waasit edisi 210 yang mempromosikan paham multikulturalisme. Kita sudah pernah membahas paham ini, dan bagaimana paham ini memang sedang dijejalkan kepada umat Islam, melalui berbagai cara. Bagi kita yang terbiasa membaca sejumlah bulletin yang diedarkan di masjid-masjid saat shalat Jumat, barangkali akan merasa tidak terlalu akrab dengan isi dan istilah-istilah yang digunakan dalam bulletin Al-Waasit tersebut. Tapi, kita perlu paham, bahwa ini adalah langkah awal. Meskipun sudah mendapat dukungan media massa yang sangat kuat, tampaknya kaum liberal masih belum merasa puas sebelum merambah arena shalat Jumat. Sejumlah tulisan menyebutkan, bahwa khutbah-khutbah Jumat masih belum berhasil dimasuki oleh kaum liberal. Karena itulah, tidak heran, jika bulletin Jumat pun dijadikan sasaran liberalisasi.
Jika kita lihat pada edisi 217 yang juga beredar sampai ke Semarang, maka akan tampak kiat halus dalam upaya pengubah persepsi kaum Muslim tentang kesesatan Ahmadiyah. Edisi ini diberi judul “MENYIKAPI ‘Kesesatan’ AHMADIYAH”. Sengaja kata ‘Kesesatan’ diberi tanda petik, untuk membuat kesan, bahwa soal sesat atau tidaknya Ahmadiyah, masih merupakan wilayah yang debatable.
Ditulis oleh bulletin ini: “Perkembangan terakhir Jamaah Ahmadiyah mengeluarkan klarifikasi dalam bentuk ‘Press Release’ yang berisi 12 butir penjelasan terkait dengan hal-hal yang selama ini dipersoalkan oleh sebagian umat Islam, hingga dinyatakan sesat oleh MUI.”
Juga ada ungkapan: “Terlepas dari kontroversi sesat atau tidaknya ajaran Jamaah Ahmadiyah, serahkan persoalan ini kepada pihak-pihak yang berwenang dan mempunyai kompetensi.”
Perhatikanlah ungkapan “yang selama ini dipersoalkan oleh sebagian umat Islam”! Ungkapan itu sengaja ditulis untuk memberi kesan, bahwa soal kesesatan Ahmadiyah adalah masalah “sebagian umat Islam”, bukan masalah seluruh umat Islam. Padahal, dalam soal Ahmadiyah ini, tidak ada perbedaan pendapat diantara umat Islam.
Perhatikan juga ungkapan: “Terlepas dari kontroversi sesat atau tidaknya ajaran Jamaah Ahmadiyah dan seterusnya…!
Inilah cara yang sangat halus untuk menggiring pembaca bulletin, bahwa soal kesesatan Ahmadiyah adalah masalah kontroversi, soal perbedaan pendapat. Padahal, kita tahu, soal kesesatan Ahmadiyah bukanlah soal kontroversi. Semua lembaga Islam yang kredibel menyatakan bahwa Ahmadiyah memang sesat, karena mengakui kenabian Mirza Ghulam Ahmad.
Jika dicari-cari perbedaan pada setiap masalah agama, pasti akan selalu ditemukan. Saat ini saja, sudah banyak cendekiawan yang menyatakan, bahwa perkawinan sejenis adalah halal, wanita boleh menjadi Imam dan khatib shalat Jumat, Muslimah boleh menikah dengan laki-laki non-Muslim, dan sebagainya. Bahkan, ada yang menyatakan, bahwa menjadi pelacur adalah tindakan mulia. Kaum liberal juga menyatakan, bahwa wilayah seni jangan dimasuki oleh nilai-nilai agama, karena itu mereka memiliki nilai sendiri. Jadi, boleh saja, orang mengumbar auratnya, asal merupakan tuntutan skenario.
Apakah karena ada sebagian pendapat yang nyeleneh seperti itu, lalu setiap masalah dikatakan kontroversial, dan tidak ada kesepakatan? Tentu saja tidak. Zina tetap haram, meskipun sebagian pelacur sudah menggunakan dalil agama untuk melegalkannya. Judi tetap haram, meskipun ada sebagian orang yang menghalalkannya. Bahkan ada juga kaum Muslim yang telibat bisnis perjudian. Jika ada orang Islam yang menghalalkan perjudian, maka bukan berarti haramnya judi adalah soal khilafiah. Maka, meskipun ada yang menghalalkan perkawinan muslimah dengan laki-laki non-Muslim, bukan berarti soal tersebut adalah masalah khilafiah. Meskipun ada kelompok tertentu yang menyatakan shalat lima waktu belum wajib, maka bukan berarti kewajiban shalat adalah masalah khilafiah. Jadi, tidak setiap ada yang ‘nyeleneh’, lalu bisa dijadikan justifikasi, bahwa suatu masalah adalah masalah khilafiah.
Apapun motif dan tujuannya, kasus bulletin Al-Waasit ini hendaknya menyadarkan kita, bahwa kaum liberal dan semua pendukungnya tidak pernah ridha sebelum kaum Muslim mengikuti jalan pikiran dan jalan hidup mereka. Segala cara dan media mereka gunakan. Sampai Bulletin Jumat pun diurusi. Wallahu A’lam. [Depok, 22 Shafar 1429 H/29 Februari 2008/www.hidayatullah.com]
Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian Husaini adalah hasil kerjamasa antara Radio Dakta 107 FM dan www.hidayatullah.com
Diambil secara utuh dari www.hidayatullah.com edisi Selasa, 04 Maret 2008.
Ayat-Ayat Hitam Talmud
Februari 18, 2008 oleh Zen Muhammad AlfaruqTalmud merupakan kitab suci kelompok Zionis-Yahudi di seluruh dunia. Seluruh tindak-tanduk Zionis-Israel mengacu pada ayat-ayat Talmudisme. Bahkan Texe Marrs, investigator independen Amerika yang telah menelusuri garis darah Dinasti Bush selama enam tahun, menemukan bukti bahwa keluarga besar Bush, termasuk Presiden AS George Walker Bush, merupakan sebuah keluarga yang sangat rajin mendaras dan mempelajari Talmud.
“Dinasti Bush adalah dinasti Yahudi dan mereka menjadikan Talmud sebagai kitab sucinya. Adalah salah besar menyangka mereka sebagai keluarga Kristiani. Mereka menunggangi kekristenan untuk menipu warga Kristen dunia. Padahal, mereka merupakan keluarga Talmudis yang taat, ” demikian Texe Marrs.
Kita tentu sudah banyak mendengar tentang Talmud. Namun belum banyak yang mengetahui apa saja ayat-ayatnya. Berikut kami tampilkan sejumlah ayat-ayat Talmud yang menjadi dasar segala tindakan kaum Zionis terhadap orang-orang non-Yahudi (Ghoyim atau Gentilles), dan darinya Anda akan bisa “memahami” mengapa kaum Zionis selalu saja mau menang sendiri, selalu mengkhianati perjanjian, dan sebagainya. Inilah ayat-ayat suci mereka:
“Hanya orang-orang Yahudi yang manusia, sedangkan orang-orang non Yahudi bukanlah manusia, melainkan binatang.” (Kerithuth 6b hal.78, Jebhammoth 61a)
“Orang-orang non-Yahudi diciptakan sebagai budak untuk melayani orang-orang Yahudi.” (Midrasch Talpioth 225)
“Angka kelahiran orang-orang non-Yahudi harus ditekan sekecil mungkin.” (Zohar II, 4b)
“Orang-orang non-Yahudi harus dijauhi, bahkan lebih daripada babi yang sakit.” (Orach Chaiim 57, 6a)
“Tuhan (Yahweh) tidak pernah marah kepada orang-orang Yahudi, melainkan hanya (marah) kepada orang-orang non-Yahudi.” (Talmud IV/8/4a)
“Di mana saja mereka (orang-orang Yahudi) dating, mereka akan menjadi pangeran raja-raja.” (Sanhedrin 104a)
“Terhadap seorang non Yahudi tidak menjadikan orang Yahudi berzina. Bisa terkena hukuman bagi orang Yahudi hanya bila berzina dengan Yahudi lainnya, yaitu isteri seorang Yahudi. Isteri non-Yahudi tidak termasuk.” (Talmud IV/4/52b)
“Tidak ada isteri bagi non-Yahudi, mereka sesungguhnya bukan isterinya.” (Talmud IV/4/81 dan 82ab)
“Orang-orang Yahudi harus selalu berusaha untuk menipudaya orang-orang non-Yahudi.” (Zohar I, 168a)
“Jika dua orang Yahudi menipu orang non-Yahudi, mereka harus membagi keuntungannya.” (Choschen Ham 183, 7)
“Tetaplah terus berjual beli dengan orang-orang non-Yahudi, jika mereka harus membayar uang untuk itu.” (Abhodah Zarah 2a T)
“Tanah orang non-Yahudi, kepunyaan orang Yahudi yang pertama kali menggunakannya.” (Babba Bathra 54b)
“Setiap orang Yahudi boleh menggunakan kebohongan dan sumpah palsu untuk membawa seorang non-Yahudi kepada kejatuhan.” (Babha Kama 113a)
“Kepemilikan orang non-Yahudi seperti padang pasir yang tidak dimiliki; dan semua orang (setiap Yahudi) yang merampasnya, berarti telah memilikinya.” (Talmud IV/3/54b)
“Orang Yahudi boleh mengeksploitasi kesalahan orang non-Yahudi dan menipunya.” (Talmud IV/1/113b)
“Orang Yahudi boleh mempraktekan riba terhadap orang non-Yahudi.” (Talmud IV/2/70b)
“Ketika Messiah (Raja Yahudi Terakhir atau Ratu Adil) dating, semuanya akan menjadi budak-budak orang-orang Yahudi.” (Erubin 43b)
Inilah sebagian kecil dari ayat-ayat hitam Talmud. Inilah landasan ideologis kaum Zionis dalam hidupnya. Setiap hari Sabtu yang dianggap suci (Shabbath), mereka mendaras Talmud sepanjang hari dan mengkaji ayat-ayat di atas. Mereka menganggap Yahudi sebagai ras yang satu-satunya berhak disebut manusia. Sedangkan ras di luar Yahudi mereka anggap sebagai binatang, termasuk orang-orang liberalis yang malah melayani kepentingan kaum Zionis.(rizki)
Sumber: eramuslim.com
Hukum Merayakan Hari Valentine Buat Umat Islam
Februari 13, 2008 oleh Zen Muhammad AlfaruqAssalamu’alaikum wr. wb.
Langsung saja pertanyaan saya Ustadz, bagaimana hukum merayakan hari Valentine dalam pandangan syariah Islam? Mohon dijelaskan hakikat dan sejarahnya. Mohon dijelaskan, terima kasih
Wassalamu’alaikum wr. wb.
Nurahini Hendrawati
nura_stevenson
Jawaban
Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Boleh jadi tanggal 14 Pebruari setiap tahunnya merupakan hari yang ditunggu-tunggu oleh banyak remaja, baik di negeri ini maupun di berbagai belahan bumi lainnya. Sebab hari itu banyak dipercaya orang sebagai hari untuk mengungkapkan rasa kasih sayang. Itulah hari valentine, sebuah hari di mana orang-orang di barat sana menjadikannya sebagai fokus untuk mengungkapkan rasa ‘kasih sayang’, walau pun pada hakikatnya bukan kasih sayang melainkan hari ‘making love’.
Dan seiring dengan masuknya beragam gaya hidup barat ke dunia Islam, perayaan hari valentine pun ikut mendapatkan sambutan hangat, terutama dari kalangan remaja ABG. Bertukar bingkisan valentine, semarak warna pink, ucapan rasa kasih sayang, ungkapan cinta dengan berbagai ekspresinya, menyemarakkan suasan valentine setiap tahunnya, bahkan di kalangan remaja muslim sekali pun.
Sejarah Valentine
Valentine’s Day menurut literatur ilmiyah dan kalau mau dirunut ke belakang, sejarahnya berasal dari upacara ritual agama Romawi kuno. Adalah Paus Gelasius I pada tahun 496 yang memasukkan upacara ritual Romawi kuno ke dalam agama Nasrani, sehingga sejak itu secara resmi agama Nasrani memiliki hari raya baru yang bernama Valentine’s Day.
The Encyclopedia Britania, vol. 12, sub judul: Chistianity, menuliskan penjelasan sebagai berikut: “Agar lebih mendekatkan lagi kepada ajaran Kristen, pada 496 M Paus Gelasius I menjadikan upacara Romawi Kuno ini menjadi hari perayaan gereja dengan nama Saint Valentine’s Day untuk menghormati St. Valentine yang kebetulan mati pada 14 Februari (The World Encylopedia 1998).
Keterangan seperti ini bukan keterangan yang mengada-ada, sebab rujukannya bersumber dari kalangan barat sendiri. Dan keterangan ini menjelaskan kepada kita, bahwa perayaan hari valentine itu berasal dari ritual agama Nasrani secara resmi. Dan sumber utamanya berasal dari ritual Romawi kuno.
Sementara di dalam tatanan aqidah Islam, seorang muslim diharamkan ikut merayakan hari besar pemeluk agama lain, baik agama Nasrani ataupun agama paganis (penyembah berhala) dari Romawi kuno.
Katakanlah, “Hai orang-orang kafir. Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang Aku sembah. Dan Aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang Aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku.” (QS. Al-Kafirun: 1-6)
Kalau dibanding dengan perayaan natal, sebenarnya nyaris tidak ada bedanya. Natal dan Valentine sama-sama sebuah ritual agama milik umat Kristiani. Sehingga seharusnya pihak MUI pun mengharamkan perayaan Valentine ini sebagaimana haramnya pelaksanaan Natal bersama.
Fatwa Majelis Ulama Indonesia tentang haramnya umat Islam ikut menghadiri perayaan Natal masih jelas dan tetap berlaku hingga kini. Maka seharusnya juga ada fatwa yang mengharamkan perayaan valentine khusus buat umat Islam.
Mengingat bahwa masalah ini bukan semata-mata budaya, melainkan terkait dengan masalah aqidah, di mana umat Islam diharamkan merayakan ritual agama dan hari besar agama lain.
Valentine Berasal dari Budaya Syirik.
Ken Swiger dalam artikelnya “Should Biblical Christians Observe It?” mengatakan, “Kata “Valentine” berasal dari bahasa Latin yang berarti, “Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuat dan Maha Kuasa”. Kata ini ditunjukan kepada Nimroe dan Lupercus, tuhan orang Romawi”.
Disadari atau tidak ketika kita meminta orang menjadi “to be my Valentine”, berarti sama dengan kita meminta orang menjadi “Sang Maha Kuasa”. Jelas perbuatan ini merupakan kesyirikan yang besar, menyamakan makhluk dengan Sang Khalik, menghidupkan budaya pemujaan kepada berhala. Icon si “Cupid (bayi bersayap dengan panah)” itu adalah putra Nimrod “the hunter” dewa matahari.
Disebut tuhan cinta, karena ia rupawan sehingga diburu wanita bahkan ia pun berzina dengan ibunya sendiri. Islam mengharamkan segala hal yang berbau syirik, seperti kepercayaan adanya dewa dan dewi. Dewa cinta yang sering disebut-sebut sebagai dewa Amor, adalah cerminan aqidah syirik yang di dalam Islam harus ditinggalkan jauh-jauh. Padahal atribut dan aksesoris hari valentine sulit dilepaskan dari urusan dewa cinta ini.
Walhasil, semangat Valentine ini tidak lain adalah semangat yang bertabur dengan simbol-simbol syirik yang hanya akan membawa pelakunya masuk neraka, naudzu billahi min zalik.
Semangat valentine adalah Semangat Berzina
Perayaan Valentine’s Day di masa sekarang ini mengalami pergeseran sikap dan semangat. Kalau di masa Romawi, sangat terkait erat dengan dunia para dewa dan mitologi sesat, kemudian di masa Kristen dijadikan bagian dari simbol perayaan hari agama, maka di masa sekarang ini identik dengan pergaulan bebas muda-mudi. Mulai dari yang paling sederhana seperti pesta, kencan, bertukar hadiah hingga penghalalan praktek zina secara legal. Semua dengan mengatasnamakan semangat cinta kasih.
Dalam semangat hari Valentine itu, ada semacam kepercayaan bahwa melakukan maksiat dan larangan-larangan agama seperti berpacaran, bergandeng tangan, berpelukan, berciuman, petting bahkan hubungan seksual di luar nikah di kalangan sesama remaja itu menjadi boleh. Alasannya, semua itu adalah ungkapan rasa kasih sayang, bukan nafsu libido biasa.
Bahkan tidak sedikit para orang tua yang merelakan dan memaklumi putera-puteri mereka saling melampiaskan nafsu biologis dengan teman lawan jenis mereka, hanya semata-mata karena beranggapan bahwa hari Valentine itu adalah hari khusus untuk mengungkapkan kasih sayang.
Padahal kasih sayang yang dimaksud adalah zina yang diharamkan. Orang barat memang tidak bisa membedakan antara cinta dan zina. Ungkapan make love yang artinya bercinta, seharusnya sedekar cinta yang terkait dengan perasan dan hati, tetapi setiap kita tahu bahwa makna make love atau bercinta adalah melakukan hubungan kelamin alias zina. Istilah dalam bahasa Indonesia pun mengalami distorsi parah.
Misalnya, istilah penjaja cinta. Bukankah penjaja cinta tidak lain adalah kata lain dari pelacur atau menjaja kenikmatan seks?
Di dalam syair lagu romantis barat yang juga melanda begitu banyak lagu pop di negeri ini, ungkapan make love ini bertaburan di sana sini. Buat orang barat, berzina memang salah satu bentuk pengungkapan rasa kasih sayang. Bahkan berzina di sana merupakan hak asasi yang dilindungi undang-undang.
Bahkan para orang tua pun tidak punya hak untuk menghalangi anak-anak mereka dari berzina dengan teman-temannya. Di barat, zina dilakukan oleh siapa saja, tidak selalu Allah SWT berfirman tentang zina, bahwa perbuatan itu bukan hanya dilarang, bahkan sekedar mendekatinya pun diharamkan.
Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk. (QS Al-Isra’: 32)
Eramuslim Digest
Karena masalah Valentine ini sangat berat, maka kami terbitkan satu edisi majalah Eramuslim Digest yang khusus membahasnya.
Kami rasa pantas bila majalah ini dijadikan rujukan, sebab selain padat, kita juga diberikan ilustrasi gambar-gambar yang menarik. Kalau berminat hubungi saja pak Tio di nomor 021-999-80-000 atau 0813-999-80-000. Bahkan saat menjawab pertanyaan ini, kami sedang berada di Bandung untuk Road Show Eramuslim Digest edisi koleksi 5 yang berjudul “The Dark Valentine Satanic Ritual Yang Kini di Puja” di MQTV dan MQFM.
Wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Ahmad Sarwat, Lc
Sumber: eramuslim.com
“Hikmah Kasus Ahmadiyah”
Januari 30, 2008 oleh Zen Muhammad AlfaruqUmat Islam tentu berhak membela aqidahnya dari “serangan” kaum Ahmadiyah dan para pendukungnya. Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian Husaini ke-221
Oleh: Adian Husaini
Ratusan tahun lalu, Nabi Muhammad saw sudah mengingatkan: “Tidak akan terjadi Kiamat sehingga muncul tiga puluh dajjal (pendusta); semuanya mengaku bahwa dirinya adalah utusan Allah; (dalam satu riwayat disebutkan Nabi SAW bersabda) Aku adalah penutup para Nabi dan tidak ada nabi lagi sesudahku.” (HR Abu Dawud dan Tirmidzi).
Hadits-hadits Rasulullah yang menjelaskan bahwa tidak ada nabi lagi sesudah Nabi Muhammad saw begitu banyak. Majelis Tarjih Muhammadiyah, dalam fatwanya tentang kedudukan Nabi Muhammad saw sebagai nabi terakhir, juga mengutip hadits Rasulullah SAW yang menyatakan: ”Di antara umatku akan ada pendusta-pendusta, semua mengaku dirinya nabi, padahal aku ini penutup sekalian nabi.” (HR Ibn Mardawaihi, dari Tsauban).
Karena peringatan Rasulullah saw tentang kenabian itu sangat jelas dan gamblang, maka seorang Muslim tidak berani main-main dalam soal ini. Sehebat apa pun kualitas ketaqwaan dan kewalian seorang Muslim, maka dirinya tidak akan mengaku sebagai nabi atau mengaku mendapatkan wahyu dari Allah. Jika ada yang mengaku seperti itu, pasti sesat. Ini rumusan pokok dalam ajaran Islam.
Kita tahu, di pentas sejarah, nabi kaum Ahmadiyah, yakni Mirza Ghulam Ahmad, termasuk deretan orang yang mengaku sebagai nabi dan melaknat orang Muslim yang tidak mau mengakuinya sebagai nabi. Dalam kitab Tadzkirah, Mirza Ghulam Ahmad mengaku mendapat wahyu seperti ini: Anta imaamun mubaarakun, la’natullahi ‘alalladzii kafara (Kamu – Mirza Ghulam Ahmad – adalah imam yang diberkahi dan laknat Allah atas orang yang ingkar/Tadzkirah hal. 749). Ada lagi wahyu versi dia: “Anta minniy bimanzilati waladiy, anta minniy bimanzilatin laa ya’lamuha al-khalqu. (Kamu bagiku berkedudukan seperti anak-Ku, dan kamu bagiku berada dalam kedudukan yang tidak diketahui semua makhluk/Tadzkirah, hal. 236).
Karena merasa mendapat wahyu dan berkedudukan seperti “anak-Tuhan”, maka Mirza Ghulam Ahmad memandang dirinya lebih hebat dari para sahabat Rasulullah saw dan para wali. Dr. Ihsan Ilahi Zhahir telah menulis sebuah buku yang sangat komprehensif tentang Ahmadiyah berjudul “Al-Qadiyaniyyah: Dirasat wa Tahlil” (Diindonesiakan tahun 2006 oleh Pustaka Darul Falah dengan judul “Mengapa Ahmadiyah Dilarang?”). Buku ini memaparkan data-data menarik tentang sosok Ghulam Ahmad berdasarkan sumber-sumber dokumen Ahmadiyah. Simaklah sejumlah petikan ucapan Mirza Ghulam Ahmad berikut:
“Tidak diragukan lagi bahwa dilahirkan di tengah-tengah umat Muhammad, shallallaahu alaihi wa sallam, beribu-ribu orang wali dan orang-orang pilihan, tetapi tak seorang pun sama denganku.”
Juga, katanya: “Mereka marah kepadaku karena aku mengutamakan diriku sendiri atas diri Husain, padahal dia tidak disebut namanya di dalam Al-Quran.”
Ghulam Ahmad pun berkata: “Mereka mengatakan tentang diriku bahwa aku hanya mengutamakan diriku sendiri atas diri Al-Hasan dan Al-Husain. Maka kukatakan, Benar, aku mengutamakan diriku atas keduanya dan Allah akan menunjukkan keutamaan ini.”
Seorang pengikut Ahmadiyah menulis: “Dimana posisi Abu Bakar dan Umar jika dibandingkan dengan Ghulam Ahmad? Keduanya tidak berhak untuk dibawakan kedua sandalnya.”
Padahal, tentang Hasan dan Husain, Rasulullah saw bersabda: “Dua penghulu para pemuda ahli surga adalah Hasan dan Husain.” (HR Tirmidzi, Ibn Majah dan Ahmad). Banyak sekali hadits Rasulullah saw yang menyebutkan keutamaan Sayyidina Abu Bakar dan Umar bin Khathab r.a. Betapa pun hebatnya kedua sahabat Nabi tersebut, mereka tidak sampai mengaku sebagai nabi. Tetapi, Mirza Ghulam Ahmad yang mengaku sebagai nabi, merasa lebih hebat dari keduanya. Terhadap sahabat Nabi yang lain pun, Mirza Ghulam Ahmad juga berani merendahkan. Dia menyatakan: ”Sungguh, Abu Hurairah adalah orang bodoh. Dia tidak memiliki pengetahuan yang benar.”
Mirza Ghulam Ahmad juga berani mencerca Nabi Adam a.s., dengan menyatakan:
”Sungguh Alah telah menciptakan Adam dan menjadikannya tuan yang sangat ditaati, pemimpin yang bijaksana atas semua orang. Sebagaimana jelas dalam kata-kata-Nya, ”Sujudlah kalian semua kepada Adam”, kemudian dia disesatkan oleh syetan dan akhirnya dikeluarkan dari syurga. Kembalilah kebijakan itu kepada syetan sehingga Adam menjadi manusia hina dan dikecilkan… Lalu Allah menciptakanku agar aku mengalahkan syetan. Dan hal ini adalah apa yang dijanjikan di dalam Al-Quran.”
Surat kabar Al Fadhl, 18 Juli 1931, pernah memuat ucapan Mahmud Ahmad, putra Mirza Ghulam Ahmad:
”Ayahku berkata bahwa dirinya lebih utama daripada Adam, Nuh, dan Isa. Karena Adam dikeluarkan oleh syetan dari surga, sedangkan dia memasukkan anak Adam ke dalam surga. Sedangkan Isa disalib oleh orang-orang Yahudi sedangkan dia menghancurkan salib itu. Dia lebih utama daripada Nuh karena anaknya yang paling besar tidak mendapatkan hidayah, sedangkan anaknya masuk ke dalam hidayah.”
Dalam ucapannya yang lain, nabi kaum Ahmadiyah ini menyatakan: ”Telah datang para nabi yang banyak, tetapi tidak ada yang lebih maju daripadaku dalam hal ma’rifatullah. Dan setiap apa yang diberikan kepada semua nabi juga diberikan kepadaku dengan lebih sempurna.” Bahkan, Mirza Ghulam Ahmad juga membuat pernyataan yang mengerikan: ”Al-Masih itu minum khamar bisa jadi karena suatu penyakit atau karena tradisinya yang lama.”
Meskipun mengaku sebagai pelanjut risalah Nabi Muhammad saw, Mirza Ghulam Ahmad pun berani menyatakan: ”Sungguh, Nabi Shallallaahu alaihi wa sallam memiliki tiga ribu macam mukjizat, tetapi mukjizatku lebih dari sejuta macam mukjizat.”
Seorang anaknya yang juga khalifahnya kedua, berkata:
”Sesungguhnya ketinggian batin imam kita adalah lebih daripada nabi yang mulia Shallallaahu alaihi wa sallam, karena zaman sekarang ini sudah jauh lebih maju daripada zaman ketika itu dari sisi kebudayaan. Inilah dia keutamaan yang parsial yang dicapai oleh Ghulam Ahmad daripada Muhammad Shallallaahu alaihi wa sallam.”
Para pengikut Mirza Ghulam Ahmad pun percaya akan kelebihan imam mereka. Surat kabar milik Ahmadiyah, Badar, 25 Oktober 1902, memuat pujian yang sangat hebat kepada Mirza Ghulam Ahmad:
”Sungguh Muhammad turun sekali lagi di hadapan kita, padahal dia lebih agung daripada ketika diutus untuk yang pertama. Siapa saja yang hendak menatap Muhammad dalam bentuknya yang paling sempurna, maka hendaknya memandang Ghulam Ahmad di Qadiyan.”
Meskipun mengaku Al-Quran sebagai kitab sucinya, Mirza Ghulam Ahmad dan para pengikutnya membuat tafsir Al-Quran yang berbeda dengan umat Islam lainnya. Ghulam Ahmad pernah menyatakan:
”Akulah yang dimaksud dalam firman-Nya, ”Dan tiadalah Kami mengutus kamu melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (al-Anbiya:107).
Sepeninggal Ghulam Ahmad, sang anak, Basyir Ahmad, melanjutkan pengakuan-pengakuan Ghulam Ahmad. Surat kabar al-Fadhl, 19 Agustus 1916, pernah memuat ucapan Basyir Ahmad:
”Sesungguhnya yang diberi kabar gembira kerasulan adalah Ghulam Ahmad dan bukan Nabi Allah Muhammad. Itulah yang dimaksud dalam firman-Nya Ta’ala: ’…Dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad.” (Ash-Shaf:6). Karena Nabi Allah bernama Muhammad dan bukan Ahmad. Oleh sebab itu, yang dimaksud haruslah bukan Muhammad. Dengan demikian, yang dimaksud haruslah Ghulam Ahmad dan bukan Muhammad.”
Tentang kedudukan ”wahyu” yang katanya dia terima dari Allah, Ghulam Ahmad menyatakan:
”Demi Allah Yang Mahaagung, aku beriman kepada wahyu yang diberikan kepadaku sebagaimana aku beriman kepada Al-Quran dan Kitab-kitab lain yang diturunkan dari langit.”
Seorang pembesar Ahmadiyah, Jalaluddin Syams, menulis: ”Sesungguhnya martabat wahyu Ghulam Ahmad sama persis dengan martabat Al-Quran, Injil dan Taurat.” Khalifah Ahmadiyah, Mahmud Ahmad, juga membuat pernyataan yang meletakkan derajat hadits Rasulullah saw di bawah kata-kata Mirza Ghulam Ahmad:
”Semua ungkapan Ghulam Ahmad dapat dipertanggungjawabkan bisa dijadikan dasar. Sesungguhnya hadits-hadits itu tidak kita dengar langsung dari lisan Rasulullah, sedangkan ungkapan Ghulam kita mendengarnya dari mulutnya secara langsung. Karena itu tidak mungkin sebuah hadits shahih akan bertentangan dengan apa-apa yang diungkapkan oleh Ghulam Ahmad.” (Surat Kabar al-Fadhl, 29 April 1915).
Sudah bukan rahasia lagi, Ghulam Ahmad juga berulangkali menyatakan secara terbuka kesetiaannya kepada penjajah Inggris dan menggiring umat Islam untuk mengikuti jejaknya. Dia berkata:
”Kuhabiskan mayoritas masa hidupku untuk memberikan dukungan kepada pemerintah Britania dengan menentang ajaran jihad. Aku masih terus berupaya demikian itu hingga kaum Muslimin menjadi setia dengan ikhlas kepada pemerintah ini.”
Inilah sosok dan ucapan-ucapan Mirza Ghulam Ahmad, nabi kaum Ahmadiyah, sebagaimana dihimpun oleh penulis terkenal, Dr. Ihsan Ilahi Zhahir. Dengan itu kita bisa membayangkan, sosok seperti apakah Mirza Ghulam Ahmad ini?! Dengan ini pula kita paham, mengapa kaum liberal di Indonesia dan berbagai kekuatan kebatilan lainnya begitu gigih membela Ahmadiyah dan habis-habisan menyerang Islam.
Dalam Surat Edaran Jemaat Ahmadiyah Indonesia tanggal 25 Ihsan 1362/25 Juni 1983 M, No. 583/DP83, perihal Petunjuk-petunjuk Huzur tentang Tabligh dan Tarbiyah Jama’ah, dinyatakan:
“Harus dicari pendekatan langsung dalam pertablighan. Hendaknya diberitahukan dengan tegas dan jelas bahwa sekarang dunia tidak dapat selamat tanpa menerima Ahmadiyah. Dunia akan terpaksa menerima Pimpinan Ahmadiyah. Tanpa Ahmadiyah dunia akan dihimpit oleh musibah dan kesusahan dan jika tidak mau juga menerima Ahmadiyah, tentu akan mengalami kehancuran.”
Apa pun bukti-bukti kita sodorkan, faktanya pemerintahan Presiden SBY tetap eggan bersikap tegas terhadap Ahmadiyah. Rapat Bakorpakem di Kejagung, 15 Januari 2008, malah meluluskan 12 butir pernyataan Jemaat Ahmadiyah Indonesia yang sama sekali tidak menolak kenabian Mirza Ghulam Ahmad dan memuat sejumlah kebohongan. Anehnya, kebohongan itu justru “diketahui” oleh sejumlah profesor terkenal yang pintar-pintar dan piawai bicara tentang Islam.
Kita yakin, semua ini adalah ujian dari Allah SWT. Kita tidak perlu risau. Barangkali ini isyarat dari Allah agar kita lebih giat dan lebih profesional lagi dalam berdakwah. Kita yakin, banyak umat Islam sendiri – bahkan mungkin juga para pejabat — yang masih belum paham apa itu Ahmadiyah dan siapa sebenarnya Mirza Ghulam Ahmad. Maka, ke depan, kita harus memberikan penjelasan secara maksimal tentang hal ini.
Yang jelas, kaum Muslim di mana pun, pasti tidak akan rela Nabi Muhammad saw dilecehkan; sahabat-sahabatnya direndahkan martabatnya; dan Al-Quran diacak-acak. Umat Islam tentu berhak membela aqidahnya dari serangan kaum Ahmadiyah dan para pendukungnya. [Depok, 18 Januari 2008/ www.hidayatullah.com]
Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian Husaini merupakan hasil kerjasama antara Radio Dakta 107 FM dan www.hidayatullah.com
Diambil secara utuh dari www.hidayatullah.com edisi Sabtu, 19 Januari 2008.
