Category Archives: Curahan Qalbu

Tanpa Pamrih


kubantu teman

Hari ini saya belajar dari murid saya yang satu ini. Ia tanpa pamrih membantu temannya menalikan sepatu. Ia begitu sigap begitu melihat temannya kesulitan menalikan sepatu. “Nak, semoga kelak engkau jadi orang dermawan yang hanya selalu mengharapkan ridha Allah SWT, aamiin..” 🙂

Orang Dewasa Tidak Adil!


Hari ini saya menegur beberapa murid saya yang melanggar aturan sekolah, yaitu harus memakai sandal atau sepatu ketika bermain atau berada di area play ground. Tak seperti biasanya. Ketika saya minta mereka untuk membaca istighfar karena pelanggaran tersebut, ada salah satu murid saya yang berkaca-kaca, lalu menangis menyendiri. Tiba-tiba ia mendatangi saya dengan muka marah, matanya  memerah, mengeluarkan air mata, tangannya mengepal di samping badan, lalu berkata dengan nada tinggi, “Orang dewasa tidak adil! Mengapa orang dewasa selalu menghukum anak-anak yang melanggar aturan, sementara kalau orang dewasa yang melanggar aturan, mereka tidak diberi hukuman yang sama?!” Saya pun terdiam, kaget mendengar kata-kata tajam meluncur dari murid saya yang satu ini. Ia selama ini saya kenal sebagai anak yang cute, ceria, dan lucu, ternyata bisa semarah ini dan mengeluarkan kalimat yang sangat menohok. Lalu murid saya itu saya ajak ngobrol dan berakhir dengan kesepakatan bahwa orang dewasa yang ada di sekolah juga harus saya minta istighfar ketika melanggar aturan tidak memakai alas kaki di area play ground.

Setelah saya renungkan, ada benarnya juga kata-kata murid saya itu.. kadangkala kita sebagai orang dewasa menuntut anak disiplin, sementara diri kita sering membuat permakluman atas kesalahan yang kita perbuat. Padahal, perbuatan kita menjadi contoh bagi anak-anak dan murid-murid kita. Astaghfirullaah.. Terima kasih muridku, kau telah memberikan secercah cahaya untuk evaluasi diri gurumu yang banyak berbuat salah ini. Semoga kelak engkau menjadi pelita bagi kegelapan di manapun engkau berada, aamiin..

 

Sudah Bukan Manusia


Akhir-akhir ini kita dipertontonkan oleh penguasa-penguasa dzalim di berbagai belahan bumi, begitu banyak perilaku manusia yang lebih rendah daripada perilaku binatang. Palestina, Rohingnya, Suriah, Mesir bersimbah darah. Para penguasa yang sudah bukan manusia itu menghalalkan berbagai cara untuk terus melanggengkan kekuasaannya. Sepertinya kemanusiaan telah lenyap dari otak dan hati mereka, atau jangan-jangan para penguasa yang super duper dzalim itu sudah tidak punya otak dan hati nurani, yang mereka miliki hanya ambisi, ambisi, dan ambisi. Barangkali iblis dan anak keturunannya sudah berhenti membisiki mereka karena perilaku mereka ternyata lebih parah daripada perilaku iblis dan anak turunnya.

Wanita, anak-anak, orang tua yang tak berdosa menjadi tumbal ketamakan para penguasa dzalim itu. Seolah para penguasa dzalim tak percaya akan adanya siksa neraka. Atau jangan-jangan mereka tidak tahu kalau neraka itu memang ada? Parahnya, para aktivis HAM dan aktivis demokrasi yang selama ini berkoar-koar meneriakkan penegakan HAM dan demokrasi bermuka dua. Mereka seolah lenyap ditelan bumi, lalu sesekali muncul dengan pernyataan-pernyataan yang seolah-olah manis tapi sebenarnya hanya mengamini berbagai kedzaliman yang terjadi.

Negara yang hobby mengaku-aku sebagai polisi dunia tak bisa berbuat banyak untuk memperbaiki keadaan, yang ada justru memperkeruh keadaan dan membenarkan perbuatan para penguasa dzalim itu. Negara-negara yang hobby mengaku-aku dirinya sebagai negara maju pun berlomba-lomba membuat pernyataan menyesatkan. Sungguh ironi menjelang kiamat.

Berbagai media pro kedzaliman seenaknya sendiri memutarbalikkan fakta demi memuaskan ambisi para majikannya. Mereka tutup rapat mata dan hati nurani mereka dari kebenaran yang hakiki. Media pro kedzaliman berjuang untuk uang. Meraup sebesar-sebar fulus dari para majikannya, dari para sponsornya. Semoga pula Allah berkenan membuka pintu hidayah untuk mereka, kembali pada kebenaran.. Namun bila ternyata pintu hidayah itu tertutup bagi mereka, semoga Allah melaknat para wartawan gadungan dan penjahat media yang selalu menyebarkan berita dusta kepada penduduk bumi itu..

Selain ribuan, ratusan ribu, jutaan korban jiwa, jatuh pula korban pemikiran. Tak sedikit orang yang percaya berita yang disiarkan oleh media pro kedzaliman itu sehingga mereka turut membenarkan perbuatan para penjahat perang dan penguasa dzalim itu. dampak awalnya mereka menjadi acuh tak acuh dengan jatuhnya jutaan korban jiwa yang diakibatkan oleh para penguasa dzalim itu. Lambat laun para korban pemikiran itu hatinya membatu, matanya buta dari kebenaran, akhirnya kemanusiaan tak ada harganya lagi. Semoga Allah menyembuhkan para korban pemikiran sehingga mereka bisa melihat serta berpikir dengan jernih tentang apa yang terjadi sesungguhnya, aamiin..

Saya yakin, di balik kejadian yang memilukan dan menguras air mata akhir-akhir ini terdapat banyak hikmah yang dapat kita teguk:

  1. Setiap kedzaliman sekecil apapun pasti akan mendapatkan balasan yang setimpal dari Allah SWT. Allah tidak akan mendzalimi hamba-Nya, jadi siapapun yang telah berbuat dzalim harus siap menerima akibatnya. Mau tidak mau, suka tidak suka, diminta tidak diminta, balasan itu pasti datang. Allah Maha Adil..
  2. Mungkin ini adalah bagian dari cara Allah SWT mematikan orang-orang mukmin sebelum kiamat tiba sehingga saat kiamat tiba tersisalah hanya orang-orang kafir dan munafiq.
  3. Allah menguji sejernih apa perasaan kita? Sejauh mana kepeduliaan kita pada kemanusiaan? Ketika kedzaliman terjadi, bagaimana sikap kita? Tak mau tahu? Acuh tak acuh? Berempati dan peduli? Turut prihatin dan berusaha berbuat sesuatu untuk membantu? Turut mendo’akan dengan setulus hati? Atau justru mendukung perbuatan dzalim para penguasa dzalim itu? Na’udzubillaahi min dzaalik..
  4. Suatu saat nanti, kebenaran akan nampak jelas. Allah SWT akan menampakkan siapa yang benar, siapa yang salah. Jadi kita tak usah khawatir soal yang satu ini karena Allah adalah seadil-adilnya hakim, dan sebaik-baik pembalas tipu daya. Akan tiba saatnya kelak, kebenaran atau kesalahan sangat nampak nyata.
  5. Allah SWT membuka lebar pintu taubat bagi setiap hamba-Nya sebelum ajal menjemput. Namun bila sampai akhir hayat kesempatan taubat tak digunakan, biarlah Allah memberikan keputusan-Nya.

Pertanyaannya, jika seseorang berbuat keji melampaui batas perikemanusiaan namun ia justru menganggapnya sebagai kebenaran, apakah ia masih layak disebut manusia? Menurut saya, ia sudah bukan manusia, ia lebih rendah dari binatang. Bagaimana menurut Anda?

aku malu


aku malu pada kata ‘maaf’
aku malu pada kata ‘belum’
aku malu pada kata ‘lupa’

terlalu banyak kusebut mereka
untuk menutupi kesalahan
yang aku perbuat

Continue reading

Bercermin pada Anak-anak


ImageMenjadi educator (pendidik) di sekolah dasar bak bercermin pada sebuah cermin besar yang jernih. Perilaku, tutur kata, sikap, dan tingkah laku kita diawasi secara detail oleh para murid. Mereka begitu cermat dan detail dalam mengamati dan begitu berani dalam mengingatkan. Tak ada ewuh pekewuh, kalau salah dibilang salah, kalau benar dibilang benar. Sungguh anugerah besar nan indah bisa berinteraksi dengan anak-anak. Kesabaran kita diuji oleh ALlah melalui mereka. Sejauh mana kita mampu bersabar dalam menghadapi tingkah polah mereka yang tak terduga. Apakah kita tetap sabar atau menyerah pada keadaan? Ya, kinilah saatnya untuk muhasabah diri setiap hari.. BismiLlaah 🙂 Semoga ALlah meridhai..

Akankah Ini Jadi Ramadhan Terakhirku?


Sobat, pernahkah engkau berpikir, bahwa engkau tak akan bertemu esok hari? Lalu berhitung tentang kebaikan apa yang sudah kita lakukan selama hidup di dunia ini? Dan berapa banyak dosa yang telah kita perbuat detik demi detik? Apakah sebagai anak, kita sudah membahagiakan orang tua? Ataukah justru sebaliknya? Berapa banyak kenikmatan yang Allah berikan namun belum kita syukuri? Berapa banyak keinginan yang tidak kita butuhkan? Berapa banyak kita mengeluh? Ah, ternyata belum banyak yang kita (lebih tepatnya, saya) perbuat.. Continue reading

Salah Kamar Berbuah Penarikan


Sobat pembaca setia ‘catatan peradaban’ sekalian, berikut ini saya bagikan tulisan Mas Agus M. Irkham mengenai klarifikasi pemberitaan penarikan buku bacaan (karya sahabat saya, Mbak Jazimah Al Muhyi) yang dituduh porno oleh sebagian kalangan (yang tak mengerti duduk persoalannya). Selamat membaca, semoga kejadian ini bisa menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi kita semua, Aamiin..

***

“Meskipun tema buku yang ia tulis beragam, semuanya memiliki semangat untuk perbaikan (dakwah)”

KABAR pustaka kembali menampakkan sisi antagonis. Setelah beberapa waktu lalu ada temuan frasa ’’istri simpanan’’ pada buku lembar kerja siswa (LKS) kelas 2 sekolah dasar di Jakarta, kini mengemuka temuan buku bacaan pengayaan di perpustakaan SD di Kabupaten Kebumen yang isinya disyakwasangkakan menjurus porno. Buku itu yakni Ada Duka di Wibeng, Tambelo Kembalinya Si Burung Camar, dan Tidak Hilang Sebuah Nama.

Dari tiga judul itu, pertama disangkakan paling menjurus ke pornografi. Indikasinya ada dialog tentang trik berhubungan seks yang aman agar tidak hamil dan menceritakan cara KB kalender. Adalah Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Dinpora) Kabupaten Kebumen yang kemudian memutuskan menarik tiga buku terbitan PT Era Adi Citra Intermedia Solo itu dari perpustakaan 136 SD di kabupaten itu. (SM, 01-02/06/12). Continue reading

Jangan Berlebihan


Hasil diskusi kecil semalam di kediaman Mbah Tris kusimpulkan bahwa jangan berlebihan dalam segala hal. Berlebihan makan membuat pencernaan kita terganggu, bahkan bisa menyebabkan obesitas yang berdampak pada percepatan kematian. Kelebihan tidur dapat menyebabkan penurunan kinerja otak. Bahkan menurut penelitian yang pernah dilakukan, juga dapat mempercepat Continue reading

Selamat Jalan Mbah Tris..


Pagi ini saya dikejutkan oleh sebuah berita lelayu dari salah seorang anggota keluarga besar saya. Ya, Mbah Tris kakung yang rumahnya bersebelahan dusun dengan dusun saya telah berpulang ke RahmatuLlah tadi pagi pukul 02.50 WIB dini hari.

Masih lekat dalam ingatan beberapa bulan yang lalu, saya beserta adik-adik saya dan adik-adik sepupu saya mengadakan jaulah di bulan Syawal. Jaulah kali ini agak berbeda dengan jaulah-jaulah sebelumnya. Kalau  tahun-tahun sebelumnya kami berkunjung bersama keluarga masing-masing, namun Continue reading